
Alexa mendiami dua orang tuanya. Gadis itu benar-benar kesal. Brandon berkali-kali mengajak Alexa berbicara hanya disahuti seadanya.
"Alexa, Papa akan menghancurkan perusahaan Harry jika kau berlaku seperti ini!" ancam pria itu.
"Lakukan saja. Jika itu terjadi, aku benar-benar lari dengan Harry dan tak akan pernah melihat kalian lagi," ancam gadis itu.
Brak!
Brandon benar-benar murka mendengar ancaman Alexa, putrinya. Margarita sampai harus menenangkan suaminya.
"Jangan menyulut minyak dengan api. Itu akan mudah terbakar, sayang!" peringat wanita itu.
"Dia berani mengancamku!" teriak Brandon.
"Sayang!" panggil Margarita.
"Sudah cukup, Oke. Kau akan dimusuhi putrimu sendiri! Ingat, kita lah yang salah. Meninggalkannya selama enam tahun!" lanjutnya mengingatkan.
"Tapi, aku tak meninggalkannya sendirian. Aku tetap bersamanya walau tak kelihatan," tekan pria itu.
"Aku tau sayang. Tapi, Alexa tidak mau tau. Dia sudah katakan tak menginginkan semua ini bukan?"
Alexa masuk kamar dan menangis. Ia benar-benar marah pada ayahnya yang begitu memaksakan kehendak.
"Seenaknya pergi lalu datang seenaknya pula mengatur!" umpatnya kesal.
"Dia mau semuanya. Baiklah aku berikan. Tak dianggap anak juga tak masalah!" ujarnya kesal.
Ia membawa semua barang-barangnya. Alexa hendak pergi dari rumah itu.
"Nona, anda mau ke mana?" tanya Rosana.
"Aku mau pergi!" jawab Alexa.
"Mau pergi ke mana? Nona tak punya siapa-siapa di sini?" ujar Rosana mengingatkan.
"Aku minta jemput nenek. Aku yakin, nenek pasti akan menyayangiku!"
"Kemarin selama enam tahun, Nyonya besar tak pernah datang ke sini bahkan untuk menanyakan kabar," sahut Rosana mengingatkan.
"Aaarrghh! Aku benci mereka!" teriak Alexa kesal.
"Tidak ada yang sayang padaku!"
Brag! Prang! Semua benda dilempar oleh Alexa ia berteriak sekuat tenaganya. Brandon mendengar kekesalan putrinya. Margarita sedih mendengar umpatan dan makian putrinya terhadap mereka.
Sementara tiga adiknya tampak ketakutan.
"Ariana, kenapa ketika kita punya Mama dan Papa, malah Kakak marah-marah dan tak lagi mencium kita?" tanya Axel sedih.
"Iya, aku malah lebih suka dulu ketika kita nggak punya papa dan Mama! Sister lebih sayang ke kita, apa pun mau kita dituruti, asal kita baik dan tak menyusahkan," sahut Aaron.
Margarita sedih mendengar perkataan ketiga anak kembarnya. Ariana, Axel dan Aaron lebih dekat dengan Alexa ketimbang dirinya.
"Hei, ini Mama loh yang melahirkan dan menyusui kalian," tegur Margarita dengan suara serak.
"Hanya wanita melahirkan dan menyusui saja. Dari dulu, Oma dan Kak Alexa yang merawat kita," sahut Aaron kesal pada wanita yang mengaku ibu itu.
"Sayang ... hiks ... hiks!"
Margarita menangis mendengar perkataan putranya itu. Ia menatap Brandon yang tertunduk. Semua ini karena mengikuti keinginan suaminya. Ia merelakan ketiga anaknya diambil paksa oleh suami dan memberinya pada pengasuh. Tak disangka justru pengasuh tak pernah menyebut namanya sebagai ibu. Lalu suaminya pula lah yang menyerahkan ketiganya pada Alexa.
"Hanya karena keinginan gilamu ini aku dijauhi anak-anakku sendiri!" seru Margarita marah pada Brandon.
Pria itu menangis. Ia tak menyangka jadi serumit ini. Hanya ingin bersantai dan melepas semua kesibukan sampai ia pergi begitu lama. Ia merasa kekayaan dan materi melimpah bisa membeli semuanya. Padahal kehadiran akan sosoknya sebagai ayah sangat dibutuhkan oleh anak-anak.
