MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
MARAH



Brandon tak menggubris para wartawan yang berkumpul. Begitu banyaknya bodyguard, maka tak ada satu pun yang mampu menembus pertahanan itu.


Keduanya naik limo anti peluru. Mobil mewah itu melesat meninggalkan lapangan parkir bandara pribadi pria itu.


Serdang di tempat lain. Alexa bermain di sebuah wahana bersama adik-adiknya. Joe datang menyusul.


"Nona, ini sudah siang. Waktunya makan!"


Alexa mengangguk. Aaron, Axel dan Ariana pun menyudahi kegiatan bermain mereka.


"Kalian mau makan apa?" tanya Alexa.


"Pasta!" teriak Ariana.


"Pizza!" sahut Aaron.


"Burger!" sahut Axel.


Joe menggeleng. Hingga membuat ketiganya tertunduk lesu.


"Kita makan steak ya," ajak Alexa pada akhirnya.


Mereka menggeleng. Serat daging yang terselip di gigi, membuat mereka enggan.


"Uncle," pinta Alexa setengah memohon.


Akhirnya pria itu mengangguk.


"Kita makan pizza, pasrah dan burger!" sahut Alexa senang.


Semua melompat-lompat kesenangan. Akhirnya mereka bergandengan menuju restauran cepat saji. Kelima memesan satu paket lengkap.


Usai makan. Mereka pun pulang. Joe tau jika ayah dari nona mudanya sudah pulang dan kini menunggu mereka di mansion. Pria itu memutuskan untuk diam saja. Ia ingin tau apa tanggapan Alexa dan tiga anak kembar ketika melihat ayah dan ibu mereka.


Dua puluh menit mereka pun sampai di halaman mansion yang luas. Semua turun. Alexa mengernyit. Ia melihat Limosin ayah nya terparkir rapi di depan teras mansion.


"Nona!" sambut supirnya membungkuk hormat.


"Sister. Mobil siapa ini?" tanya Aaron.


"Yuk, masuk!" ajak gadis itu tak menjawab pertanyaan adiknya.


Mereka masuk. Dua orang berdiri dengan senyum dan tatapan penuh kerinduan. Mereka merentangkan tangan.


Aaron, Axel dan Ariana tampak bersembunyi di belakang tubuh kakak perempuannya. Mereka takut akan dua orang asing yang ada di depan mereka.


"Sayang ...," panggil Margarita dengan suara tercekat.


Brandon yang tadinya membuka lebar-lebar tangannya dengan senyum mengembang tiba-tiba harus menelan pil pahit. Bayangannya dipeluk dan dicium putrinya hilang. Tatapan datar dan dingin juga ketakutan yang ia dapatkan.


"Sayang," panggilnya nanar.


Sedang para maid berharap jika Nona mereka menyambut kepulangan kedua orang tuannya.


"Sister ... siapa mereka? Kenapa wajah keduanya mirip kami?" tanya Axel.


"Aku tidak tau ...," jawab Alexa datar.


"Sayang, maafkan Mommy ... Mommy ...."


Margarita mendatangi putri dan ketiga anak kembarnya.


"Berhenti di sana Nyonya. Jangan sok akrab!" tekan gadis itu datar dan dingin.


"Sayang ...."


"Berhenti panggil aku seperti itu!" teriak Alexa mulai murka.


Ketiga anak-anak mulai ketakutan. Mereka tak pernah mendapati kemarahan kakak perempuan mereka yang begitu besar.


Margarita menangis dengan menutup mulutnya. Brandon merasakan kemarahan putrinya. Joe membawa Aaron, Axel dan Ariana ke kamar dan meminta beberapa maid mengurus ketiganya.


"Joe, kau tak mengatakan apa-apa?" tanya Brandon.


"Untuk apa, Tuan bertanya pada Uncle? Dia juga sama tak tahunya denganku!" sahut gadis itu marah.


