MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
LAGI-LAGI SALAH BAWA SENJATA



Alexa senang sekali. Ketiga adiknya kini berlarian di taman dan bermain. Para maid berjaga-jaga di sana.


"Bistel ... bayo pain sini!" ajak Ariana.


Alexa pun ikut bermain dengan tiga adik kembarnya. Banyak gelak tawa, hingga para maid juga ikut senang.


"Nona, kita harus pergi ke kota A!"


Tiba-tiba Joe datang dengan wajah memerah.


"Ahh ... selalu begitu. Ada apa?"


Kini Alexa begitu kesal. Ia tengah asik bermain dengan tiga adiknya yang mulai banyak aksinya.


"Pasukan menangkap kapal pencuri ikan di laut perairan kita!" jelas Joe.


"Baik lah!" ujarnya kesal.


"Bistel pawu penana?" tanya Axel.


"Sister mau pergi kerja dulu ya. Ada yang mau mainan?" tawar gadis itu.


"Mawu poneta palpie!" jawab Ariana dengan mata berbinar.


"Aaron?" tanya Alexa.


Bayi itu menggeleng.


"Mawuna pistel pulan tenan pemamat!" jawab bayi itu.


Alexa terharu. Ia menciumi ketiganya. Lalu melambaikan tangan.


"Jaga mereka dengan segenap jiwamu!" titahnya pada para maid.


"Baik Nona!" sahut semuanya lalu menunduk hormat.


Alexa pun pergi bersama Joe. Mereka kembali harus bersitegang dengan para penyusup pencuri ikan. Baku tembak terjadi. Kali ini, Alexa mengambil senjatanya. Ia terkejut bukan main.


Senjata warna menyala, ketika ia menekan pelatuknya.


"Fire! You're surrounded!" lalu terdengarlah bunyi senapan mainan.


Tetetetetet!


"Mphhfffh!"


'Ah, itu dia tempat bahan bakarnya!' serunya dalam hati. Alexa membidik.


Dor! percikan api tercipta. Gadis itu pun menembak sekali lagi.


"Burn that ship!" teriaknya memberi perintah.


Joe mengambil panah dengan ujung kain yang dinyalakan api. Pria itu pun melontarkan panah itu. Lalu.


Blam! Kapal itu meledak. Alexa sudah menjauh dari kapal, sayang ledakan itu terlalu kuat, hingga membuat tubuhnya terpental dan tercebur ke laut. Joe yang melihatnya langsung menceburkan diri. Ia mencari keberadaan nonanya. Alexa tentu jago berenang. Joe melihat sosok itu masih masuk makin jauh ke dalam. Ternyata, gadis itu pingsan. Joe segera berenang menuju nonanya agar tak terlalu jauh masuk ke dasar laut. Tampaknya bukan ia saja yang masuk beberapa anak buahnya ikut menceburkan diri menyelamatkan Alexa. Yang lebih dekat dengan gadis itu mampu meraih tubuhnya dan membawanya ke atas. Joe pun buru-buru ke atas. Begitu juga semuanya.


Alexa di tempatkan di sebuah Speedboat dan langsung dibawa ke daratan oleh anak buah Joe.


Pria itu menaiki kendaraan motor laut itu menyusul, nonanya. Hingga sampai darat ia pun langsung berlari dan mengangkat tubuh Alexa yang masih tak sadarkan diri. Ada darah di kening gadis itu.


Joe melakukan CPR terlebih dahulu, agar air laut yang tertelan keluar. Alexa terbatuk, air laut sudah keluar dari perut sang gadis. Ia menangis. Joe memeluknya.


"Tuan!" panggil para anak buah.


"Siapkan mobil. Kita ke rumah sakit!" titahnya.


Mobil siap. Joe membawa gadis itu dalam pangkuannya. Memeluknya erat. Alexa kembali pingsan. Walau bagaimanapun ini adalah pertarungan yang begitu membahayakan.


Sampai di rumah sakit. Pria itu langsung membawa gadis itu ke ruang ICU. Para medis berdatangan, dengan sigap memberikan penanganan pada Alexa. Joe diminta untuk keluar.


Satu jam berlalu. Pria itu masih menunggu. Dokter keluar dari ruangan.


"Dok?"


"Nona tidak apa-apa. Hanya saja terkena hipotermia, air laut sudah tidak ada lagi di perutnya. Ia belum makan, makanya dia pingsan tadi," jelas Dokter.


"Lalu lukanya?"


"Hanya luka kecil, tak perlu penanganan serius. Hanya saja, Nona harus istirahat yang banyak!" jelas dokter itu lagi. "Nona boleh pulang besok!"


Joe mengangguk. Gadis itu dibawa keluar oleh para perawat. Wajah pucat, dengan.perban di pelipis gadis itu menambah sedih Joe. Pria itu menyalahkan dirinya karena tak bisa melindungi nonanya.


"Maafkan aku Nona ... hiks!"


Para pengawal juga sedih melihat nonanya terluka. Sedang di tempat lain, para pencuri itu kini sudah mengambang di lautan dengan tubuh bersimbah darah.


"Angkat semuanya dan bawa ke sungai Amazon!" titah suara berat dengan wajah menyeringai sadis. "Kita kasih makan para ikan piranha!"


bersambung.