
Alexa bermain dengan tiga adiknya. Gadis itu mengajari banyak hal pada Aaron, Ariana dan Axel.
"Pini batahali ... pini pulan tlus pintan ... bawan, bujan, penali ...,"ujar Axel menunjuk gambar yang di maksud.
"Pelangi, sayang," ujar Alexa meralat.
"Biya ... belani," ujar Axel.
Alexa tertawa, ia menciumi ketiganya dengan gemas.
"Nona, ada pergerakan di distrik C. Jual beli senjata ilegal berlangsung ricuh!" lapor Joe dengan wajah datar.
"Hmmm ... baiklah. Kita pergi!" ujar gadis itu.
"Jaga adik-adikku!" titah gadis itu.
Semua maid membungkuk hormat. Alexa pun dengan langkah enteng mengikuti Joe. Menaiki mobil anti peluru. Mereka pun pergi ke distrik yang tengah terjadi kericuhan tersebut. Butuh waktu satu jam untuk sampai tempat itu. Sudah terjadi tembak menembak di sana.
"Anak buah sudah mengatasi situasi, Nona!" ujar Joe memberitahu.
Alexa mengambil senjatanya. Ia cukup terkejut ketika melihat senjata plastik dengan warna hijau terang.
"Kenapa aku salah lagi bawa senjata!" pekiknya kesal.
Joe hanya memutar mata malas. Kecerobohan nonanya sedikit membuat mereka kesulitan.
"Ini, Nona. Saya bawa senjata lain," ujar pria itu.
Alexa mengambil senjata dari pria itu. Gadis itu keluar dan langsung menembakkan senjata-senjata itu. Beberapa orang sudah tergeletak tak bernyawa dan ada pula yang kesakitan.
"Senjata apa yang diributkan?" tanya gadis itu.
"Pistol kaliber 44 ada seribu boks!" lapor salah satu anak buah Alexa.
"Kita sudah mengamankan semuanya!" lanjut pria itu.
Alexa mengangguk. Ia bersama Joe mendatangi tempat di mana senjata-senjata itu berada. Gadis itu pun memeriksanya.
"Musnahkan semuanya!" titah gadis itu. "Senjata ini palsu!"
Semua terkejut. Mereka yakin jika itu senjata asli.
"Itu asli, Nona!"
"Ini pistol mainan! Kalian dikelabui!" teriak Alexa marah.
Joe terkejut. Ia memeriksa pistol tersebut. Benar, semua senjata itu palsu.
"Apa kalian ini hanya main-main!" bentak pria itu.
"Tunggu!"
Alexa mulai berpikir. Gadis itu kini mengerti, jika ini hanya peralihan. Ia yakin transaksi sebenarnya sedang berlangsung di sebuah distrik tertentu.
"Kita ke belakang distrik D. Sepertinya ada yang ingin bermain dengan kita!" ujar gadis itu dengan pandangan tajam.
Alexa pun langsung berjalan diikuti beberapa anak buahnya. Joe juga bersamanya. Benar dugaan gadis itu. Ada transaksi terselubung.
"Wah ... ternyata kalian ada di sini!" ujar Alexa dingin.
Semua orang menoleh. Mereka langsung menarik senjata. Tapi, anak buah Alexa lebih dulu menembakan peluru tajam pada para mafia.
"Tangkap dia! Jangan langsung membunuhnya!" titah pria itu.
Sosok pria tampak babak belur dihajar oleh anak buah Alexa. Pria itu diseret paksa.
"Bukan pistol tapi rudal yang diselundupkan, Nona!" ujar Joe ketika membuka peti kemas.
"Bereskan!"
Joe meminta semua anak buah mengangkut senjata pembunuh masal itu. Dengan menggunakan mobil khusus, mereka mengangkut benda itu.
"Sudah beres, Nona!" sahut anak buah.
Alexa mengangguk puas. Gadis itu menatap sosok pria yang sudah terluka parah.
"Jangan pernah bermain-main dengan keturunan Pierce, Tuan Zeus Byork!" ujar gadis itu lalu menekan luka tembak yang mengenai dada sang pria.
Zeus mengerang kesakitan. Lalu perlahan, ia mati karena kehabisan darah. Alexa mengusap wajah pria itu dan tertutuplah matanya.
"Selamat jalan Tuan. Toh, istrimu pasti akan bahagia dengan kematian mu!" ujar gadis itu lalu meninggalkan jasad pria tampan itu.
"Kita pulang, Uncle! Bereskan mayat Tuan Byork!"
"Baik, Nona!"
Joe menyuruh beberapa orang untuk mengurus jasad pria yang sudah tak bernyawa itu. Lalu mengirimkan karangan bunga pada jandanya.
"Nona, kita harus menuju kasino. Katanya di sana ada seseorang yang begitu beruntung menang judi rolete senilai satu juta dolar!"
"Kita ke sana!"
Alexa menaiki mobilnya lagi. Joe ikut bersamanya. Dalam waktu tiga puluh menit, mereka sampai ke tujuan. Kasino terbesar di kota itu. Semua karyawan membungkuk hormat ketika melihat gadis itu masuk.
"Itu orangnya, Nona!" sahut manager kasino.
Sosok pemuda yang begitu angkuh. Pria itu selalu beruntung, semua taruhannya tepat.
"Apa anda mau bermain di sasana lain, Tuan?" ajak Alexa.
"Tidak. Aku merasa keberuntungan ku ada di mesin putar ini!" tolak pria itu.
"Baiklah. Kalau begitu. Kita bermain satu kali lagi, Tuan!" ajak gadis itu.
Alexa memutar terlebih dulu benda itu. Hal itu membuat sang pemuda terkejut. Ia sudah menghapal berapa angka kecil dan angka besar berhenti. Alexa memutar kembali benda itu.
"Aku pasang kecil di angka lima Tuan!" ujar Alexa.
"Aku juga pasang kecil di angka tujuh!"
Alexa memutar kembali benda itu dan melempar dadu. Pemuda itu menelan saliva kasar. Ia sudah bertaruh semuanya. Ia yakin jika dia kalah saat ini.
Rolete berhenti di angka lima. Alexa menang. Pemuda itu menuduh jika pihak kasino curang.
"Curang bagaimana. Rolete berputar ketika dadu dilempar. Aku juga tidak tahu jika berhenti di angka lima!" tekan Alexa.
Pemuda itu bangkrut seketika. Alexa pun pergi meninggalkan tempat itu.
Bersambung.