
Aaron, Ariana dan Axel tengah duduk bertiga dan menikmati bekal mereka. Alexa sang kakak tak menunggui mereka. Ketiganya hanya diantar dan akan dijemput ketika pulang.
"Sebentar lagi liburan, lalu kita akan masuk primary school," ujar Axel mengawali percakapan.
"Apa kalian sudah merencanakan liburan mau ke mana?" tanyanya kemudian.
Ariana dan Aaron menggeleng tanda mereka tak memiliki rencana sama sekali.
"Aku ingin bermain puas dengan sister, karena sebentar lagi ia akan menikah," beber Ariana mengungkapkan keinginannya.
"Ah, iya. Sebentar lagi dia akan menikah. Aku ingin bermain saja sepuas hati dengan sister," ujar Aaron mengikuti saudaranya.
Axel pun mengangguk setuju. Ia juga akan bersama saudaranya menggangu kakak perempuannya.
"Kita usili dia, sampai menangis," saran Axel jahil.
"Ah, aku tak pernah mendapati Sister menangis. Tapi, seringnya ia marah-marah terus!" sahut Ariana memberitahu.
"Kakak kita jagoan. Masa jagoan nangis?" sela Aaron membela.
"Ah, iya. Malah Mommy yang sering menangis karena dimarahi oleh Sister," sahut Axel setuju.
Ariana juga mengangguk setuju. Dua orang anak memandang tiga bersaudara itu yang tengah makan. Salah satu anak mengambil tepung dalam plastik lalu melemparnya ke arah ketiga saudara kembar itu.
"Hahaha!"
Kedua bocah itu terbahak setelah melihat Aaron, Axel dan Ariana memutih karena ulahnya. Axel menatap makanannya yang belum habis sudah putih dipenuhi tepung. Ia geram bukan main.
Bocah berusia lima tahun itu mendatangi kedua anak yang seusianya lalu.
Bug! Bug! Satu pukulan bersarang di wajah kedua anak laki-laki usil itu masing-masing.
Keduanya menangis mendapat pukulan dari Axel.
"Kenapa kau memukulinya!" teriak salah satu guru.
Melihat kepala dan baju Axel yang memutih bersama tiga saudaranya. Guru itu langsung tau apa yang terjadi. Terlebih tangan kedua anak yang menangis juga memutih.
"Axel, temanmu kan hanya bermain dan bercanda," ujar guru itu menenangkan bocah yang menangis.
"Ini tidak lucu, Miss!" seru Ariana membela saudaranya.
"Makanan kami jadi tak bisa dimakan!" lanjutnya marah.
"Kan kalian tinggal membuangnya sayang," ujar guru itu masih membela dua anak yang jahil.
"Apa, membuang makanan?" tanya Aaron tak percaya. "Miss menyuruh kami membuang makanan?"
"Ya, kalian kan kaya. Tentu tak masalah jika kalian buang saja makanan itu bukan?" jelas guru itu santai.
"Miss menyuruh kami membuang makanan karena kami kaya? Apa Miss tak berpikir berapa lelah para maid yang memasak makanan untuk bekal kami?"
"Itu tugas mereka!" sela bocah yang sesungukkan..
Axel memukul lagi bocah itu sambil berteriak.
"Diam kau!"
"Sudah, kalian hanya mempermasalahkan hal kecil. Mereka hanya bercanda Axel!" bela guru itu lagi.
Ariana kesal. Ia mengambil plastik tepung yang tadi jatuh di kotak bekalnya. Lalu ia melempar pada gurunya itu.
"Ariana apa yang kamu lakukan!" bentaknya murka.
"Maaf Miss, kami tak sengaja, kami kan bercanda," ujar Ariana membalik perkataan gurunya.
"Ini kau sengaja! Kau dendam pada Miss karena membela teman kalian yang memang hanya bercanda!" teriak guru itu lagi.
"Dari mana Miss tau jika Dino dan Ryan itu hanya bercanda. Ia sengaja membawa satu plastik tepung dari rumah lalu melemparkannya pada kami! Mereka sudah merencanakannya!" sela Aaron menjelaskan kronologi.
Guru wanita itu tak bisa menjawab perkataan ketiga anak genius itu. Aaron, Axel dan Ariana memang terkenal karena kegeniusannya. Mereka baru lima tahun. Tapi pengetahuan mereka melebihi anak di atas delapan tahun.
"Kalian harus dihukum!" ujar guru itu marah.
"Dino dan Ryan juga dong," sahut Axel tak terima jika ia dan dua saudaranya saja yang dihukum.
"Loh, mereka tak bersalah, karena bukan mereka yang membuat kotor pakaian Miss!" sela guru cantik itu.
"Hukum saja mereka jika kau tidak ingin bernapas lagi detik ini!"
Sebuah suara berat terdengar. Guru wanita itu tercekat. Ia menoleh. Sosok tampan dengan wajah bengis menatapnya tajam.
Guru itu menelan saliva kasar. Bukan karena takut. Tapi, aura membunuh yang dikeluarkan Brandon membuat wanita itu malah terangsang. Ketampanan Brandon memang tak bisa ada yang menandingi. Walau ia memandang seperti ingin mencabik tubuh wanita yang menatapnya penuh napsu itu.
"Tuan Pierce," sambutnya dengan suara seksi.
Plak! Satu tamparan keras didapat oleh perempuan bergelar guru itu.
"Kurang ajar. Begini sikapmu sebagai guru!" teriak Margarita tak terima.
Guru bernama Claudia itu menangis di hadapan para guru dan kepala sekolah. Wanita itu dipecat secara tidak hormat karena berlaku tak adil.
"Ini hanya masalah kenakalan anak-anak. Sebaiknya Tuan dan Nyonya Pierce tak mempermasalahkan hal ini begitu dalam," ujar kepala sekolah menenangkan pria dengan tatapan membunuh itu.
"Apa perlu kau juga kupecat?" ancam pria itu.
"Ti ... tidak Tuan!" ujar kepala sekolah itu tergagap.
Wajah pucat dan tak bisa melakukan apapun. Claudia dipecat secara tak hormat. Dua anak tadi dipaksa pindah sekolah.
Tak ada yang membantah hukum yang diterapkan oleh pria paling berkuasa di kota itu. Bahkan presiden sekalipun.
Brandon menggendong ketiga anaknya. Ariana berada di atas pundak dan memeluk leher ayahnya agar tak terjatuh. Sedang Aaron dan Axel berada di tangan kanan dan kiri Pierce.
Sebuah senyum kebahagiaan terpancar dari ketiga bocah yang tak peduli akan apa yang terjadi.
Bersambung.
sungguh berbahaya jika mengganggu ketenangan tiga bocah kembar itu
next?