
Pikiran mesum Elena terbaca oleh Margarita. Wanita cantik itu tertawa merendahkan seorang pendidik.
"Menjijikan!" umpatnya kasar.
Elena terkejut mendengar umpatan Margarita. Ia langsung menunduk dengan wajah pucat karena Margarita melayangkan tatapan membunuh. Sedang Brandon juga menatap kepala sekolah itu dengan pandangan jijik.
"Kukira titel seorang pendidik mampu menjauhkan diri dari pikiran kotor!" sindir pria tampan itu sarkas.
Elena malu bukan main. Ia benar-benar seperti ditelanjangi. Alexa dan Harry serta tiga anak kembar, diajak salah satu guru untuk melihat-lihat.
Joe masih setia berdiri di sisi tuannya. Pria itu mendapat laporan data tentang semua pendidik yang mengajar juga para karyawan.
"Tuan, semua data pengajar dan karyawan tidak ada yang bermasalah," lapornya.
"Tidak ada catatan kriminal, bahkan sekolah ini beberapa bulan lalu mengirimkan murid-murid berprestasi untuk bertanding di segala event pendidikan!" lanjutnya.
"Tapi kenapa pikiran mereka tak sesuai?" tanya Margarita masih menyindir.
Elena memang tak dapat menghentikan pikiran mesumnya tadi. Ia bahkan nyaris ******* jika saja istri dari pria tampan yang menjadi objek pikiran mesumnya memergoki.
"Beruntung saya belum menjadi dewan wali murid di sini!" sungut Margarita kesal bukan main.
"Mungkin sebaiknya dia berpikir untuk mengundurkan diri sekarang!" tukas Brandon enteng.
Beberapa guru yang memiliki pikiran sama dengan kepala sekolah tampak shock.
"Urus sisanya Joe!' titah Brandon.
Joe membungkuk hormat. Brandon lalu membawa istrinya keluar ruangan itu dan menyusul keempat anak dan satu menantunya.
Tampak ketiga anak kembar berlari menuju kedua orang tuanya. Dari raut wajahnya tampak mereka bahagia dan ingin sekali bersekolah di sini.
"Daddy di sini ada kelas komputernya. Bahkan kami bisa masuk kelas itu jika sudah menguasai walau belum kelas empat!" seru Axel memberitahu.
"Di sini juga banyak kelas seni dan praktek sains!" kini Ariana yang antusias memberi laporan.
"Olahraganya juga lengkap!" Aaron memberitahu.
"Jadi kalian mau sekolah di sini?" tanya Brandon.
Ketiganya mengangguk kuat bahkan sampai melompat-lompat. Brandon menatap guru pria berusia sekitar empat puluhan. Ia membuka ponsel, semua data guru ada di ponsel itu.
"Siapa namamu, Tuan?" tanya Brandon sopan.
"Nama saya Reno Hiels," jawab pria itu tak kalah sopan.
Brandon langsung mendapat data tentang guru itu. Bekerja selama lima belas tahun di sekolah ini. Pria itu mestinya sudah diangkat sebagai kepala sekolah.
"Bagaimana Alexa. Apa kau setuju jika ketiga adikmu sekolah di sini?" tanya sang ayah.
"Bahkan sekolah ini juga sudah mendapat sampel papan pintar sebagai program didik di dalamnya," lanjut gadis itu.
Brandon mengangguk. Ia mengirim pesan pada Joe untuk mendaftarkan ketiga anak kembarnya sekolah di tempat ini.
Usai mendaftar mereka semua pun naik mobil.
"Bagaimana jika saya traktir makan di restauran milik saya?" ajak Harry.
"Boleh Harry!" jawab Brandon langsung.
Kendaraan itu pun meluncur ke sebuah gedung mewah di jantung kota. Hanya butuh sepuluh menit mereka sampai di restauran.
"Selamat datang Tuan!" sambut salah satu karyawan hotel.
Harry telah memesan ruang privat ekslusif. Brandon dan Margarita menatap takjub kemewahan design restauran itu. Sangat berkelas tapi memiliki konsep kekeluargaan.
"Wah ... indah sekali!" pekik Alexa tertahan.
Mereka dibawa ke sebuah ruangan terbuka dengan taman bunga juga mainan anak. Seperti perosotan, ayunan dan jungkat-jungkit.
"Segar sekali udaranya!"
Brandon menghirup rakus oksigen yang sangat segar. Walau sudah sedikit terik tapi angin yang bertiup sangat menenangkan terlebih banyaknya pohon rimbun.
"Ayo duduk!" ajak Harry lagi.
Semua duduk anak-anak di dudukan di kursi yang tingginya pas dengan dudukan orang dewasa. Semua memegang menu. Harry juga mengajak semua pengawal yang ikut untuk memesan makanan.
Usai memesan, semuanya terlibat obrolan seru. Terlebih tiga kembar.
"Aku tak sabar untuk segera masuk sekolah!' seru Axel antusias.
'Aku juga!" sahut Aaron dan Ariana bersamaan.
Makanan datang. Semua diam menikmati hidangan. Brandon melarang keras pada semua anaknya tidak berbicara ketika makan. Bahkan ponsel harus dijauhkan dari tangan mereka.
Usai makan Joe mendatangi Brandon lalu berbisik.
"Apa kau yakin?" tanya Brandon.
"Benar Tuan!" jawab Joe.
"Kita pulang!' ajak Brandon.
Semua menurut. Harry kembali menyetir. Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai mansion mewah milik Pierce.
bersambung