
Usai menandatangani beberapa berkas. Alexa memilih pulang karena nanti malam ia akan mendatangi gala dinner bersama para petinggi negara dan pebisnis handal. Tiga maid mendorong bayi-bayi dalam keretanya masing-masing.
Alexa melihat Harry di lapangan parkir. Pria itu tengah memasukkan beberapa barang ke dalam bagasi mobilnya. Alexa yang memang tidak begitu menyukai pria itu mendatangi dan hendak mengerjainya.
Namun setelah mendekati, Alexa melihat peluh yang menetes di pelipis pria itu. Gadis itu terpana.
"Ih kok ganteng?" tanyanya bergumam tak percaya.
"Ada apa?" tanya Harry ketika melihat sosok gadis itu.
"Tidak ada. Kau sedang apa?" tanya sang gadis.
"Menurutmu?" tanya Harry lagi sambil mengangkat satu unit robot ke belakang mobil bak terbukanya. Pria itu pun mengambil terpal dan menutup agar robot yang ia bawa tidak terlihat.
"Itu tadi robot apa?" tanya Alexa penasaran.
"Oh, hanya robot uji coba untuk mengukur jarak dan luas area," jawab Harry.
"Kenapa kau tak bertanya saja padaku, seberapa luas tanah gedung ini?" tanya Alexa lagi dengan nada meledek.
"Begitu?" gadis itu mengangguk.
"Berapa?" tanya Harry akhirnya.
"Sekitar 4000m²," jawab gadis itu.
Harry menggeleng pelan sambil tersenyum miring. Joe mendekati mereka.
"Luas tanah hanya 2890 m². Luas bangunan hanya 1900m²," ujar Harry memberitahu.
"Kau bohong!" seru Joe tak percaya.
"Kau perlu bukti?" tantang Harry.
Joe memanggil petugas pengukur tanah. Harry sangat tenang, ia sudah mencatat datanya. Tanah bangunan ini mengalami penyerobotan tanah oleh bangunan sekitar. Alexa tak menyadari itu.
"Luas tanah hanya 2890m², luas bangunan masih sama 1900m2!" jawab petugas pengukur tanah.
"Apa, kenapa tanahku bisa berkurang?" tanya Alexa.
"Saya tidak mengerti, Nona. Tetapi jika dilihat dari tempat. Sepertinya tanah anda di serobot oleh beberapa bangunan di sebelah perusahaan anda!' jawab petugas sambil melihat situasi.
Petugas itu pun pergi. Alexa geram bukan main. Ia yakin ada konspirasi terselubung terjadi.
"Kita akan selidiki semuanya," ujar Joe meyakinkan nona mudanya.
Alexa pun pergi dengan ekspresi berubah-ubah. Ia harusnya mengucap banyak terima kasih karena berkat pria itu. Alexa bisa mengetahui penjarahan pada tanahnya. Sayang, gadis itu yang tak menyukai Harry makin tak suka.
"Kau tak mengucap terima kasih?' tanya Harry dengan menaikan satu alis.
Alexa cemberut. Ia hanya mengalihkan wajahnya. Harry hanya menggeleng saja, memaklumi.
"Dasar bocah," ledeknya berbisik.
"Hmmm ... ya!" sahut Harry malas.
Alexa makin kesal. Ia menghentakkan kakinya dan memilih naik mobil menyusul tiga adik kembarnya.
Harry lagi-lagi hanya bisa menggeleng. Joe yang mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf atas sikap nona mudanya.
"Uncle Joe!" teriak Alexa. "Cepetan!"
Harry terkikik geli. Ia baru kali ini mendapatkan seorang gadis pemimpin perusahaan besar yang begitu disegani bertingkah seperti anak kecil di depannya. Joe pun membungkuk dan permisi, pria itu pun menaiki mobil dan kendaraan itu pun pergi meninggalkan gedung.
"Gadis yang cantik dan menarik," gumam Harry.
Setelah menutup robot dengan terpal dan mengikatnya. Pria itu pun melajukan kendaraannya dan pulang.
Sampai di sebuah mansion mewah. Harry turun dan menyuruh beberapa pelayan menurunkan semua barang-barangnya.
"Selamat sore Tuan!"
Harry melihat pelayan dengan pakaian cukup seksi. Ia mendengkus keras.
"Danny!" teriaknya.
"Saya Tuan!"
"Pecat pelayan ini!" titah Harry.
Danny sang kepala pelayan melihat pelayan yang ditunjuk tuannya. Ia pun menghela napas kecewa.
"Baik Tuan," sahutnya lemah.
"Jika besok-besok aku mendapat pelayan berpakaian seperti ini. Kau yang kupecat Danny!" ancam Harry.
Danny membungkuk. Ia bukan tak pernah memperingati para pelayan agar memakai baju yang sopan. Harry memanglah seorang pria single, tampan dan sukses. Tapi, pria itu paling benci menemukan perempuan yang menggoda dirinya seperti itu.
"Tu-tuan ... maafkan saya," ujar pelayan itu setengah memohon, "jangan pecat saya."
"Maaf, kau harus keluar dari mansion ini Debby. Aku sudah memberi peringatan ketiga kali untuk berpakaian sopan. Tapi, sepertinya kau menulikan diri," jelas Danny dengan nada menyesal.
Debby menangis. Mencoba peruntungan agar tuannya tertarik dan ia bisa naik kelas sosial tanpa harus bekerja keras, malah kini dia harus menjadi pengangguran.
Sedang di kamar Harry. Pria itu keluar dari kamar mandi. Tubuhnya kekar dengan perut berbentuk kotak-kotak. Dadanya lebar. Harry begitu tampan dan gagah. Setelah memakai baju kaos dan celana boksernya. Pria itu pun merebahkan diri. Sekejap ia memejamkan matanya. Wajah Alexa melintas. Ia tersenyum.
"Hei, cantik. Bagaimana jika kau tau aku adalah tunanganmu semenjak kau bayi?" ujarnya bermonolog.
Pria itu meraih album dan membukanya. Satu foto lama, ketika ia dan kedua orang tuanya berkunjung ketika Alexa baru lahir. Ayah gadis itu pun menjodohkan putrinya pada Harry.
"Ah, itu sudah lama. Palingan sudah tak berlaku. Aku pastikan kau akan jatuh cinta padaku, Alexandra Pierce!" tekadnya.
bersambung.
selamat berjuang