
Semua orang ribut akan pernyataan Alexa barusan. Aksi bentak pun mulai terjadi. Para pembeli mulai baku hantam. Semua barang-barang diamankan begitu juga Alexa. Joe mengamankan gadis itu. Aksi saling tembak pun terjadi. Banyak orang berhamburan keluar ruangan. Begitu juga Joe dan para pengawal. Mereka melarikan diri dan mencari tempat aman.
Beberapa orang menghadang dan memberi pukulan pada salah satu pengawal Alexa. Hingga terjadilah perkelahian. Alexa ikut berkelahi. Gadis itu juga menguasai empat teknik bela diri. Kekuatannya sama dengan delapan pria besar.
Hingga terdengar suara rentetan senjata. Mereka semua tiarap. Joe melindungi nona mudanya dengan menindih tubuh gadis itu di bawah tubuhnya.
"Nona, kita merayap!" ajak pria itu.
Joe berjalan seperti kadal, sedang Alexa menggunakan lengan dan kakinya untuk bergerak.
"Arrghh!"
"Nona, anda terluka?"
"Tanganku lecet, Uncle!" rengek gadis itu nyaris menangis.
"Sabar sayang, sebentar lagi. Di tempat itu kita aman!' tunjuk Joe pada sebuah tempat.
"Ayo bergerak!" titah pria itu.
Alexa setengah mati menahan sakit pada lengannya yang lecet. Begitu juga dengkul dan pahanya. Gadis itu meringis kesakitan. Andai ayahnya tahu hal ini, sudah pasti tempat itu akan di bumi hanguskan.
Setelah sampai tempat aman. Barulah Joe mengangkat tubuh nonanya. Ia melarikan Alexa ke mobil dan membawa kendaraan itu dengan kecepatan tinggi. Ia membiarkan ketiga anak buahnya, karena ia yakin mereka pasti selamat.
"Nona, anda tak apa?" tanya Joe.
Alexa meringis dan memperlihatkan lengannya yang lecet dan juga celananya yang kotor. Ada titik darah di sana, Joe meyakini jika kaki Alexa terluka.
"Kita ke rumah sakit ya," ajak pria itu dengan nada sedih.
Sedang di tempat pertikaian. Rentetan senjata terjadi. Semua tewas mengenaskan. Tempat itu pun terbakar hangus, bersama mayat-mayat yang bergelimpangan.
Joe sudah sampai di rumah sakit. Ia menggendong nonanya untuk mendapat perawatan. Beberapa tim medis yang menanganinya. Joe menunggu di ruang tunggu.
Tak lama, gadis itu keluar dengan kursi roda. Tangannya dibalut perban.
"Tidak ada luka serius hanya lecet-lecet saja. Tebus resep ini untuk penyembuhan selanjutnya," ujar dokter menerangkan dan memberikan resep.
Setelah mengucap terima kasih, Joe mendorong kursi roda menuju apotek yang ada di rumah sakit menebus resep. Hanya beberapa pil antibiotik dan salep agar luka cepat kering dan kembali seperti semula. Setelah itu, mereka pun pulang ke rumah.
"Apa perlu aku yang mengoles lukanya?" tanya Joe menggoda.
Alexa memukul pelan bahunya. Salah seorang maid menuntun dia ke kamar. Tak lama setelah masuk tiba-tiba.
Prank! Jendela dilempar batu. Joe bergegas keluar dan mencari siapa yang melempar. Sepi. Tak ada orang lalu lalang. Ia sangat yakin jika ada orang jahat bersembunyi.
"Pengawal berkumpul!" teriaknya.
Pria itu marah-marah sambil menggenggam batu yang dilempar tadi.
"Ada surat yang diikat di batu itu ketua!" ujar salah satu anak buahnya memberitahu.
Joe baru melihat. Ia pun segera mengambil. kertas yang diikat di batu lalu membacanya.
