
Alexa mendengar akan adanya perdagangan manusia. Banyak anak gadis yang diambil paksa dan diberi obat penghilang ingatan.
Pasar gelap yang menyajikan banyak barang hasil curian dipamerkan terlebih dahulu termasuk para gadis.
"Hiks!"
Suara tangisan dan ketakutan terlihat dari para gadis. Mereka saling berpelukan untuk mengamankan tubuh, karena mereka hanya diberi baju lingerie tipis tanpa penutup apapun di dalamnya.
"Diam kalian!" bentak salah satu pria memakai baju kaos berlambang klan mereka.
Cetar! Bunyi pecutan terdengar. Semua berteriak ketakutan.
"Bodoh!" teriak salah satu Boss besar.
"Jika kau membuatnya takut dan menyakitinya. Tak ada yang mau beli karena sudah rusak dan cacat!"
"Maaf, Tuan mereka berisik sekali. Padahal, sebentar lagi mereka akan mendapatkan kenikmatan yang tiada tara!"
Para gadis menangis pilu. Jika semua memakai hati. Tentu tergugah mendengar tangisan itu. Bahkan tak sedikit memanggil ayah dan ibu.
"Selamat malam saudara sekalian. Kami dari tim kembali membuka pasar ini. Silahkan menikmati. Ada tangkapan besar yakni sebuah artefak kuno berlapis emas. Di perkirakan artefak itu berusia setengah abad dari salah satu bangsa kuno di India!" jelas pembawa acara.
Seorang pria bertubuh atletis. Pria itu memakai topeng berbentuk kupu-kupu di wajahnya.
Alexa dan Joe duduk di antara penonton. Joe berbisik pada nonanya tentang apa saja yang dijual di pasar gelap itu.
"Tangkapan terkecil adalah sepasang ular python warna putih berukuran raksasa," lanjut pria itu.
"Kami di sini juga menampilkan sepuluh perawan cantik dari berbagai negara di Asia!"
Jerit tangis terdengar. Mereka saling berpelukan dan menyembunyikan wajah. Bahkan di antaranya masih terlalu belia.
"Wow ... hentikan Nona. Bayaran anda akan sangat mahal. Tenanglah, anda akan bisa hidup enak setelah ini!" jelas pria pembawa acara menenangkan.
Tentu saja kata-kata pembawa acara itu bohong. Tak ada ketenangan yang terjadi pada sepuluh gadis belia itu jika sudah masuk salah satu kasino.
"Kami bukan pelacur!" teriak salah satu gadis.
"Hahahaha!"
Pembawa acara itu tertawa. Tawa itu menular pada penonton.
"Sayang nya, kalian di sini memang untuk itu," jelas pembawa acara sinis.
"Baik karena waktu yang terus bergulir, kami akan memulai acaranya. It's show time!"
Musik party terdengar lampu disko bermain. Lampu sorot bergoyang. Satu benda tersorot itulah yang akan dilelang saat itu juga.
Lampu berhenti di ular python. Dua hewan melata itu pun menjadi sorotan bagi pengkoleksi atau menyantap binatang tersebut.
"Ah, kukira berhenti di sana!" keluh pembawa acara sambil menunjuk sepuluh gadis.
Semua tertawa mendengar keluhan pembawa acara itu. Mereka juga menantikan penawaran sepuluh perawan itu.
"Baik, kami tawarkan seratus dolar untuk sepasang hewan ini!"
Tawaran demi tawaran bergulir. Lalu berhenti di kisaran harga 329 dolar. Harga yang cukup tinggi untuk sepasang hewan.
Binatang itu pun dibawa oleh dua orang berpakaian hitam dengan logi klan yang menangkap binatang itu.
Lampu sorot kembali berputar. Hingga berhenti di salah satu benda antik berusia setengah abad itu.
"Kami tawarkan di angka 1000 dolar!"
"Oke penawaran di angka 5700 dolar! Apa ada di angka 6000?" tanya pembawa acara.
"6300 dolar!" teriak salah satu pengunjung sambil menaikan nomor kursinya.
"6300 dolar, satu ... dua ... ti ...."
"7000 dolar!" teriak salah satunya lagi.
Penawaran terhenti di 7000 dolar. Artefak diangkut oleh delapan orang. Lampu kembali berputar. Lalu terhenti di sepuluh anak gadis yang kini sudah terduduk karena kelelahan. Terlihat mereka semua pucat dan kelaparan. Kesepuluh gadis itu sudah pasrah pada keadaan.
"Oke kita akan mulai dari penawaran 1juta dolar!"
"Jangan bercanda kamu! Bahkan kami tak tahu mereka itu benar-benar masih perawan atau tidak!" teriak salah seorang penonton.
"Ini ada surat dari kedokteran jika mereka sehat dan perawan. Ini semua asli, kalian bisa cek!" jawab pembawa acara mengacungkan kertas berisi keterangan dokter.
Semua diam. Tak ada penawaran dalam satu juta dolar. Pembawa acara mulai bingung. Jika tak ada penawaran berarti pria itu harus menurunkan harga.
"999.000 dolar!"
"800.000 dolar!" teriak salah satu penonton.
"900.000 dolar!" teriak a
Alexa menawar.
Semua menoleh pada sosok gadis yang duduk santai di kursi penonton paling atas. Alexa mengenakan celana panjang kulit dengan atasan kaos oblong dan jaket jeans.
"Nona Pierce!" teriak mereka semua.
Tentu semua mengenali Alexa. Bahkan ayahnya baru saja memenggal kepala ketua klan terhebat karena berkhianat pada satuan mafia.
Tak ada lagi yang menawar. Kesepuluh gadis itu diangkut dan di bawa ke sebuah ruangan. Alexa pergi ke sana.
Semua gadis diberikan baju terusan dan juga makanan. Ada dokter di sana memeriksa kesehatan mereka.
"Semua mengalami hipotermia dan kelaparan. Semua sehat tapi jika perawan, mungkin hanya ada enam gadis saja. Sisanya tidak," jelas dokter.
"Apa ada obat untuk menangkal obat bius mereka?" tanya Alexa.
"Obat yang dipakai bisa hilang hanya dua jam saja. Jika keadaan kondusif dan mereka nyaman. Pengaruh obat bius akan hilang dalam waktu dua jam," jawab dokter menjelaskan.
Alexa mengangguk. Ia meminta Joe mengurus sepuluh gadis itu dan memberi mereka kenyamanan.
"Beri juga mereka pelajaran dan pelatihan dasar. Selama ikut kita, agar mereka tak lagi dibodohi orang lain!"
"Baik, Nona!" sahut Joe membungkuk hormat.
Beberapa anak buah pun mengangkut kesepuluh gadis itu. Semua mengucap terima kasih pada Alexa.
"Dua malam lagi ada human trafickking lagi Nona. Ini lebih parah, karena semua dalam kerangkeng!" lapor salah satu anak buah.
"Gagalkan usaha mereka dan lepaskan para manusia itu!" titah Alexa.
"Kami juga menemukan obat-obatan dan senjata Nona!"
"Kita ambil!" titah gadis itu datar.
Alexa membawa pulang sepuluh gadis. Seratus pucuk senjata api dan tiga ton obat terlarang berbagai jenis.
bersambung.