"Sayang ... biarkan Mama masuk, Nak!" pinta Margarita mengetuk pintu.
Wanita itu juga tau jika setiap malam putrinya harus dipeluk oleh salah satu maid agar bisa tertidur. Ia pernah mengajukan diri, tapi ditolak oleh Alexa.
"Nanti aku mengganggumu tidur," ujar gadis itu memberi alasan.
Sungguh ia sangat sakit hati mendengar penolakan anak gadisnya itu.
Pintu terbuka oleh Rosana. Maid setia itu membereskan kekacauan yang Alexa buat.
"Aku mau kawin lari!" tiba-tiba perkataan itu terlontar dari bibir Alexa.
"Sudah cukup keras kepala kalian!" lanjutnya.
"Jika memang Mama dan Papa harus pergi dan membiarkanmu berbuat semaunya! Baik lah ... terserah!"
Margarita sudah lelah akan semuanya. Ia pun mengajak suaminya pergi.
"Ayo sayang ... kita pergi dari sini. Biarkan dia, dia tak menganggap kita sebagai orang tuanya!" ujar wanita itu.
Alexa terdiam. Gadis itu menangis kesal. Ia berteriak tak henti-hentinya. Hingga tak sadar gadis itu memukul kepalanya sendiri dengan vas bunga.
Prank!
"Nona!" teriak Rosana.
Margarita terbelalak melihat darah mengucur dari kening putrinya. Alexa sendiri pun kaget.
"Mama ... hiks ... hiks ... Mama!" panggilnya.
Joe baru datang dari distrik B. Pria itu baru saja membereskan penyeludup obat-obatan terlarang. Pria itu sangat terkejut lalu menyuruh para maid untuk mengajak si triplet bermain.
Brandon seperti patung pria itu juga sama terkejutnya.
"Tuan ... kita harus bawa Nona ke rumah sakit!" teriak Joe.
"Ah ... iya," Brandon seperti orang linglung.
Margarita memeluk putrinya yang bersimbah darah. Bajunya pun terkena noda darah.
"Ayo," ajak Brandon.
Pria itu lalu mengambil alih Alexa dan menggendongnya. Ia membawa gadis itu ke mobilnya diikuti Joe.
"Kau di rumah. Jaga anak-anak!" titah pria itu pelan.
Margarita menangis lalu mengangguk. Joe dan Brandon melarikan mobil ke rumah sakit.
Sampai sana, semua dokter berlarian. Alexa sudah lemah. Napasnya satu-satu. butuh lima jahitan untuk menutup luka di kening Alexa bahkan dokter harus mengeluarkan kaca yang tertancap di sana.
"Nona, baik-baik saja. Ia hanya shock. Istirahat cukup dan jangan terlalu banyak berpikir," jelas dokter.
"Dia boleh pulang besok, ya," lanjutnya.
Brandon menangis dan memeluk putrinya yang lemah.
"Maafkan aku sayang ... maafkan aku!" ujar Brandon sedih.
"Maafkan aku juga, Daddy!" pinta Alexa pun ikut menangis.
"Istirahat lah, Daddy akan menemanimu di sini, ya," ujar pria itu.
Alexa mengangguk. Joe menghela napas panjang. Keras kepala tuannya menurun pada putrinya. Sama-sama tak mau kalah dan menang sendiri.
"Jika sudah begini. Kan sakit sendiri," keluh Joe tak habis pikir.
Pria itu pun memberitahu istri Tuannya jika nona muda harus dirawat inap satu hari.
"Baik lah, saya pulang dan membawa baju ganti untuk Tuan dan Nona," ujar Joe.
Pria itu pun kembali ke mansion. Margarita telah menyiapkan baju dan makanan untuk suami dan anaknya.
"Apa kata dokter?" tanya Margarita.
"Nona tidak apa-apa. Hanya shock dan butuh ketenangan," jawab Joe.
Margarita bisa bernapas lega. Ia memang menyayangkan tingkah putrinya yang begitu keras kepala.
"Sama seperti ayahnya. Jika tak dituruti, apa kau pikir aku mampu bertahan hingga sekarang?" ujarnya pada Joe yang menyayangkan sikap dari Brandon.
"Anda lebih tau, Nyonya," sahut Joe lalu membungkuk hormat.
Pria itu pun membawa makanan dan pakaian ganti untuk Tuan dan Nona mudanya.
Bersambung.
keras kepala dua-duanya.