"Aku memintamu menjaga putriku. Bukan berciuman dengannya!"
Begitu tulisannya. Joe tampak gugup setengah mati. Ia menelan saliva kasar. Ia yakin itu adalah tulisan kakak angkatnya.
"Sudah kalian kerja lagi!" titah pria itu.
Ia pun masuk dan duduk di kursinya. mengacak kasar rambutnya. Ia akan mencoba perlahan mengubah semuanya. Mungkin Alexa akan heran tapi pasti terbiasa setelahnya.
"Maaf, sayang. Mulai sekarang tidak ada ciuman lagi," ujarnya.
"Tuan, anda diminta Nona, menemaninya tidur," ujar maid.
"Aku akan masuk, tunggulah di luar dulu."
Joe masuk. Pria itu kini harus membatasi diri. Hanya mengatakan jika ada yang melempar batu.
"Benar Nona, saya takut jika ada penyusup masuk," jelasnya setengah berbohong.
Alexa pun mengerti. Salah satu maid diminta untuk menemaninya.
"Coba belajar mandiri, Nona. Anda sudah besar dan bisa berkelahi. Tentu, anda tak takut tidur sendiri kan?' saran Joe.
Alexa tercenung.
"Kau sudah besar, aku takut khilaf dan kau akan membenciku karena kekhilafanku," lanjutnya dengan suara pelan sekali.
Joe pun pergi untuk berjaga-jaga. Alexa tidur dan memeluk maid yang ikut tidur bersamanya. Maid itu mengelus sayang nona mudanya.
"Anda sebenarnya masih terlalu polos dengan niatan Tuan Joe Nona. Ia begitu memanfaatkan keluguanmu," ujarnya dengan nada menyesal.
Keesokan harinya, para bayi sudah ribut. Mereka ingin berenang. Alexa belum bangun dari tidurnya.
"Nona, bangun. Anda harus bersiap!" teriak Joe mengetuk pintu.
Alexa terbangun dengan mata masih mengantuk. Maid masuk dan memandikan nonanya. Usia mandi dan berpakaian. Gadis itu turun untuk sarapan. Ketiga adiknya berenang di air hangat. Para maid harus menyelang air dari kamar mandi dan menyalakan air panas agar menghangatkan air kolam yang dingin. Walau Alexa berdecak kesal.
"Padahal kalian bisa ambil ban berbentuk kolam kecil itu agar tak begitu menyusahkan kalian!"
Para maid hanya menggaruk kepala mereka.
"Jaga anak-anak!" titah gadis itu.
Joe mengantar nona mudanya untuk memimpin di berbagai rapat dan meeting. Juga meet and great. Kegeniusan gadis itu benar-benar membuat semua orang terpukau. Banyak pria mendekati untuk berkenalan. Joe tadinya melarang para pria mendekat. Kini ia hanya mengawasi saja.
Alexa pun menatap pria itu bingung. Tapi, gadis itu hiraukan. Joe akhirnya angkat bicara.
"Nona, baiknya dari sekarang anda harus lebih banyak mengenal orang lain dan menjalin hubungan dekat di antaranya. Agar nona bisa menilai," ujar Joe.
Alexa mengerti sekarang. Ia sudah tujuh belas tahun. Tentu keputusan dan tindakannya harus dia pikirkan begitu juga pergaulan.
"Baik, Uncle. Aku akan berpacaran dengan Tuan Muda Smith," sahut gadis itu.
Joe sedikit sakit hati. Tapi, ia segera sadar diri. Sebuah ancaman kembali ia dapatkan tadi pagi. Ia sangat yakin jika itu adalah dari ayah Alexa.
"Silahkan Nona. Tuan muda Smith orang baik dan pekerja keras," ujar pria itu dengan nada sedikit gusar.
Alexa tersenyum. Ia memang tertarik dengan pria tampan bernama Andrew Smith itu. Pria itu juga menyatakan ketertarikannya.
bersambung.