MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
MENGAKHIRI KISAH



Harry kini bersama istri dan kedua mertua juga tiga adik ipar kembarnya. Pria itu tertawa mendengar lelucon Axel.


"Jadi kapan kalian akan pergi berbulan madu?" tanya Brandon.


"Besok kami akan berangkat keliling Eropa, Dad" jawab Harry.


Brandon mengangguk. Pria itu menatap istrinya. Joe datang dan membisikkan sesuatu pada Brandon.


"Harry."


Brandon menatap menantunya. Harry mengernyitkan keningnya.


"Sepertinya kau harus menunda bulan madumu," ujar pria itu.


"Kenapa, dad?" tanya Alexa.


"Hendrik Thompson tengah mengacau dan berkoar-koar jika kau sudah menodai putrinya."


"Dia gila!" sergah Harry marah.


"Dia ingin berurusan dengan seorang Robinson!" kecamnya.


"Apa perlu bantuan ku?" tawar Brandon.


"Boleh dad. Aku ingin masalah ini cepat selesai," ujar Harry malas.


"Kalau begitu, siapkan semua bukti yang dibutuhkan. Kita akan ratakan Thompson serata-ratanya!" ujar Brandon dengan seringai sadis.


mereka pun cek out dari hotel. Harry, Brandon dan Joe ke perusahaan milik Harry. Di sana penuh wartawan. Tampak seorang pria tengah memberi keterangan pada wartawan.


"Tuan Robinson!" seru wartawan.


Para pengawal langsung bergerak menjadi pagar hidup bagi tiga orang penting. Hendrik terkejut melihat Brandon Pierce ada di sana. Mukanya tiba-tiba pucat.


"Tuan Robinson, apa benar anda menghamili Nona Thompson dan tidak mau bertanggung jawab?" tanya para wartawan.


"Oh ya, memang dia hamil berapa bulan?" tanya Brandon.


Semua wartawan diam. Mereka adalah wartawan gosip yang hanya mengejar sensasi para pemuka bisnis atau pemerintah yang berskandal.


"Tapi, Tuan Thompson meyakinkan jika Tuan muda Robinson menghamili Nona Federica tapi tak mau bertanggung jawab!"


"Begini saja, bagaimana kalau kita bawa Federica ke dokter dan memeriksa dirinya?" tantang Harry.


"Kau memang menghamilinya dan memintanya pergi ke luar negeri. Putriku sendirian dalam keadaan mengandung. Sayang ia keguguran," dusta Hendrik.


"Saya punya bukti jika Federica pergi bukan karena hamil, tapi untuk mengejar karir jadi model!" seru Brandon.


Pria itu memberi bukti jejak digital. Bagaimana Federica berkirim pesan pada sebuah agency model dan menawarinya pekerjaan. Tapi karirnya tak pernah melesat menjadi model internasional karena agency yang menaunginya hanya agency biasa.


"Bahkan saya memiliki catatan utang gadis itu!" lanjutnya.


Hendrik terdiam. Bukan ia tak tahu kasus putrinya.


"Itu berita hoax!" teriaknya tak terima.


"Bahkan Federica juga sudah dideportasi dari negara itu!' lanjutnya dengan senyum smirk.


"Tuan, jadi berita mana yang benar?" tanya para wartawan.


"Begini saja!" putus Brandon mulai kesal.


"Jika kalian bisa memberi bukti jika Federica hamil karena menantuku. Aku pastikan Harry bertanggung jawab penuh!" lanjutnya.


Semua wartawan menelan saliva kasar. Mereka berhadapan orang paling berkuasa. Tentu apa yang diucapkan Hendri tidak bisa dibuktikan.


Semua wartawan bubar. Hendrik bertatapan dengan Harry.


"Katakan pada putrimu. Dia sudah tak ada artinya lagi, aku sudah menikah dengan gadis paling cantik di dunia ini," ujar Harry dengan bangga.


"Dan gadis itu adalah putriku, Alexandra Pierce," timpal Brandon.


Hendrik terdiam. Ia tak akan mungkin menang melawan keluarga Pierce.


"Jika kau masih terus melanjutkan. Aku pastikan kau akan tidur di jalanan!" ancam Brandon lagi.


Hendrik akhirnya pergi dengan dengkusan kesal. Ia memang sudah kalah telak. Satu-satunya cara menyelamatkan perusahaannya adalah menghentikan. aksi putrinya mengganggu Harry Robinson.


"Tidaak!" teriak Federica tak terima. "Harry hanya milikku, dia hanya mencintaiku!"


"Cukup Erica!" teriak Hendri murka.


"Kau yang meninggalkannya selama delapan tahun!" Erica menangis.


"Daddy, dia hanya milikku ... hiks ... hiks!"


"Tenanglah sayang. Kau sudah kehilangan dia. Kau tak akan bisa mengalahkan Alexandra Aurora Pierce," ujar sang ayah memeluk putrinya.


Frederica termenung. Ia memang tak tau siapa yang menjadi istri mantan kekasihnya itu.


"Daddy .... hiks ... hiks!"


Sedang di tempat lain. Harry bersama ayah mertuanya dan Joe pulang ke mansion Brandon. Margarita dan Alexa memasak untuk makan siang. Butuh dua puluh menit untuk sampai ke hunian mewah itu.


"Ayo, duduk kita makan siang. Ini semua masakan Alexa," ajak Margarita.


Ketiganya duduk. Mereka telah mencuci tangan mereka. Lalu semuanya makan dengan tenang.


"Masakannya enak sekali, nona!" puji Joe.


"Terima kasih uncle," ujar Alexa dengan senyum senang.


"Apa tadi semua masalah selesai?" tanya Alexa lagi.


"Sudah sayang. Kau tak perlu khawatir lagi," jawab Harry lalu menggenggam tangan istrinya.


Alexa pun tersenyum lega. Mereka pun bercengkrama sebentar lalu masuk kamar masing-masing untuk tidur siang.


Besok pagi. Harry sudah membawa istrinya untuk berbulan madu keliling Eropa. Tiga minggu mereka melakukan perjalan romantis mereka.


"Apa kau bahagia sayang?" tanya Harry memeluk istrinya dari belakang.


Mereka kini berada di menara Eiffel Paris. Memandang hamparan bangunan dan lampu-lampu.


"Aku bahagia sayang," jawab Alexa dengan binaran mata bahagia.


Keduanya berciuman dengan mesra. Merasa cukup, keduanya memilih turun dan kembali ke hotel.


Sedang di mansion. Brandon dan Margarita saling berpelukan satu selimut. Tubuh mereka tanpa busana. Napas keduanya menderu, keringat masih membasahi keduanya.


"Aku harap, ketika mereka pulang membawa berita bahagia," harap Margarita.


Brandon menatap istrinya penuh cinta. Keduanya kembali mengarungi samudera cinta.


tamat.