MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
PULANG



Sementara itu di sebuah pulau yang indah. Terdapat sebuah villa mewah, sepasang suami istri tampak menikmati suasana kemesraan mereka. Keduanya saling memagut bibir.


"Sayang," panggil sang istri dengan suara terengah-engah.


"Iya, sayang," sahut sang suami juga dengan napas memburu.


"Aku merindukan keempat anak kita, mereka baik-baik saja kan?" tanya sang istri dengan nada khawatir.


"Tentu sayang. Aku pastikan putri dan ketiga kembar kita baik-baik saja," jawab sang suami.


"Oh, sayang. Bibirmu membuatku candu. Aku tak keberatan jika kau hamil lagi sayang," ujar sang suami.


Pria itu membuat bengkak bibir wanitanya. Ia sangat mencintai istrinya. Hanya karena tak ingin diributkan dengan suara anak dan tugas. Pria itu sampai melarikan diri bersama sang istri.


"Aku ingin pulang, sayang," pinta wanita itu.


"Kita akan pulang, nanti," ujar sang pria lalu memberi tanda di leher putih istrinya.


Kegiatan mereka makin panas. Sang suami benar-benar mencumbu sang istri dan menyatukan dirinya.


Gerakan itu kadang cepat, kadang lambat. Hingga keduanya saling mencari kepuasan dan akhirnya melenguh nikmat. Sang suami ambruk di sisi istrinya.


"Sayang, ayo pulang!" rengek sang istri dengan napas terengah.


"Iya ... kita pulang ya," sahut sang suami dengan napas menderu.


Entah kenapa, ia kembali mencumbu istrinya dan melakukan penyatuan hingga kesekian kali, baru lah pria itu benar-benar lelah dan puas akan pelayanan sang istri.


Sementara di tempat lain. Alexa menatap foto kedua orang tuanya. Gadis itu sangat rindu pada ayah dan ibunya. Tiga tahun sudah ia lewati. Kini dua adiknya telah bersekolah di taman kanak-kanak. Ada tiga maid yang mengantar mereka dan sepuluh bodyguard yang menjaga. Kini usia gadis itu sudah menjelang dua puluh tahun.


"Dad, Mom, i Miss you," ujarnya lirih.


Beberapa pelayan mendekati dan mengusap bahu gadis itu. Alexa langsung memeluk salah satunya. Ia menangis. Ia benar-benar merindukan kedua orang tuanya.


"Mereka jahat Rosana, jahat meninggalkan ku sebegitu lama. Apa mereka tak sayang padaku?" tanya Alexa sedih.


Joe yang baru datang terdiam. Pria itu menghela napas panjang. Sudah enam tahun berlalu. Kakak angkatnya tak muncul walau ketika tiga tahun belakangan ia tahu jika kakaknya itu masih hidup bersama istrinya. Hanya saja dia tak tahu ada di mana.


"Nona," panggilnya.


"Uncle. Aku tak mau berurusan dengan apapun sekarang. Tolong. Besok adalah ulang tahunku yang ke dua puluh tahun," pinta Alexa sedih.


Joe diam. Ia hanya membungkuk hormat. Selama menemani anak dari kakaknya itu, ia meyakini jika Alexa begitu merindukan ayah dan ibunya.


"Kau keterlaluan Kak!" dumalnya dalam hati.


"Kami pulang!" sahut salah satu maid yang bersama ketiga adik Alexa.


Gadis itu menghapus air matanya. Lalu tersenyum lebar dan menyambut ketiga adiknya.


"Sister!" panggil ketiganya.


Mereka memeluk kakak perempuannya. Alexa menciumi wajah mereka satu persatu.


"Bagaimana apa sekolahnya asik?" tanya gadis itu.


"Iya, banyak teman, terus guru-guru nya cantik," jawab Axel.


"Kau genit sekali," sahut Alexa mencolek hidung balita tampan itu.


Axel tertawa. Ariana dan Aaron juga semangat menceritakan kegiatan sekolah mereka.


Sementara di mansion mewah seorang pria. Harry begitu merindukan Alexa. Pria yang beda usianya sembilan tahun dengan gadis itu tampak banyak menghela napas panjang. Hidup sendirian setelah kepergian kedua orang tuanya karena kecelakaan. Membuat Harry jadi pria penyendiri.


Pria itu ingin sekali melamar Alexa, tapi tak mungkin meminta sang gadis pada pria yang selama ini selalu bersamanya.


"Aku yakin jika Paman dan Bibi Pierce masih hidup!" ujar pria itu.


"Aku hanya sedikit bersabar saja. Baru aku datang melamarnya," ujarnya dengan senyum lebar.


Ia memang menjalin hubungan dengan gadis itu. Walau bukan sepasang kekasih. Harry masih menjaga batasannya. Padahal pria itu ingin menarik Alexa ke atas ranjangnya.


"Aku mencintaimu Alexandra!"


"Haachi!" Alexa bersin.


"God bless you!" sahut Joe.


"Thank Uncle!"


"Kau sakit?" tanya pria itu khawatir.


Alexa menggeleng. Tapi, ia memang berasa pusing. Para maid tengah mendekorasi ruangan. Besok, nonanya akan mengadakan pesta kecil dan hanya mereka yang menjadi tamu kehormatan di acara ulang tahun anak majikannya besok.


"Tuan, kembalilah. Nona makin lama makin kurus," keluh salah satu maid iba pada gadis itu.


Enam tahun bukan waktu yang sebentar. Alexa masih minta ditemani tidur oleh salah satu maid. Ia masih ingin dipeluk ketika tidur.


"Deana! Aku tak bisa tidur," keluh gadis itu suatu malam.


"Nona sakit?" tanya Deana.


"Aku merindukan mereka. Kenapa mereka berdua jahat sekali!" Alexa menangis.


Nyaris setiap malam, maid yang menemaninya tidur harus membangunkan gadis itu karena mimpi buruk.


"Aku yakin, sebentar lagi Tuan dan Nyonya akan pulang, Nona," sahut Deana.


"Aku akan memarahi mereka berdua jika pulang Deana!" ancam gadis itu.


"Jangan Nona. Nanti mereka akan pergi lagi," larang maid.


"Aku kesal!" rajuk gadis itu lalu kembali menangis.


Sementara di tempat lain. Tampak sepasang suami istri sudah bersiap dengan banyak koper dan barang-barang. Sebuah jet pribadi akan mengantar mereka pulang kembali. Setelah enam tahun berlari. Akhirnya kerinduan mereka memuncak.


"Apa anak-anakku mengenaliku sayang?" tanya sang istri.


Brandon mencium bibir istrinya. Ia juga sebenarnya takut dengan kemarahan anak-anaknya. Terutama Alexandra, putrinya.


"Kita pasrah saja, sayang. Lumrah jika mereka marah," ujar Brandon.


"Ah ... ini gara-gara kau dan bodohnya aku ikut karena memang terlalu lelah dengan semua kegiatanmu," cebik sang istri.


Mereka pun menaiki jet pribadi milik Brandon. butuh waktu delapan belas jam untuk sampai ke negara mereka.


"Kita langsung ke bandara pribadi!" titah pria itu pada pilotnya.


"Baik, Tuan!" sahut sang pilot.


"Aku yakin. Kedatanganku akan membuat heboh berita," terkanya.


bersambung.