Alexa memandang pria yang selama ini menemaninya. Gadis itu berkacak pinggang. Ia tertawa lirih kemudian bertepuk tangan.


"Hebat ... kalian semua hebat!"


"Sayang ...."


"Kubilang hentikan panggilan itu! Membuat ku sakit dan tak berarti!"


Margarita masih menangis. Wanita itu tak bisa menahan kerinduannya. Ia tak peduli jika putrinya akan memukul atau menamparnya. Ia langsung memeluk erat anak gadisnya itu.


"Lepaskan aku! Lepaskan!"


Alexa berontak. Ia benar-benar mendorong kuat ibunya hingga terjatuh ke lantai.


"Aduh!" pekik tertahan Margarita.


"Sayang!" panggil Brendon panik.


Pria itu langsung menghampiri istrinya. Seumur hidup, ia akan marah pada siapa pun yang menyakiti istrinya. Tapi, baru kali ini ia tak berkutik, karena putri kesayangannya lah yang mendorong. Alexa sendiri terkejut melihat ibunya terjatuh akibat perbuatannya itu.


Namun, gadis itu masih marah. Ia menatap dingin keduanya. Diabaikan selama enam tahun dan ditinggali tiga anak kecil yang masih butuh kasih sayang kedua orang tuanya.


"Kau tak apa-apa?" tanya Brandon khawatir.


Margarita menggeleng. Ia menahan rasa sakit di kakinya yang terkilir tadi. Pergelangan kakinya mulai memerah.


"Nona, sebenarnya, nyaris semua masalah kemarin Tuan juga ikut andil dalam penanganan. Tuan tidak meninggalkan anda sendirian," jelas Joe.


"Aku tak peduli!" teriak Alexa.


Brandon mendekati putrinya.


"Jika memang memukulku membuatmu puas. Maka pukul aku ... jika membunuhku membuatmu puas, maka bunuh aku!"


Alexa memukul dada ayahnya. Lalu, memukulnya lagi. Gadis itu mulai menangis. Brandon pun merengkuh tubuh gadis itu dan memeluknya. Pria itu juga menangis menyesal. Margarita pun dengan langkah terpincang mendekati keduanya dan memeluk mereka.


Brandon menjelaskan kenapa ia berlaku seperti itu. Selama enam tahun menghilang.


"Tapi, kenapa Axel, Aaron dan Ariana, Daddy dan Mommy juga tak dipedulikan?!" tanya gadis itu kecewa.


"Mereka masih butuh kasih sayang kalian!" lanjutnya.


Brandon meminta maaf untuk itu. Pria itu memang sengaja agar Alexa mengajari ketiga adiknya sama sepertinya.


"Panggil mereka bertiga," pinta gadis itu.


Maid bilang ketiganya sudah tidur.


"Ya sudah. Biarkan mereka. Panggilkan dokter. Kaki istriku terkilir!" titah Brandon.


Joe membungkuk hormat. Sementara Brandon menggendong istrinya ke kamar diikuti Alexa. Joe menelepon dokter.


"Tidak ada yang buruk. Hanya sedikit terkilir. Rendam dengan air hangat dan beri pijatan lembut agar semua ototnya betul," jelas dokter setelah memberi penanganan kaki wanita itu.


Brandon mengangguk. Lalu mengantar dokter ke halaman. Sedang Alexa memilih menenggelamkan dirinya pada pelukan sang ibu. Gadis itu meminta maaf karena telah mendorong ibunya tadi.


"Tidak apa-apa, sayang. Mommy pantas untuk itu," ujar Margarita.


Anak-anak bangun. Ketiganya langsung dibawa ke kamar ibu mereka.


"Sister, kenapa kau ada di sana?" tanya Ariana.


"Kemari sayang. Ini ibu kalian," jelas Alexa memperkenalkan ibu mereka.


"Memang kami punya ibu!"


bersambung.


syukurin.


next?