MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
HARRY DAN ALEXA



Alexa kini mengantar tiga adiknya bersekolah. Banyak yang takut pada gadis itu terlebih setelah ia menodongkan senjata pada salah satu maid di sana.


Guru-guru juga mulai takut pada Alexa karena ia memang gadis yang begitu sangat menakutkan. Bel istirahat berbunyi.


Ariana, Axel dan Aaron mendatangi kakak mereka dengan senyum lebar.


"Sister!" panggil mereka.


"Halo Babies. Ini makan kalian!" sahut gadis itu sambil memberikan bekal yang ia pegang dari tadi.


"Terima kasih," ujar ketiga anak kembar.


Mereka memakan bekal mereka. Tak ada satu pun anak yang datang mengganggu. Axel, Aaron dan Ariana juga tak mempermasalahkan mereka tak memiliki teman sepermainan.


"Sudah makan, kalian kembali ke kelas ya!" ketiganya mengangguk antusias.


Alexa tersenyum. Ia mengecup sayang pipi ketiga adiknya. Semuanya pun senang kakak mereka menyayangi kembali.


"Kakak sudah sayang kita lagi!" bisik Aaron ketika masuk kelas.


"Iya, aku bahagia sekali. Entah kenapa, aku tak begitu menyukai Mommy," sahut Ariana membandingkan.


Margarita memang sekarang tengah mendekatkan diri pada ketiga anaknya yang masih canggung padanya. Wanita itu sedih karena semua putri dan putranya tak mengenali dirinya.


Sedang di tempat lain Harry menancapkan bisnisnya. Produksi robot ciptaannya mulai berkembang pesat. Banyak perusahaan maju membeli tenaga mesin itu untuk mempermudah pekerjaan manusia. Terutama bagian jasa.


Banyak restauran yang mengusung pelayan dari robot karena mereka minim error bahkan paling diminati pengunjung karena memang diprogram sedemikian rupa.


"Tuan Robinson. Hari ini akan ada event besar antar perusahaan untuk mendisplay barang produksi mereka. Apa kita ikut lagi event itu?" tanya Neuro Pope, asistennya.


"Tentu saja. Event itu tak boleh kita lewatkan. Kita akan menyerap kritik dan saran pada kita. Agar produksi kita lebih baik lagi!" sahut Harry.


Alexa telah menyiapkan program papan pintar. Papan pintar ia ciptakan untuk membantu anak-anak belajar. Gadis itu terilhami dari adik-adiknya yang sedikit mengeluh karena kreasi mereka kurang mendapat fasilitas dari sekolah. Papan pintar membantu anak-anak mengeksplorasi kepintaran anak-anak untuk berkreasi.


"Sayang, jadi program ini khusus untuk anak-anak?" tanya Brandon ketika Alexa menciptakan papan itu.


"Iya, Dad. Dengan adanya papan itu. Anak-anak tak mengotori tembok. Lalu orang tua mereka bisa menyimpan semua ide anak-anak di laptop atau komputer khusus untuk mereka. Aku sedang merakit komputer khusus untuk anak-anak!" jelas Alexa menuangkan idenya.


Brandon mengangguk puas. Ia memang tak pernah kecewa dengan putrinya. Walau, masih ada pedang dingin antar mereka. Brandon terus mendukung apa pun keinginan putrinya.


Harry mendengar tentang papan pintar milik Alexa. Pria itu terkagum-kagum dengan konsep ide sang gadis. Ia ingin melakukan kerjasama.


"Neuro, kita adakan pertemuan dengan Nona muda Pierce!" titah Harry.


Neuro langsung melakukan panggilan telepon yang diangkat oleh Jac. Pria itu mengatakan keinginan atasannya.


"Nona, Tuan Robinson ingin mengadakan pertemuan," ujar Joe.


"Bilang besok aku ada waktu sekitar usai makan siang," sahut Alexa.


Joe pun mengatakan kesediaan nona mudanya. Setelah perjanjian pertemuan disepakati. Alexa kembali merakit program pada papan pintar nya.


"Masih banyak program yang harus di edit ulang," ujar gadis itu.


Keseriusan gadis itu membuat bangga Brandon. Ia akan mendukung penuh ciptaan putrinya bahkan ia telah mendaftarkan karya cipta itu pada sebuah lembaga hak cipta agar tak ada yang meniru ciptaan anak gadisnya.


Hari berlalu. Pertemuan pun berlangsung di sebuah ruangan. Ternyata bukan hanya Harry yang tertarik dengan ciptaan Alexa tapi dari pemerintah bagian pendidikan. Mereka ingin mengusung satu kurikulum pada papan pintar milik gadis itu.


bersambung.


next?