MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
HARRY AND ALEXA



Pernikahan Alexa masih terhitung empat bulan lagi. Banyak sekali persiapan yang dilakukan oleh Brandon. Pria itu akan mengumumkan pernikahan putrinya dengan mendiang putra dari Tuan Robinson.


Harry sudah tiba satu jam yang lalu. Tiga anak kembar semakin lengket dengan pria itu, mereka bermain bahkan belajar. Margarita senang melihat Harry yang tak canggung dengan anak-anak. Sementara Alexa belum turun dari kamarnya. Ia dirias oleh juru rias ternama.


"Sayang, jangan kau naik ke tubuh Harry. Nanti bajunya kusut!" teriak Margarita menegur salah satu putranya.


"Tidak apa, Nyonya," sahut Harry.


"Panggil aku Mommy sayang," pinta Margarita.


"Baik Mom," sahut Harry dengan senyum lebar.


"Brother, ini apa?' tanya Ariana pada sebuah gambar.


"Ah, itu namanya Piramida, sayang" jawab pria itu lembut.


Margarita tersentuh melihat cara penanganan Harry pada anak-anaknya. Alexa lebih keras jika mengajari ketiga adik kembarnya itu. Walau keras tapi ketiganya justru lengket dengan Alexa ketimbang dirinya yang selalu memanjakan mereka.


"Nyonya, Nona meminta jika Nyonya yang memilihkan gaunnya," tiba-tiba seorang maid menghampiri dirinya.


"Ah, anak itu!" gerutu Margarita sebal.


Walau demikian, wanita berusia empat puluh lima tahun itu tetap naik ke atas menuju kamar Alexa menggunakan lift.


Sementara Margarita menangani putrinya. Brandon menatap tiga anak lainnya. Ariana sudah cantik dengan dress warna hijau muda dengan aksen pita di dadanya. Rambut keritingnya digerai dan diberi pemanis pita, Ariana manis sekali. Sedang dua jagoan Pierce sangat tampan dengan baju formal mereka. Walau kini mulai sedikit kusut karena mereka bermain dengan Harry.


"Jangan bergulat seperti itu. Kalian sebentar lagi akan dipajang di televisi!" peringat Brandon pada dua putranya yang mulai saling dorong.


Keduanya pun cemberut. Ariana dengan manis duduk di pangkuan Harry. Gadis kecil itu sepertinya mengantuk.


"Sayang, jangan tidur!" Harry membangunkan Ariana dengan mengelus pipi bulat dengan lembut.


Ariana merengek manja. Ia benar-benar ngantuk.


"Nanti, tidak ada yang melihat kecantikanmu jika tidur," ujar Harry lagi.


"Uugghh!"


Mulut Ariana mengerucut. Ia lucu sekali ketika berwajah sebal begitu. Brandon mengambil gadis kecilnya dan menggendong lalu menciuminya.


"Daddy!" rengek Ariana manja.


Pintu lift terbuka. Dua perempuan cantik keluar dari kotak segiempat itu. Harry menatap tanpa kedip. Alexa begitu cantik luar biasa. Sedang Brandon tersenyum lebar.


"Sister!" dua jagoan Pierce berlarian memeluk kakak perempuannya. Alexa hendak menggendong keduanya langsung dilarang oleh Margarita, sang ibu.


"Jangan sayang. Nanti saja gendongnya ya!"


Keduanya menunduk sedih. Mereka ingin sekali digendong kakak perempuannya yang sangat cantik itu.


"Sudah, tidak apa-apa!" tekan Alexa lalu melirik ibunya sebal.


Margarita mencebik kesal. Ia ingin putrinya terlihat anggun di depan kamera. Dua jagoan kini sudah ada digendongnya.


"Kau cantik sekali, sister!" puji Axel dengan senyum lebar.


Alexa memberi dua adiknya itu ciuman di pipi. Keduanya meminta turun dari gendongan gadis itu. Alexa menurunkan keduanya. Ia menatap di kaca, lalu membenahi gaunnya.


"Hanya sebentar kan?" sindirnya pada sang ibu.


"Sayang," tegur Harry.


Alexa menatap sebal tunangannya itu. Harry langsung menarik lengan Alexa dan mengaitkannya di lengannya.


"Apa bibir itu ingin dicium?' Alexa membelalak.


"Ih ... jangan mesum!" bisik gadis itu kesal.


Harry terkekeh mendengarnya. Para wartawan sudah berkumpul di halaman. Ada dua ratus penjaga mengelilingi para wartawan yang hendak merangsek ke depan.


Joe sebagai pembicara awal berada di atas podium yang tersedia mik. Ada banyak ponsel di atas podium untuk merekam perkataan mereka.


"Selamat sore para rekan wartawan!" semua menyahut sapaan dari Joe.


"Saya, sebagai juru bicara akan menyatakan jika hari ini Tuan Pierce akan mengumumkan sesuatu" lanjutnya.


Joe turun dari mimbar. Ia mengangguk hormat pada atasan sekaligus kakak angkatnya itu.


