
Alexa cukup terkejut melihat aksi calon suaminya itu. Sedang pria yang hendak merebut remote meringis kesakitan. Para ketua klan terdiam dan memilih menyingkir dari tempat Harry berdiri.
"Sudah kubilang jangan ada yang menyerobot!" tekannya datar.
Brandon tertawa sambil bertepuk tangan. Semua menatap heran padanya.
"Yang kalian recoki itu adalah menantuku!" teriaknya.
"Harson Blackbone adalah calon menantumu?" tanya salah seorang ketua klan.
"Iya, benar. Saya adalah calon suami dari Alexandra Pierce!" jawab Harry langsung.
"Ah ... kenapa kau tak mengatakan jika kau memiliki menantu orang hebat? Kau bilang dari putra Robinson!" sela orang tadi.
Brandon tak menanggapi perkataan orang itu. Alexa mendekati tunangannya dan mereka saling berpelukan lalu berciuman sebentar.
"Kau hebat sekali sayang," puji gadis itu.
Semua menyingkir. Jual beli senjata selesai. Hingga ketika beralih pada sepuluh kerangkeng besar yang berisi manusia-manusia.
Harry menatap gadisnya, memberi kode agar segera menyingkir dari sana. Alexa berbisik pada ayahnya. Joe juga sudah tau apa rencana dari Harry.
Ketiga orang itu pura-pura keluar untuk melihat lokasi lain. Setengah jam penawaran terjadi. Harry sengaja memperlambat penawaran.
"Hei ... aku mau wanita itu dan pria itu!" teriak salah satu pria dengan setelan mewah.
Sepasang manusia telanjang di keluarkan. Harry sengaja hanya mengeluarkan satu persatu manusia yang akan mereka jual.
Pria bersetelan mewah itu menatap dua wajah kotor di depannya. Bukan hanya wajah tapi seluruh tubuh keduanya juga kotor.
"Siram mereka dengan air!" titahnya.
Salah seorang anggota langsung menyiramkan air pada keduanya.
"Wanitanya cantik dan prianya tampan," ujarnya menanggapi.
Bahkan pria itu meremas anggota tubuh si wanita yang menggelantung padat bulat dan menggairahkan.
"Aku ingin mereka!" ujarnya.
"Mereka seharga 2000 dolar tuan!" jawab Harson Blackbone.
"Aku bayar cash!" ujar pria itu tak ambil pusing.
Ketika transaksi akan di lakukan tiba-tiba. Tempat mereka digerebek.
"Semuanya diam di tempat!" teriak beberapa orang berpakaian hitam.
Semua panik dan langsung melepaskan tembakan. Beberapa orang saling baku hantam. Harry juga mulai memukuli para anggota mafia yang hendak menculik manusia-manusia yang dijual. Pria itu membuka semua kerangkeng.
"Semua keluar dan pergi ke arah barat!" teriak Harry.
Hingga semuanya berada di area barat. Brandon, Joe dan Alexa ada di sana. Mereka membagikan pakaian dan makanan. Semuanya mengucap terima kasih. Tak lama pendata negara datang bersama beberapa kepolisian. Mereka langsung menangani korban human trafickking tersebut.
"Kok aku merasa bangga ya, dengan apa yang kulakukan?" ujar Brandon senang.
Pria itu merasa menjadi pahlawan karena telah menyelamatkan puluhan orang dari penjualan dan perbudakan.
"Tuan, sebentar lagi piala dunia, apa kita perlu ikut?" tanya Joe.
"Kita ikut. Tapi, kita kacaukan saja. Bayar mahal negara-negara yang tak berpeluang masuk padahal mereka main bagus!" titah Brandon dengan pandangan berkilat.
Tak lama Harry datang seorang diri. Pria itu masih segar dan santai.
"Ada apa nih?" tanyanya penasaran.
"Kita akan mengacau di piala dunia!" ajak Joe.
Harry tersenyum. Ia mengangguk.
"Kita unggulkan Colombia, Afrika Selatan dan Korea Utara!" ujar Harry memberi saran.
"Mereka kuat, tapi tak bisa lolos delapan belas besar," lanjutnya.
"Kita bayar mereka mahal, hancurkan negara-negara yang biasa melenggang di sepak bola!" lanjutnya dengan kilatan sadis.
"Ide bagus!" sahut Joe.
"Oke, kita pulang?" ajak Alexa.
"Aku sudah lapar!" rengeknya.
Brandon lalu tertawa mendengar rengekan putrinya. Mereka pun beranjak dari tempat itu.
Sepasang mata menatap keempat manusia yang tertawa bahagia.
"Aku akan membalas sakit hatiku padamu Joe!"
Ada nada kemarahan luar biasa. Terlebih tangan mengepal kuat. Dendamnya membukit setelah pernikahan rahasianya diketahui, ayahnya mencoretnya dari daftar ahli waris.
Sedang Joe yang masuk mobil menatap arah lain. Brandon dan Harry menatap arah yang sama dengan pria itu.
"Jangan khawatir, Joe. Aku akan melindungimu," ujar Brandon lalu menepuk bahu adik angkatnya itu.
Joe mengangguk. Mereka pun naik mobil dan beranjak dari tempat itu.
bersambung.
ah ... next?