MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
BISTEL AL YOU OPEY?



Alexa pulang dalam keadaan lemah. Ketiga adiknya langsung mengerubunginya. Mereka sedih dan mengusap wajah kakak perempuannya itu.


"Bistel al pyu opey?" tanya Axel dengan wajah sedih.


"Sister Alexa sedang tak enak badan, jadi biarkan dia istirahat ya," ujar Joe.


"Pami mawu pidul pama bistel!" ujar Aaron lalu merebahkan dirinya di sebelah kakaknya.


Hal itu diikuti oleh dua saudaranya yang lain. Alexa memeluk ketiga adiknya.


"Tutu!" pinta Axel.


Salah seorang maid pun membawa tiga botol susu untuk ketiganya. Hanya dalam sekejab, susu dalam botol habis dan mereka kakak beradik itu pun tidur.


"Jaga mereka," titah Joe.


"Baik Tuan," ujar salah satu maid.


Joe keluar kamar. Pria itu duduk di sofa ruang tamu. Menahan tangis. Ia merasa bersalah atas kejadian yang menimpa adik angkatnya.


"Maafkan aku Tuan," ujarnya lirih.


Pria itu merebahkan dirinya di sofa. Ia juga terlalu lelah, tetapi untuk pergi ke kamarnya ia tak sanggup. Salah seorang tukang kebun, membangunkannya.


"Jangan tidur di sini, Tuan. Ini akan membuat tubuhmu bertambah sakit."


Pria itu memapah Joe untuk tidur di kamarnya. Ia membuka sepatu, ikat pinggang, kaos kaki dan kemeja juga jas yang Joe pakai. Lalu meletakkannya di ranjang. Setelah menarik selimut dan menyalakan pending ruangan. Tukang kebun itu menutup pintu dari luar.


Pagi hari, Alexa terbangun karena ketiga adiknya menciumi wajahnya satu persatu.


"Pistel ... bayo panun!" titah Axel.


"Hmmm ... Babies, aku masih ngantuk," rengek Alexa.


"Pudah-pudah ... didat papa ... pistel ladhi satit ... janan dandu!" sahut Ariana.


"Pistel ... al pyu potey?" tanya Aaron sedih.


"Aku baik-baik saja, Baby. Biarkan aku tidur sebentar, ya," pinta Alexa.


"Atu atan nunduin pistel ah!' ujar Axel.


"Atu judha!' sahut Ariana.


"Potey, pita bain pi simi ajah," ujar Aaron.


"Eman pita budah pisa paca?" tanya Axel.


Ariana dan Aaron diam. Mereka hanya tahu huruf-huruf saja. Alexa menahan tawa mendengar percakapan tiga adik kembarnya.


"Pita paca zaja," putus Axel.


"Lena ... bambilin puku belita di tamal don," pinta Aaron dengan wajah memelas.


Reina mengangguk. Ia langsung membawa banyak buku ke kamar nona mudanya. Joe bangun dan sudah merasa lebih baik. Pria itu sudah bersih dan mengikuti salah satu maid bernama Reina itu.


"Umpel Doe!" sapa Ariana.


Pria tampan itu tersenyum. Axel memilih salah satu buku bergambar harimau. Joe duduk di dekat bayi laki-laki itu.


"Halimau pelsama tansil!" ujarnya mengingat hewan apa yang ada di gambar.


"Imi ada dambal patahali, belalti siyan apau padhi, Umpel?" tanya Axel.


"Pagi, Baby," jawab Joe.


"Oh ... ini padhi hali ... ada halimau pula mulutnya haauuumm!"


Alexa nyaris terbahak, begitu juga Joe. Sementara maid bernama Reina sudah pergi karena Joe memintanya.


"Aba tansil ... lali-lali ... halimau tejal ... tejal ladhi. hup ... tansil Pisa beblan ail banat ... hole tansil belamat!" sahut Axel kegirangan.


Alexa sudah tak tahan. Ia pun tertawa terbahak-bahak. Lalu menciumi tiga bayi lucu itu.


"Nona, sarapan sudah siap," ujar Maid memberitahu.


"Bawa kemari. Juga sarapan mereka!" titah Alexa.


Para maid membawa makanan itu ke kamar nona muda mereka. Dengan telaten, Alexa menyuapi Axel, Aaron dan Ariana.


Usai makan, para bayi menawarkan diri lagi mendongeng karena melihat wajah Alexa masih pucat.


"Pistel al pyu potey?"


bersambung.


next