Brandon berdiri di atas podium. Semua kamera menyorotinya. Wajah tampan dan datar serta penuh arogansi menguar. Banyak para wartawan wanita menelan saliva. Mereka bukannya takut tapi malah terangsang.


"Astaga, pesonanya benar-benar kuat dan membuatku basah," bisik salah satu wartawati.


"Iya, aku yakin di ranjang pria itu sangat buas. Aku rela mati dengan mengerang nikmat di bawah tubuhnya," bisik satunya lagi.


"Baik, hari ini saya mengumumkan sesuatu. Empat bulan mendatang putriku akan menikah dengan Tuan muda Robinson yakni, Harry Robinson!"


"Aku juga akan memperkenalkan tiga anak kembarku, ini Axel Alexander Pierce, Aaron William Pierce dan Ariana Margareth Pierce!"


Ketiganya maju dengan berani. Wajah imut dan menggemaskan muncul di sana. Semua kasak-kusuk. Mereka tak tau kapan ketiganya lahir. Tapi, melihat kemiripan ketiganya semua yakin jika benar-benar kembar.


"Tuan, tanggal berapa Nona Alexandra menikah?" tanya salah satu wartawan.


"Tanggal empat belas!" jawabnya datar.


"Ketiga anak kembar anda usia berapa? Apa mereka lahir ketika anda bersembunyi kemarin?" cecar salah satu wartawan.


Brandon tidak menjawab. Pria itu sudah bosan. Meminta semua ya masuk ke mansionnya.


"Tuan!" panggil para wartawan belum puas.


"Ini adalah pasangan yang akan menikah empat bulan lagi!" seru Joe.


Para wartawan akhirnya menghentikan keingintahuan mereka. Harry dan Alexa bersanding. Harry mengenakan baju formal berwarna biru tua. Sedang Alexa mengenakan gaun warna navy.


Wartawan diminta membubarkan diri setelah melakukan sesi foto pada pasangan. Sepasang kekasih ini masuk ke mansion.


"Dad, aku ingin mengajak Alexa makan malam romantis," pinta Harry.


Brandon menatap putrinya yang memandangnya penuh harap. Gadis itu sangat cantik. Ia melihat jam rolex di tangannya.


"Pergi lah. Dan pulangkan ketika pukul 10.00 malam!"


Harry tersenyum. Ia mengangguk sedang Alexa memeluk ayah kemudian mencium pipinya.


"Thanks, Dad!" bisiknya.


Alexa mengandeng lengan tunangannya mesra. Brandon menatap punggung ke duanya yang menghilang di balik pintu.


Sebuah helaan napas kasar keluar dari mulut pria itu. Sebuah pelukan melingkar di pinggangnya. Brandon mengelus tangan halus itu. Ia pun berbalik.


"Sayang," panggil wanita yang kini menatapnya penuh cinta.


Brandon membenamkan bibirnya di bibir bergincu istrinya. Dua benda kenyal itu bergerak saling menikmati.


"Anak-anak mana?" tanya pria itu dengan napas menderu.


"Mommy, Daddy!" panggil Axel.


"Kami lapar!" teriaknya kemudian.


keduanya terkekeh. Lalu Mereka mendatangi putra mereka.


Sedang di tempat lain. Harry baru saja menghentikan kendaraan mewahnya di sebuah restauran ternama.


Setelah menyerahkan kunci pada petugas valet. Dua manusia yang sedang jatuh cinta ini saling bergandengan tangan.


"Selamat malam Tuan, Nyonya. Apa anda sudah reservasi?" sapa salah satu pelayan dengan ramah.


"Atas nama Harry Robinson!" jawab Harry biasa saja.


Pelayan itu langsung sigap membawa mereka ke ruang paling bagus dan sangat privasi.


Alexa menatap kagum pemandangan yang disajikan. Sebuah balkon dengan pemandangan danau perak.


"Ini indah sekali!" pujinya takjub.


"Memang indah. Semua harus serba indah jika bersamamu," ujar Harry mesra.


Pria itu memeluk pinggang ramping gadisnya. Kepalanya ia letakkan di bahu Alexa.


"Hmmm," gumam sang gadis sambil menutup mata.


Alexa menikmati pelukan Harry. Pria itu memberikan rasa nyaman dan aman pada sang pujaan. Harry bisa saja menggunakan kesempatan tapi tak ia lakukan. Ia benar-benar menghormati kekasihnya.


"Sayang, aku mencintaimu," ungkap pria itu tulus.


Alexa membalikkan tubuhnya. Ia menatap lekat netra di depannya. Mencari kejujuran dan kenyamanan. Gadis itu masih takut dirinya disakiti nanti. Ia baru saja mendapat peristiwa. Salah satu maidnya bercerai karena mendapati suaminya selingkuh.


"Sayang, aku ingin bertanya," ujar gadis itu.


"Apa yang hendak kau tanyakan?" Harry bertanya ulang.


"Apa itu selingkuh?"


Bersambung.


lah kan Alexa anaknya polos banget.


next?