
"Jadi kami punya Mama?" tanya Ariana bingung.
Margarita tampak sakit mendengar salah satu anak kembarnya tak mengenali dirinya. Ia menatap Alexa yang santai menanggapi hal itu.
"Apa kau begitu dendam sampai tak mengatakan jika mereka memiliki ibu?" tanya wanita itu sedih.
"Mereka hanya mengenaliku sebagai kakak mereka ketika datang. Tak ada satupun yang menyebut dirimu sebagai Mama mereka," jawab Alexa santai.
Margarita memanggil ketiga anak kembarnya. Ketiganya pun naik ke ranjang. Brandon datang kemudian. Axel memandangi pria berwajah sama dengan dirinya itu
"Kalau dia siapa?" tanyanya sambil menunjuk Brandon.
"Aku Papamu!" jawab pria itu kesal bukan main.
"Jadi, selain Mama. Kami juga punya Papa?" tanya Aaron tak percaya.
Brandon sangat sedih. Semua karena keegoisannya. Ingin berdua saja dengan istri tanpa embel-embel anak dan pekerjaan, membuat ia tak dikenali tiga anak kembarnya.
"Iya, sayang ... aku adalah Daddy dan ini adalah Mommy," jawab Brandon dengan nada menyesal.
Axel, Ariana dan Aaron mengangguk tanda mengerti. Margarita bercerita tentang kelahiran ketiganya.
"Mommy loh, yang menyusui kalian selama satu tahun. Kenapa, kalian malah lupa?" tanya wanita itu sedih.
"Kata Nenek kami, nggak punya ayah ibu. Punyanya kakak cantik," jawab Ariana polos.
Brandon sangat kesal. Ia ingin memberi hukuman pada pembantu ibu mertuanya itu.
"Nenek tidak salah Daddy!" tegur Alexa seakan mengetahui pikiran ayahnya.
Joe datang mengatakan akan ada pertemuan antar pebisnis. Kembalinya Brandon membuat pergerakan bisnis sedikit mengalami guncangan.
"Tuan, kita harus mengadakan rapat internal antar pemegang saham. Mereka bertanya kemana Tuan selama ini," ujar Joe.
Brandon menghela napas panjang. Ia menatap anak gadisnya. Alexa memilih diam.
"Baik lah. Aku memang salah di sini. Akan ku selesai semuanya," putus pria itu pada akhirnya.
"Sister, kami lapar," ujar Axel mengusap perutnya yang buncit.
"Rosana!" panggil Alexa.
"Baik Nona!" sahut maid langsung menjalankan tugas.
"Apa boleh kami makan di sini bersama Mommy?" pinta Ariana semangat.
"Tentu saja," jawab Margarita tersenyum.
Ketiganya bertepuk tangan meriah. Mereka akan meminta wanita yang mengaku sebagai ibu mereka itu menyuapi.
"Selama ini, sister yang mengurus kami. Sekarang gantian. Mommy yang mengurus kami," celetuk Axel tanpa dosa.
"Baik, sayang. Mommy akan mengurus kalian," sahut Margarita dengan senyum indahnya.
Sementara, itu Joe dan Brandon muncul, harga saham melonjak drastis. Pasar saham sampai kualahan melihat lonjakan yang begitu dahsyat. Kedatangan Brandon Pierce memang membawa berkah bagi para pialang saham.
"Tuan. Distrik B dan C meminta perluasan wilayah," ujar Joe memberi jadwal pria itu.
Brandon mengangguk. Pria itu langsung menuju lokasi. Kedatangannya disambut meriah oleh para anak buah.
"Semoga Tuan tak salah membawa senjata kali ini," seloroh beberapa anak buah.
Brandon hanya tersenyum kaku. Ia tentu tahu di mana dulu putrinya selalu salah menodongkan senjata mainan hingga menjadi tertawaan anak buahnya.
"Apa dia masih ceroboh?" Joe mengangguk membenarkan.
Sementara, Harry yang mengetahui jika orang tua Alexa sudah hadir makin menyiapkan diri. Pria itu akan melamar sang gadis. Walau resiko ditolak oleh keduanya. Ia akan tetap memastikan diri.
"Semua harta telah kukumpulkan. Aku rasa, aku layak bersama Alexa," ujar pria itu menatap dirinya di cermin.
"Sayang ... aku cinta sama kamu," ujarnya pada selembar foto gadis cantik.
bersambung.