MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
AKSI HARRY



Setelah kemarin mengetahui jika banyak yang ingin meminang Alexa dan mempertanyakan dirinya yang bukan mafia.


Harry kembali mendatangi mansion Brandon. Pria itu mengenakan kemeja formal warna abu-abu. Ia begitu tampan dan gagah.


"Dad ... aku ingin jadi mafia!" ujarnya tiba-tiba.


Brandon menatap pria yang duduk di depannya. Alexa yang baru turun dari kamarnya terkejut mendengarnya.


"Apa kau tak salah meminta?" tanya Alexa tak percaya.


"Ya ... aku serius!" jawab Harry sungguh-sungguh.


Brandon hanya terkekeh mendengar keinginan calon menantunya itu.


"Tidak semudah itu kau ingin menjadi mafia, Harry!" sahut Brandon.


"Memang ada persyaratannya?" tanya Harry polos.


Brandon tertawa mendengar pertanyaan polos Harry. Alexa juga tertawa mendengar pertanyaan tunangannya.


"Modalnya nekat dan berani, tuan!" jawab Joe tiba-tiba.


"Aku berani dan nekat!" sahut Harry.


"Pernah pegang senjata?" Harry mengambil pistol biasa dari pinggangnya.


Brandon berbinar. Alexa tersenyum. Joe hanya menatap datar. Margarita keluar dari dapur bersama anak-anak.


"Ambil senjatamu dan simpan dengan baik," titah Brandon.


Harry mengambil kembali benda pembunuh itu lalu menyimpannya lagi di pinggang.


"Apa tadi, brother?" tanya Axel penasaran.


"Ini untuk orang dewasa. Sangat berbahaya!" jawab Harry.


"Jadi kalo untuk orang dewasa, kami tak boleh ya?"


"Iya sayang," jawab Harry.


"Ayo makan dulu," ajak Margarita.


Semuanya pun beranjak ke ruang makan. Mereka pun dengan tenang makan. Brandon memang melarang bicara atau memegang ponsel jika makan. Usai makan mereka kembali ke ruang tengah.


"Jadi kau serius ingin menjadi mafia?" tanya Brandon serius.


"Iya Dad," jawab Harry.


Joe tiba-tiba membisikkan sesuatu. Brandon terkejut dengan apa yang dikatakan oleh adik angkatnya itu.


"Apa kau yakin?" tanya Brandon tak percaya.


"Benar, tuan. Saya juga tak percaya setelah mengetahuinya," jawab Joe.


Harry menatap dua pria itu bergantian. Alexa penasaran dengan apa yang terjadi. Sedang Axel, Ariana dan Aaron naik ke kamar mereka karena Margarita, sang ibu meminta ketiganya untuk tidur siang.


"Apa ada yang mesti aku tau?" tanya gadis itu.


"Harson Blackbone!" Harry menatap Brandon.


"Jangan bilang kau adalah klan yang baru saja menggagalkan aksi klan RedBlood dan BlackFox dalam penyeludupan senjata?"


Ekspresi Harry terkejut terlihat walau hanya sekilas, kemudian ia menetralkan lagi mimik mukanya.


"Dad," cicitnya.


"Ah, jadi dia pria yang sering dibicarakan itu!' seru Alexa.


Plak! Alexa memukul bahu kekasihnya keras. Harry sampai mengaduh akibat pukulan itu.


"Maaf," ujar gadis itu menyesal.


Harry menatap kekasihnya dengan penuh cinta. Ingin sekali ia mengecup bibir tanpa gincu itu.


"Pasti manis," gumamnya lirih.


"Apa katamu?" tanya Brandon tak mendengar perkataan Harry.


"Ah ... bukan apa-apa, Dad," sahut Harry cepat.


"Uncle Joe tahu dari mana, padahal aku memakai masker atau topeng ketika beraksi?" tanya pria itu.


"Joe memiliki insting dan kekuatan membaca prilaku manusia, Harry!" jawab Brandon.


Harry menatap takjub pada pria tampan berekspresi datar itu. Joe hanya menatap malas pada sosok pria yang memandangnya.


"Kalau begitu. Apa kau mau ikut, ke pasar gelap nanti malam?" ajak Brandon.


"Kita berangkat sekarang?" ajak Alexa.


"Ayo!"


Margarita bersidekap melihat semuanya hendak pergi meninggalkan dirinya.


