MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
TANTANGAN



Alexa menatap tiga adiknya yang sedang bermain. Sore ini Harry mengajak mereka di taman bermain. Kali ini pria itu yang membawa bekal.


Sebuah karpet tebal dibentangkan di atas rerumputan. Banyak keluarga yang juga datang di tempat permainan umum itu. Semua kalangan dan status sosial hadir di sana.


"Alexa. Aku menantangmu datang ke tempat umum dan membawa ketiga adikmu!"


Tantangan Harry diterima. Gadis itu secara diam-diam mengajak tiga adiknya. Mereka lari dari pengawalan.


Harry membawa kekasih atau tunangannya ke sebuah tempat umum di ibukota. Tadinya, Axel, Ariana dan Aaron takut di tempat yang begitu ramai.


"Banyak sekali orang!' bisik Axel takut.


Bocah lelaki itu memegang erat kain celana Harry.


"Jangan takut. Aku memilih hari di mana semua keluarga berkumpul. Belajarlah kalian," ujar Harry menenangkan.


Alexa hanya diam. Tangannya digenggam erat oleh tunangannya itu.


"Hai ... kau baru ya?"


Axel didatangi seorang anak kecil yang cantik seusianya. Alexa tadinya ingin mengusir anak perempuan itu. Tapi, Harry melarangnya.


"Biarkan adikmu bergaul dengan siapa saja. Biar dia belajar menilai," sahut Harry..


"Tapi mereka baru lima tahun. Mereka belum mengerti!" protes Alexa tak suka.


"Kita nanti yang akan menjelaskannya," ujar Harry kemudian.


Alexa akhirnya membiarkan ketiga adiknya. Harry merengkuh tubuh kekasihnya. Alexa begitu nyaman dalam pelukan sang pria. Bibir mereka sesekali bertaut.


"Aku mencintaimu," ujar Harry tulus.


"Aku juga mencintaimu," balas gadis itu dengan senyum bahagia.


"Axel jangan main terlalu jauh!" teriak Harry memperingatkan.


Axel menggandeng dua saudaranya untuk mendatangi kakak mereka.


"Wah, ternyata menyenangkan sekali. Banyak orang unik dan baik di sini!" seru Aaron dengan wajah ceria.


Harry meminta ketiganya duduk. Pria itu menyiapkan makanan untuk ketiganya. Bahkan mencuci tangan mereka dengan hand sanitizer.


"Ayo kita makan," ajaknya.


Sementara di rumah Margarita menangis ketika mendengar jika Alexa kabur bersama ketiga adik kembarnya.


"Kemana mereka! Apa saja kerja kalian!" teriaknya pada para pengawal.


"Maaf Nyonya. Nona memberi kami obat tidur berupa asap. Sepertinya Nona memang sengaja kabur!" lapor salah satu penjaga.


Brandon dan Joe melihat serpihan plastik. Dua pria itu cukup kagum dengan usaha Alexa untuk lolos dari penjagaan. Bahkan gadis itu sudah meretas semua cctv di mansion.


"Ah, putriku memang genius!" gumamnya bangga.


"Tuan. Nona ada di pusat taman kota. Nona bersama Tuan Muda Robinson!" lapor Joe.


Jika Alexa genius. Maka Brandon jauh lebih genius dari putrinya. Ia sudah memasang pelacak di kalung keempat anaknya.


"Sepertinya ini adalah tantangan dari pemuda itu agar Alexa melihat dunia luar tanpa pengawalan," ujar Brandon mengamati.


"Tapi, aku mau dipulang sekarang sayang. Aku khawatir," ujar Margarita sambil terisak.


'Sudah tidak apa-apa. Aku yakin Harry bisa menjaga mereka semua. Robinson sudah membentuk putranya menjadi seorang lelaki yang kuat dan tak bisa dianggap remeh," jelas Brandon menenangkan istrinya.


Margarita menghapus air matanya. Wanita itu pun menenangkan dirinya. Suatu saat putrinya akan diambil seorang pria untuk menjaga dan mencintai Alexa.


