MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
PULANG 2



Penerbangan masih separuh jalan. Baik Brandon dan Margarita tidur di kursi yang di setel khusus. Keduanya saling berpelukan. Walau usia mereka sudah tak muda lagi. Tapi, keduanya makin mesra.


Sedang di mansion. Alexa kini telah bersiap, kali ini ia mengantar ketiga adik kembarnya ke sekolah. Gadis itu sangat antusias, bahkan ia sendiri yang mengemasi bekal ketiganya.


"Nona, sarapan lah dulu," pinta maid.


'Iya, Lolita," sahut Alexa.


Rosana memilih memotong roti selai strawberry lalu menyuapkannya pada nona mudanya. Itu lebih efektif ketimbang menyuruh gadis itu makan saja.


Alexa tak pernah keberatan jika disuapi seperti itu. Makanan jauh lebih banyak masuk ke perutnya dibanding ia makan sendiri.


"Nona, satu siap lagi," pinta Rosana sedih.


Alexa menutup rapat mulutnya. Ia menolak. Joe datang lalu berdehem, baru lah gadis itu membuka mulut terpaksa.


"Apa sudah siap?" tanya pria itu.


"Siap uncle!" sahut ketiga anak kembar dengan antusias.


Axel, Aaron dan Ariana jauh lebih mandiri soal makan ketimbang kakaknya. Dari kecil di asuh nenek yang bercerita soal kakak yang cantik dan baik hati. Nenek itu tak sekali pun bercerita tentang ayah dan ibu mereka. Ketiganya lepas ASI setelah satu tahun. Brandon meminta Sofhia merawat tiga anak kembar itu. Pria itu benar-benar tak peduli dengan tiga anaknya yang masih kecil.


Hal itu membuat Sophia marah, wanita yang telah bekerja selama tiga puluh tahun di keluarga pria itu. Bahkan kedua orang tua Margarita mendukung maidnya untuk tak menceritakan suami istri itu.


"Dasar dua orang itu. Aku mau lihat, bagaimana jika ketiga anaknya tak kenal mereka!" gerutu Bowell kesal.


Walau terkadang pria itu tak pernah benar-benar meninggalkan putrinya. Bahkan ia membabat habis siapapun yang melukai gadis itu.


Alexa sudah tiba di sekolah. Ia menggandeng ketiga adiknya, lalu membiarkan mereka berlari masuk ke kelas.


"Nona Pierce, anda yang mengantarkan ketiga adik anda?" tanya salah satu wali murid sok akrab.


Gadis itu menatap wanita yang berpakaian mewah penuh selidik. Memang sekolah taman kanak-kanak itu khusus untuk orang-orang berduit seperti dirinya.


"Ya, memang kenapa?" tanya Alexa datar.


"Ah, tidak apa-apa. Perkenalkan, saya ibu dari Richie Brooke. Sandra Horman," ujarnya memperkenalkan diri.


Gadis itu hanya mengangguk. Lalu duduk menunggu. Nyonya tadi mencibir.


"Tidak tau sopan santun! Diajak kenalan hanya mengangguk saja. Sombong sekali!" gerutu wanita itu.


Banyaknya pengasuh berjenis kelamin wanita, berbisik sambil melirik pada pria tampan yang ada di sebelah Alexa.


"Ih, kok pria itu tampan sekali ...," bisik salah satu dari mereka.


"Iya, itu perempuan yang di sebelahnya kok angkuh banget sih. Pakaiannya memang mahal. Tapi, aku yakin kedudukannya juga sama dengan kita, baby sitter!" sindir salah satunya lagi.


"Sepertinya tidak deh. Kelihatan jika perempuan itu berkelas, anggun juga berkharisma," sahut salah satu menilai Alexa.


"Ah, kau buta. Berkelas dari mana!" sahut yang lainnya.


"Lihat saja, baju yang ia kenakan. Sebanyak apa pun uang kita kumpulkan, kita nggak akan mampu beli!" ujar yang tadi memberi penilaian positif pada Alexa.


"Palingan itu produk palsu!" tuduh salah satunya.


"Kau yakin ada yang palsu. Bahkan kode itu tak ada yang bisa memalsukan!" sahut baby sitter tadi.


Semua memandangi baju sutra berwarna peach dengan lengan sepotong dan potongan dada sabrina. Kaki jenjangnya dibalut celana jeans belel, tapi terlihat jika jeans itu bukan barang murah. Belum lagi jam tangan rolex yang khusus diciptakan untuknya. Jam itu satu-satunya di dunia. Semua baby sitter pun terdiam. Mereka tak lagi bergunjing.


Tak lama bel istirahat berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar. Ketiga adiknya paling belakang keluar.


"Sister!" panggil Ariana dengan senyum indahnya.


Gadis kecil berkuncir dua itu sangat manis dan cantik sekali. Alexa tersenyum melihatnya. Tiba-tiba seorang anak laki-laki menarik kuncirannya hingga Ariana menangis. Axel langsung memukul anak laki-laki itu hingga terjatuh dan menangis lah anak itu.


"Hei, apa yang kau lakukan pada anak majikanku!" bentak salah satu baby sitter.


"Dasar anak tak berpendidikan!" teriaknya.


Plak! Alexa menampar pipi wanita itu.


"Kau berani seka ...."


Wanita itu terdiam ketika Alexa menodong pistol kecil ke keningnya.


"Bicaralah. Maka peluru ini tembus melewati kepalamu yang kosong itu!" ancam gadis cantik itu.


bersambung.


lah ... Alexa di lawan