
Harry memiliki suku cadang yang dibutuhkan Alexa. Gadis itu tertarik jika pengembangan papan pintar menjadi robot untuk membantu anak-anak belajar. Gadis itu mengembangkan produknya.
"Selipkan kurikulum yang berlaku. Karena banyak anak yang juga tertarik dengan pelajaran sekolah," sela Harry.
Alexa pun mengembangkan papan pintar ciptaannya. Selain mengembangkan bakat anak. Alexa juga memperhatikan pelajaran sesuai pendidikan yang berjalan.
"Baik. Saya akan menggunakan suku cadang yang ada di perusahaan Robinson dan memasukkan kurikulum sebagai alternatif belajarnya, karena tetap program ini mendukung anak untuk memusatkan kemampuannya selain pelajaran sekolah!" jelas Alexa memutuskan rapat.
Harry tersenyum puas. Ia kembali menjalin kerjasama dengan Alexa. Beberapa suku cadang utama dibutuhkan gadis itu membuat papan pintar.
Setelah penandatanganan kontrak. Alexa berniat mengajak ketiga adiknya bermain. Ia akan merayakan hasil proyek ini. Berkat ketiga adik kembarnya ia menciptakan sesuatu dan malah bisa menembus beberapa perusahaan. Belum diproduksi produk tersebut sudah banyak pesanan.
"Axel, Ariana dan Aaron ... ayo kita main!" ajak gadis itu.
"Kak kita main di rumah saja!" ajak Axel.
"Mau berenang bola!" teriaknya.
Alexa memenuhi keinginan adiknya. Ia membeli bola-bola plastik yang dituang ke kolam renang. Semua anak bahagia. Alexa juga meminta pada maid memasak kentang goreng, sosis, juga nugget. Margarita yang memasakkan makanan untuk semua anak-anaknya.
"Makanan sudah siap!" serunya.
"Waaah ... ini enak sekali!" seru Axel ketika memakan sosis goreng kesukaannya.
"Mama tau sosis adalah makanan kesukaanku?" Margarita mengangguk.
Tentu saja dia tau, dia adalah ibu dari mereka semua. Bahkan ia sangat tahu ayam goreng mentega kesukaan Alexa. Gadis itu kini dengan lahap memakan makanan itu.
"Mommy, aku mau disuap!" pinta Ariana.
Margarita dengan senang hati menuruti keinginan putrinya itu. Semua pun ingin disuap oleh ibu mereka.
"Wah, tangan mommy sama dengan tangan Sister," ujar Aaron senang.
"Ayo, mandi!"
"Mandikan, Mommy!" pinta keempatnya.
Margarita tertawa. Ia akan memanjakan keempatnya. Ya, ia kini mulai mengambil hati kembali anak-anak yang ia tinggalkan begitu lama. Bahkan Alexa kini mulai memperlihatkan manjanya.
"Sayang, Mommy dengar proyekmu berhasil mendapat beberapa kerjasama dengan perusahan besar bahkan juga pemerintah. Apa itu benar?" tanya Margarita ketika memandikan Alexa.
"Iya Mommy, aku hebat kan?"
Margarita mengangguk setuju. Ia memang memuji kepintaran dan kecerdasan putrinya itu. Ia pun berharap ketiga adiknya juga memiliki kecerdasan yang sama dengan Alexa.
"Sekarang malam mingguan. Apa Harry tak mengajakmu kencan?" tanya Margarita menggoda.
Alexa hanya merengut. Kekasihnya itu sangat jarang mengajaknya berkencan.
"Dia takut, terlalu jauh menciumku, Mommy," sahut Alexa kesal.
Margarita tersenyum mendengarnya. Ia berharap putrinya cepat dewasa dan mengerti jika menjadi seorang istri itu tidak semudah yang Alexa bayangkan.
"Menikah itu, kau harus siap dengan semua tugas di rumah. Tidak mengandalkan Maid, sayang," ujar Margarita memberi pengertian.
"Jangan seperti Mommy dan Daddy yang meninggalkan kalian begitu lama. Itulah ketidak siapan kami menjadi orang tua," sesal wanita itu.
Alexa terdiam. Ia tahu menikah itu bukan untuk ajang balas dendam pada kedua orang tuanya. Tapi, malah ia menambah permasalahan baru. Alexa belum siap jika harus hamil dan memiliki anak. Gadis itu masih terlalu manja dan belum dewasa sepenuhnya.
bersambung.
belajar dulu Alexa.
next?