MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
PREE WEDDING



Hari ini, baik Alexa dan Harry berada di sebuah butik ternama. Rancangannya sudah terkenal di seluruh dunia. Sepasang calon pengantin ini sudah mengukur tubuh mereka beberapa bulan lalu. Jadi sekarang mereka melakukan fitting.


"Anda cantik sekali, Nona!" puji staf butik yang membantu Alexa memakai gaun pengantinnya.


Gadis itu menggelung rambut panjangnya. Gaun warna broken white dengan aplikasi intan Swarovski di bagian dadanya, lalu menyebar hingga menutupi mata kaki. Bahu terbuka lebar dengan potongan dada sabrina. Benar-benar indah dan mewah.


Alexa keluar bersama layernya. Harry juga sudah mengenakan taxedo warna putih gading yang sangat mewah. Di pergelangan jasnya bertaburan swarovski begitu juga kerah bagian bawah. Tidak hanya itu, sudut-sudut jas pun bertaburan swarovski.


"Ah, tampannya!" puji salah satu staf dengan pandangan mendamba.


Alexa menatap tajam pada staf itu, cemburu. Harry terkekeh. Brandon yang juga tengah memakai taxedo hitam yang sama mewah dengan calon menantunya juga sangat tampan.


"Kalian benar-benar serasi," puji pria itu dengan senyum menawan.


"Daddy tampan sekali!" puji Ariana.


Gadis kecil itu mengenakan dress warna putih tanpa lengan dengan aksen rok mengembang. Gadis kecil itu juga sangat cantik dan imut. Begitu juga dengan dua saudara laki-lakinya. Mereka mengenakan taxedo hitam.


"Mana Mama?" tanya Alexa.


Margarita keluar dengan gaun putih gading polos tanpa aksen apapun.


"Kau cantik sekali sayang," puji Brandon lalu mengecup bibir merah istrinya.


Ketiga anak kembar mereka langsung menutup mata karena malu.


"Daddy!" tegur Harry malu.


Brandon hanya menatap datar pada semua orang. Sedang para staf perempuan menahan napas melihat dua pria tampan.


"Kita ke studio foto?" ajak Margarita.


Semua mengganti baju yang tadi mereka coba. Harry sudah membayar lunas semua. Brandon sangat kagum akan kekayaan calon menantunya itu.


"Jangan khawatir, dad. Akan kulimpahi Alexa dengan kasih sayang, ia tak akan kekurangan dan tak kubiarkan juga ia cemas akan hari tuanya, karena akan kuberikan semua kekayaanku!" tekan Harry berjanji suatu hari.


"Ada apa sayang. Apa yang kau lamunkan?" tanya sang istri membuyarkan lamunan pria itu.


Brandon menatap wajah cantik wanita yang telah menemaninya selama nyaris tiga puluh tahun itu. Margarita juga menatapnya.


"Kenapa sayang?" tanya wanita itu.


Brandon tersenyum. Ia kembali memandang sepasang calon suami istri yang tengah menggandeng tiga adiknya.


"Aku yakin putri kita akan bahagia, sayang," ujar Brandon.


Margarita menatap apa yang ditatap suaminya. Ia melihat betapa Harry begitu perhatian pada Alexa dan tiga anak kembarnya.


"Ya, aku juga yakin akan hal itu sayang," sahut wanita itu.


"Dad!" panggil keduanya.


Lalu Brandon dan Margarita mendatangi anak dan calon menantunya. Mereka pun mendatangi sebuah studio foto. Alexa menginginkan konsep out door dengan banyak bunga hidup. Permainan anak-anak seperti ayunan dan jungkat-jungkit.


Alexa mengenakan gaun warna hijau pupus, sedang Harry mengenakan baju kasual warna hitam dan celana kulot abu-abu dan sepatu kets warna hitam.


Berbagai pose diperagakan oleh semuanya. Ketampanan dan tubuh proporsional, membuat para fotografer tak bersusah payah mengatur gaya untuk mereka.


Bahkan ketiga anak kembar begitu natural bergaya. Hingga membuat senang semua orang memandangnya.


