
Frans berlari dan menyerang Joe secara membabi buta. Sayang, kekuatan Frans bukanlah tandingan Joe.
Pria itu terus menerus memukul, tapi tak ada satu pukulan yang mengenai Joe. Frans makin kalap. Pria itu kembali memberi pukulan, tapi dengan mudah Joe menghindar.
Karena terlalu bosan. Joe memukul wajah Frans dengan telak.
Bug! Frans langsung tersungkur ke tanah dan bibirnya berdarah karena sobek.
"Berengsek!" makinya sambil meludah.
Satu pukulan sedikit mengenai wajah Joe. Tak telak tapi cukup perih.
Alexa yang dari tadi melihat perkelahian yang sebenarnya bisa dituntaskan oleh Joe itu, ia mulai kesal.
"Uncle, apa perlu aku yang turun tangan?" tanyanya kesal.
"Tidak perlu nona, ini bisa saya tangani," jawab Joe.
"Tembak saja dia, biar istrinya menjadi janda dan dua putrinya menjadi yatim!" ujar Alexa marah.
Frans tersadar mendengar ucapan Alexa. Ia memiliki dua putri yang masih kecil dan butuh kasih sayang dirinya.
"Pulang lah ke istri dan dua anakmu, Tuan Hold. Biarkan ayahmu tenang dulu, dia pasti akan mencarimu," ujar Joe menasihati.
Frans terduduk, ia menangis. Jujur ia menyesal karena tak mengindahkan pesan ayahnya. Ia menatap Alexa, gadis cantik yang langsung membuatnya jatuh cinta. Tapi, kemudian Harry keluar dan berdiri di sisi gadis itu.
"Kalian memang cocok," cicitnya lirih.
Frans kalah telak. Harson Blackbone memang sangat tampan dan berkuasa. Alexa memang pantas bersanding dengan pria itu.
Fransiskus pun pergi meninggalkan area kekuasaan ayahnya dengan kepala tertunduk.
"Ada-ada saja!" sungut Brandon kesal.
Joe, Alexa dan Harry masuk mobil. Kendaraan roda empat super mewah dan anti peluru itu meninggalkan area.
Butuh waktu setengah jam untuk sampai ke mansion mewah milik Brandon. Hari sudah mulai menjelang pagi. Semua orang baru saja bangun dari tidurnya. Banyak para pengawal dan maid yang mulai bekerja.
"Kau menginaplah," pinta Brandon pada Harry.
Pria itu mengangguk. Mereka masuk, Alexa sudah tidur di mobil tadi dan kini Harry yang menggendong gadis itu.
Harry membawa sang gadis ke lantai paling atas menggunakan lift. Di sana ada para maid menunggu. Harry merebahkan tubuh gadis itu.
Pria itu mengusap wajah cantik yang nampak pulas. Ia tersenyum.
"I love you," ujarnya lalu mengecup kening sang gadis.
Harry pun keluar dari kamar Alexa. Para maid menutup pintu dan mulai mengganti baju nona mereka.
Harry menghela napas panjang. Salah seorang maid membawanya ke kamar tamu di lantai bawah.
Tak terasa waktu berlalu. Pernikahan tinggal hitungan bulan saja. Harry dan Brandon makin sibuk mempersiapkan pesta. Sebuah gereja sudah di tentukan.
"Aku hanya mengundang seratus orang, bagaimana denganmu?" tanya Brandon pada calon menantunya.
"Aku juga hanya seratus orang saja, Dad," jawab Harry melalui sambungan telepon.
"Baiklah, bagaimana dengan gedung?" tanya Brandon lagi.
"Gedung itu milikku dad, tak perlu takut, aku juga menyewa jasa wedding untuk menyusun acaranya dan juga makanannya."
Jawaban Harry menenangkan Brandon. Ia makin yakin dengan keputusannya untuk menikahkan Alexa pada pria itu.
Sementara Alexa banyak bermain dengan tiga adik kembarnya.
"Sister, ayo kita ke wahana bermain. Kita belum mencoba roler coster!" ajak Axel.
"Tapi, tinggi kalian belum sampai!" sahut Alexa meledek.
"Hei ... aku sudah kelas satu tinggiku sudah 110cm!" elak Axel.
"Benarkah?" tanya Alexa tak percaya.
"Coba kita ukur!"
Gadis itu mengambil pengukur. Alexa mengerjai adik-adiknya hingga mereka kesal.
"Sister kenapa kau mengukurku dari lutut!" pekik Ariana kesal.
Alexa akan tertawa lepas melihat kekesalan ketiga adik kembarnya itu.
"Aku kira itu telapak kakimu!" sahut Alexa sambil terkekeh.
Brandon menatap putrinya yang usil mengerjai tiga adiknya itu. Pria itu tersenyum.
Ketika malam berlalu, Alexa dan tiga adiknya memenuhi tempat tidur orang tuanya.
"Daddy, peluk aku," rengeknya manja.
Brandon memeluk anak gadisnya. Ia menyesal, enam tahun terbuang percuma hanya untuk keegoisannya.
"Ketika menikah nanti, hormati suamimu sayang. Cintai dia sepenuhnya. Ketika ia mulai kasar dan tak lagi mencintaimu. Segera pulang, karena cinta kami sangat besar untukmu," cicit Brandon.
bersambung.
di mata orang tua, anak tetaplah anak.
next?