
Dua tahun sudah, pencarian ayah dan ibunya. Tetapi mereka seperti hilang ditelan bumi. Para rescue dan pemerintah angkat tangan dua bulan pencarian. Tak ada tanda-tanda puing atau sesuatu yang menunjukkan keberadaan tuan dan nyonya Pierce.
Alexa seperti patung yang tanpa jiwa. Kekejamannya makin menjadi. Tak ada ampun bagi siapapun yang mengkhianati.
Semua pasar ilegal ia kuasai dan monopoli. Tak ada klan yang mampu membenamkan kekuatan gadis yang kini berusia tujuh belas tahun.
Joe selalu setia di sisinya. Perusahaannya berkembang pesat. Gadis itu meluaskan perusahaan legalnya. Perlahan, ia menutup satu persatu perusahaan ilegalnya.
Perjualan manusia ia ganti menjadi perekrutan pekerja yang dikirim ke berbagai negara. Obat-obatan terlarang, ia ubah menjadi perusahaan farmasi. Jual beli senjata, ia ubah menjadi perusahaan perakitan senjata untuk ketahanan negara. Dunia mafia masih ia geluti.
Tubuh rata Alexa berubah total, setelah ia mendapat menstruasi pertamanya. Buah dadanya makin tumbuh dan padat, bokongnya penuh, pinggangnya ramping, tubuhnya pun mulai tinggi. Kini sudah mencapai 175cm dengan bobot 65kg. Iris Amber miliknya benar-benar menghipnotis semua orang yang memandangnya.
"Selamat ulang tahun, Nona," sahut para maid kompak.
Mereka tersenyum dan membawa kue ulang tahun berukuran sedang, dengan lapisan coklat. Gadis itu penggila coklat. Alexa tersenyum lebar. Selama dua tahun ini para maid begitu menyayanginya. Ia bisa merajuk manja pada semuanya. Jika ia berbuat nakal, hanya Joe yang berani memarahi dan menghukumnya.
"Make a wish princess," ujar Joe ketika membawa kue itu dihadapan Alexa.
Alexa menutup mata, lalu berdoa, kemudian ia meniup lilinnya. Semua bertepuk tangan. Gadis itu mencuil kuenya, lalu menorehkannya di wajah Joe.
Alexa tertawa melihatnya. Ia juga melakukan itu pada semua maid. Hanya Joe yang berani membalas apa yang diperbuat gadis itu.
Alexa mengerucutkan bibirnya kesal. Joe terkekeh.
"Makanya jangan usil," ujarnya memperingatkan.
Alexa melamun. Ada yang kurang di ulang tahunnya sekarang. Tak ada ciuman dari ayah dan ibunya. Ia merindukan keduanya.
Melihat wajah sedih adik angkatnya membuat Joe merasa bersalah. Ia memeluk Alexa erat.
"Maaf, bukan maksud Uncle ...."
"Aku merindukan mereka Uncle!" potong gadis itu dengan suara serak menahan tangis.
Semua maid menunduk. Mereka juga sedih kehilangan majikannya yang baik hati itu.
Joe memerintahkan semua untuk kembali bekerja. Pria itu membawa sang gadis ke kamarnya.
"Sudah sayang. Jangan sedih seperti ini. Uncle jadi merasa bersalah, karena belum bisa menepati janji," ujar Joe lalu mengusap wajah basah itu dengan tangannya.
Alexa tersenyum. Ia mengangguk. Ada batasan manusia yakni takdir dari Tuhan. Gadis itu belajar sesuatu. Joe mengecup kening Alexa. Sang gadis memejamkan matanya. Memeluk erat pria yang selalu bersamanya. Semenjak ia mencium pria itu ketika berusia tiga belas tahun. Gadis itu kini mulai terbiasa dengan ciuman pria itu.
"Uncle," panggilnya manja.
"Iya sayang," sahut Joe.
Kedua mata saling menatap. Bibir keduanya pun saling bertaut. Inilah maksud sang gadis, ia sudah terbiasa dengan pagutan dari Joe.
Tok ... tok ... tok!
Keduanya melepas pagutan.
"Nona, ada tamu yang mencarimu!' sahut pelayan dari luar pintu.
"Aku akan ke sana!" ujar Alexa.
Keduanya kembali berciuman. Lalu, Alexa mengajak Joe menemui tamunya. Mereka berjalan saling menautkan bibir. Lalu menyudahi ketika mereka sudah berada di lantai satu.
"Siapa yang mau menemuiku?" tanya gadis itu.
"Saya!" ujar seorang perempuan tua dengan balutan sederhana.
Mata Alexa membulat. Ia menatap tiga anak kembar yang begitu mirip dengan ....
"Ini adalah tiga adik kembarnya. Ayah dan ibumu menitipkannya ketika mereka terlahir," jelas wanita itu.
