
Harry benar-benar datang melamar Alexa. Ia sudah memberitahu kedatangannya sehari sebelumnya.
"Rosana, hias seluruh ruangan dan masak-masakan yang enak untuk besok!" titah sang nona muda.
Brandon tak dapat berkata apa-apa. Bahkan Margarita juga diam saja. Mereka tak tahu harus melakukan apa untuk menghentikan keinginan anak perempuannya.
"Sayang, apa kau yakin kau mau menikah cepat?" tanya Margarita hati-hati.
"Yakin, Mommy. Aku ingin menikah, terlebih Harry selama ini juga mendukung semua usahaku. Bahkan aku juga tahu jika tanah perusahaan banyak yang dicaplok oleh perusahaan lain dari Harry!" jawab Alexa yakin.
Margarita pun diam. Ia menatap tajam pada Brandon. Andai ia tak mau mengikuti kegilaan suaminya. Tapi, ia juga menyalahkan diri sendiri karena ia juga lelah dengan segala aktivitas suaminya.
Brandon diam. Ia memikirkan laki-laki bernama Harry Robinson itu. Ia sangat mengenal sekali ayah dari pria itu. Sahabat lamanya, dulu ketika Alexa lahir, ia pun sempat menjodohkan putra mereka.
"Dia laki-laki hebat, Margarita," ujar Brandon pasrah.
"Kita memang harus melepaskan Putri kita untuk bersanding. Aku juga tak mau jika Harry Robinson diambil oleh wanita lain," lanjutnya.
Margarita pun akhirnya mengikuti keinginan putrinya. Ia hanya tak ingin Alexa menyesal menikah di usia terlalu muda. Baru dua puluh tahun.
"Aku hanya ingin, dia menikmati masa mudanya saja, sayang," ujar wanita itu.
Brandon memeluk istrinya. Ia sangat paham, bukan itu maksud Margarita. Wanita itu masih ingin memanjakan putrinya.
"Waktu yang lewat, kita tak bisa menggantinya. Lebih baik, usahakan hari-hari kita penuhi ia dengan kasih sayang," saran pria itu.
Margarita membalas pelukan suaminya. Wanita itu tenggelam dalam pelukan hangat pria yang telah menikahinya selama dua puluh dua tahun itu.
Joe menatap ruangan yang dihias sedemikian rupa. Hatinya sedih, karena Alexa akhirnya mendapatkan pria terbaik.
'Siapa lah aku ... hanya pria beruntung yang diangkat adik oleh pria terbaik,' gumamnya pasrah.
"Tuan!" sapanya.
Brandon melepas pelukan pada istrinya. Ia menoleh pada Joe, adik angkatnya.
"Ada apa?" tanya pria itu.
"Senin, kita harus ke kota J. Beberapa ketua klan memperebutkan tanah di perbatasan distrik N dan distrik O. Diduga di sana ada tambang nikel yang terbengkalai," papar Joe memberi laporan.
"Bukan kah kita punya tanah ada di distrik itu?" Joe mengangguk.
"Tanah itu sudah lama terbengkalai. Hanya beda tiga yard saja dari kepemilikan tanah kita," jawab Joe.
"Siapkan berkasnya. Kita akan beli tanah itu dengan harga tinggi!" titah Brandon.
Joe membungkuk hormat. Pria itu pun melangkah meninggalkan ruangan. Sesaat ia melirik Alexa yang tengah memerintah beberapa maid yang menghias ruangan.
'Aku yakin kau akan bahagia, Nona!' harap pria itu.
Joe pun bergegas keluar dan melaksanakan perintah tuannya.
Hari berganti. Harry sudah menelepon Alexa jika ia datang ketika hendak makan siang. Gadis itu sangat heboh. Ketiga adiknya hanya menatapnya sedih.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Alexa pada ketiga adik kembarnya.
Gadis itu menyamakan tingginya dengan tiga anak yang berwajah sama.
"Sister akan menikah dan meninggalkan kami?" tanya Axel sedih.
Alexa diam. Ia tak berpikir ke arah sana. Jika menikah tentu dirinya akan tinggal bersama suaminya.
"Sister kan bisa sering ke sini," timpal Deana salah satu maid.
Alexa pun mengangguk membenarkan.
"Aku akan meminta Brother membawa kalian. Bagaimana?" tawar gadis itu.
Ketiganya saling melihat satu sama lain. Sungguh mereka sudah menyayangi ibu mereka dan tak mau berpisah lagi.
