
Hari ini adalah hari pernikahan Tuan muda Robinson dan Nona muda Pierce akan melaksanakan pemberkatan pernikahan mereka di sebuah gereja.
Mansion Brandon Alexander Pierce dihias dengan indah. Para maid memakai seragam merah jambu.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Brandon pada istri dan empat anaknya.
"Sudah, siap!" jawab semuanya kompak.
Margarita memakai gaun putih warna putih gading dengan aplikasi swarovski. di bagian leher yang berbentuk V.
Margarita dan tiga anak kembarnya menaiki mobil yang disupiri oleh Joe. Pria itu juga sangat tampan dengan taxedo hitamnya. Sedang Brandon bersama putrinya. Mobil Porsche warna hitam dengan hiasan bunga dan pita meluncur menuju gereja di mana pemberkatan itu dilangsungkan.
Harry sudah berada di sana. Pria itu bersama asisten pribadinya yang menjadi pengiring pengantinnya. Tiga Pierce menabur bunga. Semua kolega menatap pengantin wanita yang didampingi oleh ayahnya.
Ketampanan Brandon begitu mempesona semua kaum hawa. Sedang kecantikan Alexa masih tersembunyi di balik layer, kain putih tipis yang menutupi wajahnya.
Ketika di depan pria yang akan membawa putrinya. Mata Brandon memerah wajahnya berubah tegang.
"Dad," panggil Alexa dengan suara bergetar.
Brandon tersadar. Pernikahan ini harus dilaksanakan. Harry menatap mertuanya, ia meyakinkan pria itu jika Alexa akan bahagia bersamanya.
"Aku serahkan putriku untuk kau cintai dan kau bahagiakan," ujar pria itu.
"Akan kucintai dan kau bahagiakan putrimu hingga maut menjemput ku," sahut Harry.
Tangan Alexa kini berada di tangan Harry. Pria itu menatap gadisnya penuh cinta. Pendeta memulai kotbahnya.
"Silahkan ucap janjimu sebagai suami Tuan Harry Robinson!"
Harry mengucap janjinya. Dengan pandangan tetap pada gadis yang juga menatapnya.
"Sekarang ucapkan janjimu sebagai istri Nona Alexandra Pierce!" titah pendeta usai Harry mengucap janjinya.
Dengan suara serak dan terbata, gadis itu mengucap janjinya.
Margarita sibuk mengusap air matanya begitu juga Brandon. Sedang tiga kembar Pierce menatap kakak perempuannya haru.
"Apa kita kehilangan sister?" tanya Axel sedih.
"Tidak sayang. Dia tetap kakakmu sampai kapan pun!" sahut Margarita.
"Sekarang pasang cincinnya!"
Harry memasang cincin di jari manis istrinya.
"Sekarang kalian sah menjadi suami istri dan apa yang telah disatukan Tuhan tak bisa dipisahkan!"
"Kau boleh mencium istrimu!"
Dengan sigap, pria itu membuka layer tipis dan langsung mencium bibir istrinya.
Semua bertepuk tangan. Pernikahan itu disiarkan di seluruh Chanel televisi swasta.
Wajah keduanya terpampang di layar. Sepasang mata menatap layar dengan derai air mata.
"Kenapa ... hiks ... kenapa!' teriaknya histeris.
"Kenapa kau tak menungguku Harry. Kau bilang kau akan menungguku," racaunya sambil menangis.
"Kau adalah milikku ... aku pastikan kau hanya menjadi milikku!" teriaknya.
Kembali ke gereja. Alexa menangis di pelukan ibunya. Margarita juga menangis. Harry memeluk ayah mertuanya.
Setelah berfoto-foto mereka pun menuju gedung untuk melanjutkan resepsi.
Sebuah ball room hotel internasional milik Brandon. Ruangan dengan luas dan dihiasi banyak bunga juga kain warna-warni menjuntai.
Sepasang suami istri duduk di pelaminan mewah bersama kedua orang tuanya. Hanya Harry yang tak diapit oleh kedua orang tuanya. Keluarga Robinson memang hanya segelintir dan tidak berhubungan dengan baik.
"Sudah waktunya ganti baju," ujar penata rias.
Sepasang pengantin pun pergi ke ruangan untuk berganti baju. Harry sangat ingin mencium istrinya, tapi Alexa benar-benar sangat sulit terlebih ada banyak penata busana dan rias ada bersama mereka.
Keduanya kini memakai gaun warna pink sedang Harry mengunakan setelan formal warna navy.
Setelah mereka berganti baju. Giliran Brandon dan Margarita juga kembar tiga Pierce.
"Mama ... kami lapar!" rengek Ariana.
"Baiklah," Margarita melihat maid yang bersama tiga anaknya.
"Rosana, Elia dan Cindy, bawa nona dan tuan muda kalian untuk makan!" titahnya.
"Baik, nyonya!"
Ketiganya digandeng oleh maid. Margarita menatap nya.
"Jangan khawatir, Joe akan mengawasi mereka!" ujar Brandon menenangkan.
Pesta berlangsung meriah. Hingga di sesi terakhir, Alexa berganti gaun warna gold begitu juga Harry. Para tamu masih banyak berdatangan bertanda betapa besarnya usaha mereka hingga para kolega dan orang-orang penting berdatangan silih berganti.
Alexa sudah kram tangannya bersalaman bahkan kakinya juga sudah pegal karena terlalu lama berdiri. Margarita menyuapi sepasang pengantin itu.
"Thanks mam," ujar Harry kenyang.
"Anytime dear," sahut wanita itu.
Sosok cantik dengan gaun hitam dengan belahan dada sangat rendah dan belahan paha tinggi. Gadis itu berdandan dan berusaha mengalahkan sang mempelai wanita. Sayang, kecantikan Alexa memang tak bisa tertandingi.
Harry menatap datar gadis yang menyalaminya.
"Harry ... apa kau ingat aku?" tanya Federica.
"Tidak ... kau siapa?" tanya Harry memang lupa siapa gadis di hadapannya.
"Aku Federica, kekasihmu!"
bersambung.
wadidaw