"Kita masuk saja, biarkan semuanya," titah Brandon lagi.


Semua membungkuk hormat. Bahu Margarita direngkuh oleh sang suami dan mengajaknya masuk hunian mereka.


Sedang di tempat lain. Axel, Ariana dan Aaron mendapat banyak teman. Mereka tertawa dan berlarian saling mengejar. Bahkan ketika Ariana terjatuh, banyak teman menolong gadis kecil itu.


Ariana mengangguk menyembunyikan rasa sakitnya. Teman perempuan itu membantunya berdiri lalu memeluknya. Ariana malah menangis.


"Tidak apa-apa. Kamu tidak apa-apa," ujar gadis kecil itu mengelus punggung Ariana.


Alexa tercenung melihat momen tersebut. Ia masih tak percaya orang yang tak dikenal malah memberikan ketenangan.


"Terima kasih," ujar Ariana setelah menguasai dirinya.


Axel dan Aaron menepuk celana saudara perempuannya yang kotor.


"Apa tidak diobati dulu?" tanya gadis kecil itu khawatir.


"Apa kau merasa perih dan sakit di sini?"


"Aaauu!"


Ariana terpekik kesakitan ketika Aaron menyentuh lututnya sedikit menekan.


"Kita obati dulu ya," ajak Harry.


Mereka pun duduk di karpet tebal yang dibentangkan Harry. Ariana memakai celana kaos yang tebal sepanjang di bawah lututnya.


Harry menggulung celana itu dan terlihat lutut Ariana yang sedikit lecet. Pria itu mengecupnya.


"Bagaimana? Apa masih sakit?" tanyanya dengan senyum.


Ariana menggeleng. Pria itu membuka kotak P3K yang sengaja ia bawa tadi. Menetesi lutut Ariana dengan obat merah setelah membersihkan luka itu dengan alkohol kemudian memberinya plester khusus luka.


"Terima kasih," ucap Ariana pada Harry.


"Sama-sama sayang," sahut Harry.


Ariana memberikan kecupan di pipi pria itu. Alexa cemburu. Ia juga mau dicium.


"Aku yang menciummu!" ujar Harry lalu memonyongkan bibirnya.


Alexa tergelak melihat tingkah pacar yang sudah menjadi tunangannya itu.


"Oh ya, siapa namamu?" tanya Ariana pada anak perempuan yang menolongnya tadi.


"Namaku Leana," jawab Lea. "Kau bisa panggil aku Lea."


"Oke Lea. Aku Ariana, Ini saudara kembarku Axel dan Aaron!" ujar Ariana memperkenalkan dua saudara kembarnya.


"Wah ... ternyata kalian kembar. Pantas mirip!" ucap Lea mengerti.


Hari mulai beranjak petang. Langit mulai memerah, tanda matahari sudah bergulir ke barat. Taman pun sudah mulai sepi. Harry mengajak semuanya pulang.


"Aku akan mengantarmu pulang. Biar aku yang menjelaskan kepergianmu dan meminta maaf pada dua orang tua mu!"


Alexa tersenyum lalu merangkul lengan kekasih yang sangat ia cintai itu. Mereka pun pulang. Butuh tiga puluh menit untuk sampai mansion Pierce.


Harry berdiri tegak di hadapan ayah dari kekasihnya itu. Brandon berkacak pinggang. Tapi, keberanian dan rasa tanggung jawab Harry membuat Brandon salut.


"Kenapa kau tak meminta saja putriku tanpa pengawalan padaku. Aku pasti mengijinkannya!"


Harry tau dia salah. Ia mengangguk dan mengakui kesalahannya. Brandon memeluk pria itu.


"Aku salut padamu. Aku yakin kau bisa menjaga putriku suatu saat nanti!" bisik pria itu di telinga Harry.


Harry tersenyum. Ia membalas pelukan hangat calon mertuanya itu. Sungguh ia merindukan pelukan seorang ayah dan kini Brandon tengah memeluknya sebagai anak.


"Terima kasih Daddy," ujarnya lirih.


"Sama-sama, Nak!"


bersambung.