"Lalu, kami akan meninggalkan Mommy?" tanya Ariana sedih.
Alexa terdiam. Ia makin bingung. Pikiran gadis itu benar-benar belum dewasa sepenuhnya. Ia hanya berpikir pendek.
"Tapi, aku tak mau kehilangan Brother Harry," ujar Alexa jujur.
"Nona, ketika kita memutuskan menikah. Kita harus mengurus suami kita. Memang kita meninggalkan rumah. Tapi, ini adalah rumah Nona. Nona bisa kapan saja ke sini dan bermain bersama," jelas wanita itu.
"Jadi, aku tak bisa tinggal di sini sama Mommy and Daddy?" tanya Alexa polos.
"Tidak sayang," tiba-tiba Margarita datang.
"Kenapa Mommy, kenapa Sister tidak boleh tinggal di sini?" kini Aaron yang bertanya.
"Seperti kata Deana tadi, kalau Alexa harus mengurusi suaminya. Sama seperti Mommy harus mengurus Daddy kalian," jawab Margarita.
Alexa baru tercerahkan. Ia mengira jika menikah ia masih bisa tinggal dengan orang tuanya, bermanja dan mendapat kasih sayang.
"Dengan suami, kamu tak hanya mendapatkan itu semua tapi juga cinta dan napsu," jelas Margarita lagi seakan tahu pikiran putrinya.
"Ayo, sekarang kalian harus bersiap memakai baju yang bagus!" ujar Margarita.
"Deana, tolong siapkan mereka!" titah wanita itu.
"Baik, Nyonya!"
Ketiganya pun pergi ke kamar mereka masing-masing. Beberapa maid mengikuti dan mengurus mereka.
"Sekarang, biar Mama yang akan mengurusmu," ujar Margarita.
Alexa pun mengikuti ibunya ke kamar. Ruang. dengan warna peach dan pink pucat mendominasi. Alexa dimandikan oleh ibunya. Didandani begitu cantik.
"Mommy, aku cantik sekali!" pujinya pada diri sendiri.
"Kau memang sangat cantik, sayang," sahut sang ibu lalu mengecup kening putrinya.
Pintu diketuk.
"Nyonya, tamu sudah datang," lapor maid dari luar pintu.
"Baik lah. Kalian turun lah terlebih dahulu. Biar kami menyusul," sahut Margarita.
Alexa menatap ibunya ragu. Margarita mengelus wajah putrinya.
"Kau sudah memutuskan. Tak boleh mundur. Kau wanita sejati bukan?" Alexa mengangguk.
Lalu keduanya pun keluar kamar dan turun ke lantai dasar. Sementara Harry sudah duduk menunggu dengan setelan mewah. Ia begitu tampak. Brandon sampai terpukau melihatnya.
"Kau tampan seperti mendiang ayahmu," pujinya.
"Terima kasih, Tuan!" sahut Harry.
Joe menatap nanar pria yang akan mengambil nona mudanya. Jujur, ingin sekali ia menantang Harry berkelahi dengannya. Tapi, ia sadar jika dirinya bukan lah siapa-siapa.
Alexa turun bersanding dengan ibunya. Brandon dan Harry berdiri. Kedua wanita beda usia itu sama-sama cantik, tapi Alexa yang menjadi bintangnya saat ini.
"Wah ... sister cantik sekali," puji Ariana ketika melihat kakaknya.
Dua lainnya mengangguk setuju. Harry tak lepas memandang gadis itu.
"Ayo, duduk," ajak Margarita.
Semuanya pun duduk kecuali para maid dan Joe. Mereka tetap berdiri.
Harry lalu mengutarakan maksud ia datang ke sini.
"Saya datang melamar Alexandra Pierce!" ujarnya tegas.
"Kami menerima maksud baik ini. Tapi keputusan ada di tangan Alexa!" ujar Brandon dengan suara berat.
"Bagaimana Alexa?" tanya pria itu.
Harry berdebar jantungnya. Ia menatap lekat gadis yang sangat cantik siang itu.
"Yes, I do!" jawab Alexa dengan rona di pipi.
Harry tersenyum lega. Margarita pun terharu. Brandon akhirnya pasrah dengan keputusan putrinya. Cincin dengan mata emerald disematkan. Harry langsung bertunangan saat itu juga. Pernikahan akan digelar tiga bulan mendatang.
bersambung.