MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
ALEXA AND THE TRIO



Alexa memandangi tiga adiknya yang tengah berlatih bela diri. Di bawah pengasuhan guru bela dirinya semenjak ia kecil.


"Kekuatan mereka sama dengan kekuatan anak usia sepuluh tahun!" seru gurunya bangga.


Alexa tersenyum. Tentu, semenjak ketiganya datang. Alexa sudah mengajari mereka bela diri. Bahkan membiasakan diri memegang senjata.


"Sister!" panggil mereka.


"Apa sudah selesai?" ketiganya mengangguk.


Mereka belajar aikido dan memegang sabuk hijau dengan satu list hitam. Tentu peningkatan itu disertai kemampuan ketiganya. Wajah polos mereka tetap ada, tapi jangan memancing kemarahan mereka.


"Kalau begitu sekarang saatnya belajar menembak!" ajak Alexa.


"Yes!" seru Axel semangat.


Ariana agak takut. Sedang Aaron milih diam mengamati saja.


"Sister, aku takut," cicit Ariana.


"Jangan khawatir sayang. Aku dulu juga awalnya takut, tapi tidak lagi setelah menguasainya," jelas gadis itu.


Keempat orang itu menaiki mobil mini van. Kali ini Joe tidak bersamanya. Pria itu bersama Brandon ke sebuah distrik untuk pengukuhan wilayah.


"Sister, liburan ini kami hanya ingin menghabiskan waktu denganmu," ujar Axel memulai percakapan.


"Kenapa begitu. Kalian bisa menghabiskan waktu bersamaku selamanya!" sahut Alexa heran.


"Oh ... c'mon Sis. Sebentar lagi kau menikah, lalu punya anak. Kau pasti makin sedikit waktu dengan kami," sela Aaron sendu.


Alexa terdiam. Ia tak berpikir jauh ke sana.


"Apa seperti itu?" tanya gadis itu polos.


"Sister. Kau mestinya jauh lebih pengalaman dari kami! Kau lebih tua!" sela Aaron lagi.


Ariana mengangguk gadis kecil itu mengingat perkataan ibunya.


"Mommy bilang. Jika kita memutuskan menikah. Maka hidup kita harus menyenangkan orang yang akan membahagiakan kita!"


Aaron dan Axel mengangguk setuju. Mereka mengingat perkataan ibu mereka. Alexa sebenarnya ingat, hanya saja sifat kekanak-kanakan muncul setiap saat. Ia tak pernah berpikir jernih.


"Apakah aku bisa hidup dengan satu orang pria?" tanyanya pada diri sendiri.


"Selama ini kau baik-baik saja hidup dengan kami!" sahut Axel santai.


Alexa menghela napas panjang. Ia merebahkan punggungnya pada jok mobil yang nyaman.


"Ah, nanti saja dipikirkan. Kita sekarang ke tempat tembak!" putus gadis itu.


Mobil itu membawa mereka ke tempat latihan tembak. Baru masuk pintu, letusan senapan terdengar memekakkan telinga. Para instruktur memberikan mereka alat peredam suara berupa headset besar. Ariana yang tadi menutup telinganya dengan tangan. Kini ia tak begitu takut karena suara yang mengagetkan itu tak terdengar.


Mereka pun berada di sebuah tempat. Ada target dengan jarak sekitar dua sampai tiga meter. Para penembak harus tepat mengenai bullseye yang ada ditengah target jika ingin poin penuh.


Aaron terlebih dahulu memegang pistol. Alexa membantu menegakan lengan bocah lelaki itu agar lurus.


"Bidik sasaranmu dan tembak setelah yakin!" titah gadis itu.


Aaron membidik. Ada sedikit tremor terjadi pada lengan anak laki-laki yang baru berusia lima tahun itu.


"Tenang, sayang. Rilekskan semua dan ... tembak!"


Dor! Aaron menembakkan pelurunya. Hanya meleset lima senti dari target.


"Aah!" keluhnya kecewa.