"Sayang, jaga rumah ya! Kami ingin bersenang-senang!" ujar Brandon lalu mengecup pipi istrinya.


"Mam ... aku pergi ya!" pamit Alexa dan Harry.


"Ck ... baik lah ... hati-hati!" ujar Margarita pasrah.


Akhirnya tiga pria dan satu anak gadis pergi dari hadapan wanita cantik itu.


"Naik motor?" pinta Alexa dengan sorot mata memohon.


"Oke!" sahut Brandon.


Alexa langsung menaiki motor trailnya. Harry memandang gadisnya horor.


"Sayang," rengek gadis itu.


"Turun!" titah pria itu dengan sorot mata tajam.


"Daddy!" adu Alexa.


"Turuti apa kata Harry sayang!" ujar Brandon.


Alexa mengerucutkan bibirnya. Gadis itu turun, sambil menghentakkan kakinya. Harry mengambil alih kemudi. Alexa duduk di belakang dibonceng oleh kekasihnya itu. Tiga motor melaju dari halaman di iringi motor-motor lainnya.


Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di lokasi. Sebuah pelabuhan dengan banyak ruang dan lorong. Mereka berhenti di sebuah tempat rahasia.


Harry turun setelah Alexa. Harry mengenakan topeng khususnya. Topeng dengan model kupu-kupu warna hitam.


"Ah ... the mask!" seru Alexa dengan pandangan berbinar.


Harry mengecup cepat bibir pink alami kekasihnya. Brandon hanya santai, sedang Joe menahan diri, ia menatap datar.


"Show time!"


Keempat manusia beda usia itu berjalan menuju lokasi. Mereka masuk. Pasar gelap yang dihadiri saat ini benar-benar luar biasa. Banyak sekali barang curian dan jarahan tersedia. Manusia-manusia yang diculik dan diberi obat bius. Mereka dimasukan dalam kerangkeng. Ada sepuluh kerangkeng dengan isi delapan orang di dalamnya. Semua dalam keadaan telanjang.


"Tuan tolong kami tuan!" pinta manusia-manusia itu.


Sungguh, keadaan mereka jauh dari kata manusiawi. Derai air mata dan kesakitan juga kelaparan.


"Kami butuh senjata baru, kalian bilang akan ada Gatling gun?" tanya salah satu pria.


"Itu sebentar lagi akan ditawarkan, tuan!" jawab salah satu penjaga pasar gelap.


"Tuan-tuan selamat datang!"


Seorang pria dengan wajah memakai topeng kupu-kupu berbicara dengan mik. Kini Alexa sadar dan mengingat sebuah acara lelang di pasar gelap. Walau ia kesal karena harus membayar mahal gadis-gadis yang dijual.


"Ini dia Gatling gun! Seperti yang kita ketahui Senapan gatling adalah suatu senjata mesin berat yang memiliki beberapa barel berputar dan diputar oleh putaran tangan yang diciptakan pada abad ke-18!" jelas pria itu lagi.


"Aku mau semuanya dengan harga seribu dolar per unit!" teriak salah satu ketua klan.


"Sabar dulu, tuan!" sahut sang pembawa acara.


"Harganya memang cukup murah, hanya 800 dolar per unit. Tapi, harus membeli seratus unit!" lanjutnya.


"Memang ada berapa unit, kok banyak sekali?" tanya salah satu pria.


"Ada seribu unit!" jawab Harry.


Brandon tak bergerak untuk membeli senjata itu. Ia sudah punya banyak, bahkan ia hanya tinggal meminta pabrik membuatnya.


Tiba-tiba ... terjadi perkelahian akibat berebutan senjata. Aksi baku hantam tak dapat dielakan. Joe ingin membantu Harry yang sedikit kesusahan karena mempertahankan remote yang menyajikan benda yang hendak dijual.


"biarkan dia!" Brandon melarang Joe untuk membantu Harry.


Alexa pun ditenangkan oleh ayahnya. Brandon menatap bagaimana Harry menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Hingga terdengar letusan senjata.


Semua menunduk. Harry tengah mengacung pistol ke atas. Tiba-tiba salah satu pria hendak menyerangnya.


Dor! Pria tadi roboh bersimbah darah. Kakinya ditembak oleh Harry. Brandon tersenyum senang.


"Itu dia, calon menantuku!" sahutnya bangga.


bersambung.


next?