MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
MENJELANG PERNIKAHAN



Bulan demi bulan berganti. Tak terasa Hari pernikahan Alexa sudah tinggal hitungan minggu lagi. Baik Brandon dan Harry mengurus semua surat-surat. Bahkan keduanya akan melakukan fitting baju pengantin. Alexa memilih dari designer ternama.


Sebuah gaun sederhana dengan tampilan mewah dan elegan. Akan ada tiga busana yang akan dikenakan gadis itu.


Gaun pertama tentu gaun utama yang berwarna broken white, kedua berwarna pink yang akan dikenakan siang hari setelah pemberkatan. Sedang satunya lagi berwarna gold.


"Sayang, lusa kita akan fitting baju sekalian prewedding," ujar Harry melalui sambungan teleponnya.


"........!"


"Baik lah ... aku merindukanmu," ungkap Harry dengan senyum lebar.


"......!"


Harry terkekeh ketika sambungan diputus secara sepihak oleh calon istrinya itu. Alexa selalu malu jika Harry berlaku mesra pada diri gadis itu.


"Oh ... aku makin tak sabar memilikimu, sayang," ujar Harry menatap foto gadis dan tiga adiknya di layar ponsel.


Sedang di kamar sosok cantik tengah menekan dadanya. Alexa begitu memerah setiap Harry berkata mesra padanya.


"Sister, kami pulang!" teriak tiga adiknya.


Axel, Ariana dan Aaron naik ke tempat tidur kakak perempuan mereka.


"Hei, kenapa kalian belum ganti baju?" tegur Alexa.


"Kami mau digantikan bajunya sama sister!" jawab ketiganya kompak.


Alexa terkekeh mendengarnya. Ia pun bangkit dan mengajak ketiganya keluar dan masuk ke kamar mereka masing-masing.


"Sister, kenapa kami tidak satu kamar saja? Kami seperti dipisahkan!" protes Ariana.


"Bukan begitu konsepnya sayang," sela Margarita tiba-tiba datang.


Alexa juga bingung. Kenapa ketiga adiknya tidur terpisah. Padahal waktu mereka baru datang. Ketiganya satu kamar.


"Mama," panggil semuanya.


"Karena kalian sudah besar, jadi kalian harus punya kamar sendiri-sendiri. Kan kalian ingin privasi masing-masing!" lanjut Margarita.


"Biar Mama, gantiin baju Arian ya. Tidak baik, anak gadis mengintip saudara laki-lakinya berganti baju," Ariana mengangguk setuju.


Gadis kecil itu mengikuti ibunya masuk ke kamarnya.


"Kalau begitu, aku juga tak mau mengintip Axel ganti baju. Aku menunggu sister saja di kamarku," ujar Aaron.


"Loh, kenapa, bukankah milikku dan milikmu sama?" tanya Axel polos.


"Iya, tapi apa kau tak malu jika diintip walau sesama pria?" Axel menggeleng.


Aaron pun masuk kamarnya. Alexa dengan cepat menggantikan baju Axel. Lalu ia ke kamar Aaron untuk melakukan hal yang sama.


Kini ketiganya sudah ada di ruang makan. Alexa sudah belajar memasak dengan ibunya. Gadis itu kini mulai bisa memasak dan rasanya juga enak.


"Wah, ini adalah sup asparagus kesukaanku!" seru Axel ketika melihat sup favoritnya itu.


"Aku juga suka!" sahut Ariana tak mau kalah.


Hanya Aaron yang biasa saja. Karena bocah lelaki itu suka semua masakan kakak perempuannya. Brandon dan Margarita juga senang putri mereka bisa memasak.


"Kau makin pintar memasak sayang, ini enak sekali," puji pria paru baya itu jujur.


"Benarkah?" tanya Alexa senang.


"Daddy nggak bohong kan?" tanyanya lagi.


"Benar, daddy tak bohong!" aku Brandon jujur.


Alexa senang bukan main. Para maid awalnya juga memuji masakannya, padahal ketika ia mencicipi rasanya biasa saja. Hanya semua bumbu pas.


"Ini enak sekali, Sayang," puji Margarita dengan penuh rasa syukur.


"Apa nanti makan malam kita makan enak seperti ini lagi?" tanya Axel penuh harap.


"Tentu saja. Aku sudah membaginya untuk makan malam juga," ujar Alexa.


Axel senang sampai bertepuk tangan. Ariana dan Aaron juga sama.


"Daddy pasti tambah gemuk jika kau memasak enak seperti ini terus, sayang," kekeh pria itu.


"Daddy bukannya memang sudah gendut?" tanya Ariana polos.


Pertanyaan itu membuat Margarita tergelak. Wanita itu mengangguk setuju.


"Kau benar sayang. Lihat perut daddy, ada lemaknya!" ledek wanita itu.


Brandon mengerucutkan bibirnya. Ia kesal sekali, tapi kemudian ia melihat perutnya yang memang membuncit.


"Haha ... benar dad, perutmu buncit!' kini Alexa meledek ayahnya.


"Ah, tidak apa-apa, perut ini akan kembali seperti semula," ucap pria itu yakin.


Margarita berdecak sebal. Ia sebenarnya suka perut bulat suaminya. Ia sering terangsang ketika meraba perut bulat Brandon ketika tidur.


Ketiga anak tidur siang. Begitu juga Alexa. Sedang Margarita dan Brandon tengah berada di kamar mereka.


Brandon sibuk dengan tabletnya. Ia masih bekerja walau kini Joe lebih aktif menggantikan semua tugasnya.


"Sayang," panggil sang istri dengan suara manja.


Brandon menoleh, ia sangat terkejut melihat sajian di depannya. Sang istri mengenakan lingerie Victoria's secret warna merah menyala. Begitu kontras dengan warna kulitnya.


"Sayang?" tanya Brandon heran. "Ini masih siang?"


Margarita cemberut. Dari gerakan seksi, menjadi hentakan kesal. Mood bercintanya pun pupus. Brandon terkikik geli, ia ingin sekali menggoda istrinya.


Margarita mengambil jubah dan langsung menutupi tubuh seksinya. Ya, walau ia telah memiliki empat anak. Tubuhnya masih terjaga. Bahkan tak ada Stretch Mark di perut atau bagian tubuh lainnya.


"Ck!" Margarita berdecak kesal.


Wanita itu merebahkan tubuhnya membelakangi sang suami. Brandon tersenyum geli. Ia memang paling suka jika sang istri ngambek seperti ini.


"Sayang," panggilnya mesra.


Pria itu meletakkan tabletnya di atas nakas. Lalu rebah dan merapatkan tubuhnya pada tubuh sang istri. Ada penolakan kecil di sana.


"Sayang," bisiknya mesra di telinga Margarita.


Hidup selama dua puluh tujuh tahun bersama sang istri. Tentu membuat Brandon tau di mana saja letak sensitif Margarita. Telinga salah satunya.


"Ih, sana!" cebik wanita itu masih kesal.


Kecupan-kecupan kecil diberikan oleh Brandon. Margarita menegang. Ia memang paling sulit jika sudah dirangsang sedemikian rupa.


"Sayang," panggil Brandon dengan suara serak.


Wanita itu membalikkan tubuh dan kini berhadapan dengan suaminya. Tatapan Brandon telah diselimuti gairah. Margarita tak akan bisa menang jika sang suami telah menginginkan dirinya.


"Aku milikmu, sayang," ujar wanita itu pasrah.


Maka terjadilah penyatuan panas di atas ranjang.


bersambung.


wah ...


next?