"Tidak apa sayang. Percobaan pertamamu sangat baik!" puji Alexa


"More closer you get ten poin!"


"Siapa itu yang bicara?" tanya Aaron bingung.


"Itu suara penghitung nilai otomatis sayang!" jelas gadis itu dengan senyum lebar.


Ketiganya mengangguk tanda mengerti. Kini Ariana yang maju. Bocah cantik itu sedikit takut dan merengek.


"Tidak apa-apa sayang. Yakinlah!" ujar Alexa menenangkan adik perempuannya itu.


Ariana mengacungkan pistolnya. Tangannya lebih gemetaran dari Aaron.


"Bidik dan ... tembak!"


Dor! Peluru melesat jauh dari target.


"Sorry you loose the point!" suara penghitung terdengar.


Ariana menangis dan meminta maaf. Alexa memeluk adiknya yang memang lebih lembut dari dirinya.


"Ssshh! Tidak apa-apa. Kau kan baru pertama. Nanti, jangan tutup matamu ketika membidik. Ok?" Ariana mengangguk setelah menenangkan dirinya.


Giliran Axel yang maju. Ia sudah membidik dari awal masuk arena. Alexa tersenyum lebar dengan kesiapan salah satu adik kembarnya itu.


"Jika kau yakin, baru kau tembak!"


Axel membidik ia pun menarik pelatuknya lalu terdengar suara letusan.


"Great you got a hundred point!" suara penghitung nilai terdengar lalu terdengar riuh tepuk tangan.


Alexa ikut bertepuk tangan begitu juga Aaron dan Ariana. Axel tersenyum bangga. Tak sia-sia ia mengamati kakaknya mengajari para saudaranya cara membidik dengan baik.


"Kau hebat sayang," puji gadis itu bangga.


Akhirnya semua mendapat nilai sempurna. Axel paling tinggi nilainya dari semua. Ia pulang membawa sertifikasi menembak termuda. Axel mengingatkan Alexa ketika kecil dulu.


"Sekarang kita belajar memanah!" ajak Alexa.


"Sister ... aku lapar!"


Alexa menepuk keningnya. Ia lupa jika ketiga adiknya adalah tukang makan. Berbeda ketika ia kecil dulu. Gadis itu sulit sekali makan.


"Baik lah kita makan di restauran Italia!" ajak Alexa membuat ketiganya bersorak bahagia.


"Pasta dan lasagna ... kami datang!" seru ketiganya kompak.


Seharian ini, Alexa membawa tiga adiknya melatih kemampuan diri mereka. Di pelatihan tembak, Axel lebih unggul dari semua. Tetapi ketika memanah, Ariana jauh lebih unggul dari dua saudara kembar laki-lakinya. Namun ketika berkuda, Aaron lah yang menyabet nilai tertinggi.


Semuanya memiliki keahlian masing-masing. Alexa tak keberatan. Karena dirinya sendiri bahkan tak terlalu jago memanah dan berkuda.


Ketiga tertidur di mobil. Sepertinya mereka kelelahan. Para pengawal mengangkat mereka dan membawanya ke kamar.


"Mereka kelelahan sekali?" ujar Margarita melihat tiga anak kembarnya tertidur seperti kelelahan.


"Mereka banyak melakukan kegiatan Mam," sahut Alexa memberitahu.


"Bantu Mama mengganti pakaian mereka!" pinta Margarita pada putrinya.


Alexa membantu ibunya mengganti pakaian adiknya. Gadis itu memang mulai terbiasa mengurus ketiga adik sebagai pelatihan diri ketika memiliki anak nanti.


"Mam, boleh aku istirahat dan tak membantu mu?"


"Tidak sayang!" Margarita langsung melarang.


"Mommy!" rengek gadis itu.


Ia benar-benar kelelahan. Margarita tak tega melihat wajah lelah putrinya. Ia pun mengalah dan membiarkan Alexa untuk beristirahat.


Bersambung.


masih manja!


next?