"Baru kali ini aku memfoto tanpa bersusah payah mengatur dan mengedit model yang kufoto," puji sang fotografer kagum.


"Ya, bahkan mereka tak rewel seperti model-model yang wajahnya tak seberapa," puji asisten fotografer.


Pria tampan itu mengangguk setuju. Sosok bertubuh tegap dengan dada lebar. Ia memakai kemeja putih dengan tiga kancing baju yang sengaja tak ia kaitkan. Bibir tipis menghitam karena nikotin. Mata sayu dengan iris mata hijau, hidung mancung dengan rahang kokoh, tampak bulu-bulu yang menghitam, tampak baru saja dicukur. Rambut yang ia tata berantakan, kesan casanova terpatri pada penampilan pria itu.


"Bagaimana, Pedro?" tanya Harry.


Harry menggeleng sambil tersenyum. Pedro menatap penuh permohonan pada sahabatnya. Ia benar-benar butuh seorang model yang menunjang karirnya.


"Aku bayar seribu dolar setiap dua minggu!" tawarnya.


"Berapa?" tanya Alexa tiba-tiba tertarik.


"Sayang," tegur Harry.


"Aku bercanda sayang," sahut gadis itu sambil terkekeh.


Pedro mendengkus kecewa. Ia sudah tak tahu lagi harus mendongkrak studio fotonya dengan apa.


"Cari modelmu sendiri, Bro!" saran Harry sambil menepuk bahu sahabatnya.


"Atau kau bisa memikirkan untuk mengambil tawaran dari ayahmu," lanjutnya.


Alexa menatap sosok cantik yang tengah fokus pada layar komputer. Gadis itu tengah menyunting foto-foto yang tadi dibuat.


"Hi, siapa namamu?" sapa Alexa.


Gadis itu sedikit terkejut lalu tersenyum ramah.


"Aku Jasmine, nona," jawabnya.


"Aku Alexa, berapa usiamu?"


"Dua puluh dua tahun ini."


"Ah, berarti aku harus memanggilmu kakak. Aku baru mau dua puluh satu tahun," sahut Alexa.


Jasmine tersenyum manis. Alexa menatap lekat iris hitam pekat di depannya. Dari struktur wajah dan warna kulit gadis itu, Alexa yakin jika Jasmine ada darah latin.


"Asistenmu cocok kau jadikan model, Ped!" sahut Alexa memberi usul.


"Ah ... jangan ... aku tak mau lagi mengambil asisten menjadi model!" seru Pedro menolak usul Alexa.


"Kenapa?" tanya Harry.


Brandon dan Margarita sedang duduk dan melihat-lihat beberapa model dan gaya foto pada sebuah album. Sedang anak-anak asik bermain.


"Aku dikhianati model yang kuasuh dan mereka tadinya adalah asistenku!" keluhnya penuh kekecewaan.


"Ah seperti itu?" Harry mengangguk.


Jasmine hanya diam saja menanggapi. Sungguh, jika pun atasannya itu setuju. Ia akan menolak keras.


"Baiklah. Nanti, ketika pernikahan. Aku mau kau yang memfotoku," ujar Harry kemudian.


Pedro mengangguk setuju. Harry membawa semua keluarga calon istrinya untuk makan siang di restauran miliknya.


Sepeninggalan kliennya. Pedro menatap Jasmine yang serius mengerjakan tugasnya. Perlahan ia memeluk tubuh gadis itu.


"Sayang," panggilnya mesra.


Jasmine menoleh. Sebuah pagutan menyerang bibirnya. Gadis itu terkejut. Lama bibir Pedro bermain di bibir Jasmine. Hingga ketika cukup, pria itu melepas ciumannya.


"Aku tak akan membiarkan apa yang sudah kumiliki menjadi santapan tatapan orang lain," bisiknya mesra.


Jasmine tersenyum. Lalu keduanya kembali berpagutan. Sedang di tempat lain. Sosok cantik menatap foto Harry.


"Halo sayang ... aku kembali!"


bersambung.


next?