
Axel, Ariana dan Aaron sudah rapi. Mereka mengobrol tentang kejadian kemarin.
"Apa kau yakin kita akan sekolah di sekolah biasa?" tanya Axel.
"Iya lah. Bosan aku sekolah di tempat biasa. Mereka terlalu sombong!" sahut Aaron kesal.
Ariana juga mengangguk.
"Aku juga tak suka sama anak perempuan di sekolah!" cibir Alexa tak suka.
Axel dan Aaron mengangguk setuju. Kini mereka berada di meja makan bersama ayah, ibu dan kakak perempuannya.
"Dad, boleh tidak kami sekolah di negeri?" pinta Axel dengan tatapan memohon.
Brandon menatap putranya. Bukan hanya Axel yang memohon, tapi dua anak kembar lainnya juga memohon padanya.
"Kenapa, kalian tidak mau sekolah di sini?" tanyanya.
"Kami kurang suka sama anak-anak lainnya," jawab Axel lemah.
"Kau tau di luar sana lebih berbahaya dari di sini?" kecam Brandon serius.
"Tapi, anak-anak itu sombongnya... padahal aku yakin mereka belum bisa apa-apa!" sahut Axel dengan mimik tak suka.
"Kamu juga belum bisa apa-apa," sela Alexa mencibir.
"Kakak!" pekik Ariana kesal.
Alexa terkikik geli. Ia tahu jika adik-adiknya itu ingin sekolah di tempat anak-anak yang kemarin mereka temui di taman.
"Apa karena Leana, Rio, Andre yang kemarin kalian bertemu dengannya?" tanya Alexa penasaran.
"Iya, sepertinya mereka lebih tulus," jawab Aaron.
Alexa mengangguk. Anak-anak yang mereka temui di taman jauh lebih beragam. Di sana mereka juga mendapati anak-anak yang berasal dari elite. Semua bermain tanpa ada perbedaan.
"Nanti Daddy pikirkan lagi ya," ujar Brandon.
Pria itu sudah lama malang-melintang di dunia mafia dan dunia yang biasa. Tentu ia sangat mengenal bagaimana orang-orang.
"Sayang," peringat Margarita.
"Kita bicarakan nanti ya," ujar Brandon.
Margarita diam. Brandon mengajak tiga anak kembarnya. Ia yang mengantar mereka ke sekolah.
"Kenapa aku nggak kepikiran sekolah di luar ya?" gumam Alexa.
"Kami hanya ingin yang terbaik. Sekolah di sini sangat baik dan lengkap," sahut Margarita.
"Sama saja. Buktinya banyak anak-anak dari luar sana pintar dan mendapat beasiswa dari kampus terkenal. Bahkan kemarin nilaiku sama dengan penerima beasiswa itu," sahut Alexa santai.
Margarita diam. Ia melupakan dirinya yang berasal dari dunia luar sana. Dunia biasa saja.
Sedang kendaraan yang membawa Brandon dan tiga anaknya sudah sampai di sekolah.
Mereka pun turun. Pria itu mengantarkan ketiganya hingga kelas. Banyak anak-anak diantar bersama para maid.
"Cepat talikan sepatuku bodoh!" teriak salah satu anak murid.
Bocah perempuan itu menghardik suster yang mengantarnya. Ia menyorong kakinya ke muka wanita yang jauh lebih tua darinya itu.
"Tidak sopan sekali!" tegur Ariana tak suka.
"Daddy akan jemput kalian, jadi tunggu ya!" ucapnya pada ketiga anak-anak.
"Oke Daddy!" sahut ketiganya.
Brandon memakai kacamata hitamnya. Banyak guru dan baby sitter menahan napasnya karena melihat ketampanan pria itu.
"Astaga ... dia seksi sekali," puji salah satu wanita dengan air liur yang nyaris menetes.
Brandon naik mobil mewahnya. Kendaraan roda empat itu pun meluncur meninggalkan. halaman sekolah.
Seperti biasa. Jam istirahat pun berbunyi. Banyak anak-anak keluar kelas untuk menemui babysitter mereka meminta bekalnya.
"Mama masak apa buat bekal kita hari ini?"
Axel membuka kotanya tak sabaran. Ketiganya tersenyum lebar.
"Wah ... sosis bakar, kentang goreng dan ayam nuget!" seru Ariana antusias.
"Mari makan!" seru Aaron lalu memakan sosis nya.
Ketiganya makan dengan hikmat. Tak ada lagi yang berani mengusili mereka lagi setelah kejadian kemarin.
Waktu berlalu. Kini mereka pulang menunggu dijemput ayah mereka. Sudah lima belas menit mereka menunggu. Tapi, yang ditunggu belum datang juga.
"Sayang, ini sudah terlalu lama. Apa kalian tidak bisa menghubungi ayah kalian?" tanya salah satu guru.
"Kami tak punya ponsel Miss!" jawab Ariana dengan mata sendu.
"Kalau begitu, biar Miss telepon ayah kalian ya!" ketiga anak itu mengangguk.
"Kalian tahu nomor ponselnya?" mereka menggeleng.
"Kami sendiri tak punya ponsel, Miss," sahut Axel.
Wanita itu hanya tersenyum miring. Rencana ingin memiliki nomor pribadi pria terkaya pupus sudah. Ia menggeleng pelan. Hampir seluruh murid di sekolah ini memiliki ponsel.
"Ya, sudah. Biar Miss ikut menunggu di sini," ujar wanita itu lalu mendudukkan dirinya di lantai bersama tiga anak itu.
Dua puluh menit barulah Brandon datang. Wajahnya begitu bersalah pada ketiga anak kembarnya. Pria itu ada meeting dan membutuhkan waktu lama.
"Daddy!" pekik ketiganya.
Brandon memeluk anak-anaknya. Pria itu minta maaf dengan lirih. Guru mereka ikut berdiri. Wanita itu tersenyum sangat manis ketika Brandon bersitatap dengannya.
"Ayo kita pulang!" ajaknya.
Wanita itu bengong ketika ditinggal begitu saja. Ketika sampai mobil, baru lah Ariana berteriak.
"Terima kasih, Miss!"
Baru lah senyum terbit di bibir wanita itu. Mobil itu berlalu. Wanita itu meraba dadanya yang berdetak kencang.
"Kenapa kau malu mengucap terima kasih di depanku Tuan Pierce!" gumamnya bermonolog.
"Sampai harus meminta putrimu mengucapkannya," lanjutnya dengan perasaan gembira.
bersambung.
laah GeEr dianya ...
next?