"A-apa?"
Alexa tak percaya. Perempuan tua itu menyerahkan sepucuk surat yang masih rapi.
"Aku menyerahkan mereka. Selamat tinggal!"
"Bye ... blenma!" ujar ketiganya kompak.
Joe terbengong. Ia tersadar setelah perempuan itu sudah menghilang dari pandangannya. Pria itu bergegas mengejar wanita itu. Sayang, perempuan itu sudah pergi. Padahal halaman mansion sangat luas. Mobil itu bisa dihadang oleh penjaga. Tetapi, kendaraan itu bisa lolos begitu saja.
"Ada apa ini? Kenapa ada yang aneh?' tanya pria itu kebingungan.
"Uncle!" teriak Alexa.
Pria itu kembali masuk. Gadis itu menangis dengan kertas yang ada di genggamannya.
Pria itu mendekatinya. Lalu mengambil kertas yang ada di tangan gadis itu. Ia membola. Joe sangat mengenali tulisan tangan Kakak angkatnya itu.
"Nona ... ini ...."
"Bistel ... tami papal," ujar salah satu bayi itu dengan berani.
Alexa dan Joe tak mengerti perkataan mereka.
"Papal!" ujar satunya lagi sambil mengelus perut buncitnya.
Dua laki-laki dan satu perempuan. Ketiganya mirip dengan netra sama dengan Alexa, pipi bulat kemerahan, rambut keriting pirang. Membuat gemas siapa pun yang melihatnya.
"Mana yang namanya Axel?" tanya Alexa.
Seorang bayi berusia dua puluh bulan itu maju.
"Putan pamu Axel, papi imi!" tunjuknya pada saudara di sebelahnya.
Bayi itu menoleh. Lalu ia mengangguk membenarkan. Joe begitu gemas dengan tiga bayi mirip itu. Untuk pertama kalinya ia langsung jatuh hati pada anak bayi, padahal pria itu tak pernah berinteraksi dengan bayi.
"Kalian mau mengerjaiku?' tanya Alexa gemas.
"Pidad!" sahut ketiganya menggeleng.
Alexa melihat kalung bertuliskan nama ketiganya. Kini ia tahu mana Axel, Aron dan Ariana.
"Bistel ... pami papal!" rengek mereka.
Alexa membawa ketiganya. Semua maid begitu kesenangan dengan kedatangan tiga bayi itu.
"Puap!" titah Axel.
"Oh, kau minta suap, Baby?" Axel mengangguk antusias.
Maid itu dengan senang hati menyuapi bayi tampan itu. Kedua saudaranya juga mau disuapi seperti Axel.
Usai makan, mereka minta susu. Alexa kebingungan. Di mansion tak ada susu untuk seusia mereka.
"Kalian pergilah ke mini market terdekat dan beli beberapa kotak susu," titah Joe.
Salah satu maid pergi membeli susu. Para bayi di alihkan memakan buah-buahan. Napsu makan besar terlihat dari bentuk tubuh ketiganya yang montok.
"Waktu bayi, dulu. Nona sudah menjaga tubuh Nona," ujar Joe.
Alexa hanya tersenyum mendengarnya. Tak lama susu tersedia. Pada bayi meminta tidur.
"Bawa mereka di ruang tamu. Kita akan pikirkan nanti ke depannya," ujar Joe.
Para pelayan menggendong bayi-bayi menggemaskan itu ke kamar tamu. Alexa memandangi Joe.
"Kita jadi ayah dan ibu?" tanya gadis itu polos.
Joe tersenyum lebar. Ia mengangguk. Lalu dengan rakus mencium bibir adik angkatnya. Keduanya saling adu indera perasa. Bertukar saliva. Hingga napas keduanya nyaris habis, baru lah mereka menghentikan aksi panas itu.
"Apa kita perlu tes DNA pada tiga anak itu?" tanya Alexa.
"Apa perlu. Ketiganya mirip dengan dirimu juga ayahmu," jawab Joe tak menyangsikan ketiganya adalah satu turunan Pierce.
"Aku akan melihat ketiganya," ujar Alexa melangkah kakinya ke kamar.
Joe mengikuti gadis itu. Para maid tengah menemani para bayi dengan menepuk-nepuk paha montok para bayi yang sudah habis botol susunya.
"Mereka sudah tidur?" ketiga main itu perlahan bangkit.
"Sudah, Nona," ujarnya.
"Keluarlah, biar aku yang kini menjaganya," titah Alexa.
Ketiga maid itu keluar. Alexa merebahkan dirinya. Joe ikut merebahkan diri tetapi di atas gadis itu.
"Uncle!" tegur sang gadis.
"Ah, maaf Nona," kekeh Joe.
bersambung.
next?