
"Nona, ada pergerakan di sektor B!" sahut Joe memberitahu.
"Kita ke sana!" ujar gadis itu.
Mereka menaiki mobil dengan kecepatan tinggi. Sebuah pergolakan terjadi. Para ketua klan berebut bagi hasil penjualan beberapa pesawat tempur. Ketika Alexa sampai sana, sudah terjadi pertumpahan darah. Mayat-mayat bergelimpangan. Bunyi rentetan senjata kembali terdengar di antara celah-celah dan puing-puing bangunan. Mereka masih saling menembaki satu dengan lainnya.
Alexa bersembunyi di sebuah bangunan. Desingan peluru begitu memekakkan telinga. Alexa menyiapkan senjatanya. Gadis itu membidik lalu menarik pelatuk.
Blubub ... blubub ... blubub ...
Bola-bola sabun keluar dari pucuk senjata gadis itu. Ia membelalakkan mata, ia lupa jika senjata sungguhan ada di pinggang sebelah kiri.
"Nona!" Joe terkejut bukan main.
Alexa membuang senjata itu dengan sangat kesal. Gara-gara mainan itu ia jadi tertawaan anak buahnya yang kini hanya menunduk menahan tawa.
Alexa kembali mengambil senjata sungguhan. Ia mulai membidik, lalu satu persatu para perusuh. Hanya butuh waktu satu jam, semua perusuh mati di tangan gadis itu. Sebuah senyum sinis dan begitu arogan.
"Kalian memang benar-benar menyusahkan!' ujarnya.
Tiba-tiba, salah satu perusuh yang masih hidup menodongkan senjata di kepala Alexa. Semua terdiam. Pria itu menyeringai.
"Akhirnya tuan putri akan mati di tanganku!" ujarnya.
Alexa tadinya begitu terkejut. Namun, sejurus kemudian ia pun sadar lalu gadis itu tersenyum sinis. Pria itu menekan pelatuk.
Blubub ... blubub ... blubub ...
Bukan suara letusan tapi gelembung sabun keluar dari pucuk senjata itu. Pria itu sangat terkejut, ia tak menyangka jika yang dia ambil adalah senjata mainan, melihat itu semua pengawal Alexa tak bisa menahan tawa. Semuanya tertawa terbahak-bahak. Pria itu malu sekali. Alexa kini menodongkan senjata di kepala pria itu.
"Nona ... maafkan aku ... aku bersedia menjadi alas kakimu, asal kau mengampuni nyawaku!" pintanya memohon.
Alexa hanya menaikan alisnya sebelah. Gadis itu masih menodongkan senjatanya.
"Aku juga punya rahasia besar, Klan DragonStar memiliki sebuah misi yang ...."
Dor! Satu letusan senjata merobohkan pria itu. Semua berteriak kesal. Padahal sedikit lagi mereka mengetahui sebuah rahasia dari musuh klan mereka.
"Nona!" teriak mereka kecewa.
"Apa kalian percaya dengan mulut pengkhianat?" tanya gadis itu.
Semua terdiam. Alexa berjalan menuju mobilnya. Joe mengikuti gadis itu dan melajukan mobilnya.
"Sudah dua sektor bermasalah. Aku yakin, besok para polisi akan datang ke markas untuk mengorek keterangan," ujar Alexa.
"Benar Nona!" sahut Joe.
"Bersihkan diri dan buang semua pada klan BlueBlood!" titah gadis itu.
"Baik, Nona!" sahut Joe.
Pria itu hanya perlu menekan satu tombol dan semuanya mengerti apa tugas mereka.
Ketika sampai mansion. Kamar anak-anak sudah jadi. Mereka begitu senang. Alexa juga sangat senang.
"Aku mau buatkan pintu di sini untuk menghubung taman bermain!" pinta gadis itu.
"Uncle, minta pendekor untuk membuat taman bermain yang aman untuk ketiga adikku!" pintanya.
"Baik, Nona!" sahut Joe.
Alexa ke kamarnya untuk membersihkan diri. Waktunya makan kudapan. Ketiga anak sudah ada di kursi khusus mereka.
"Nona, pekerja semua sudah diperiksa, mereka sebentar lagi akan membongkar dinding kamar dan membuat pintu," jelas Joe.
Alexa mengangguk. Gadis itu pun mulai memikirkan pendidikan yang layak untuk ke tiga adiknya.
"Berikan aku buku dan pulpen!' teriaknya.
Maid tergopoh-gopoh memberi benda yang diinginkan gadis itu.
Alexa duduk di karpet tebal lalu menulis di atas meja pendek. Gadis itu sudah merancang apa yang harus dia lakukan untuk kelangsungan hidup ketiga adiknya.
"Pendidikan. Apa dia harus masuk pre school ya?" tanyanya pada diri sendiri.
bersambung.
next?