MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
KECEWANYA FEDERICA



Sosok cantik dengan balutan seksi warna merah menyala yang begitu kontras dengan kulitnya yang putih bersih.


Dadanya besar dan padat. Semua orang tau jika dada itu disumpal silikon hingga bisa sebesar dan sekenyal itu sama dengan bokongnya yang terlihat bulat dan padat. Gadis itu tak peduli dengan pandangan orang. Ia melangkahkan kaki jenjangnya yang dihiasi Stiletto warna senada dengan dress ketatnya.


"Maaf, nona. Anda kau kemana?" tanya resepsionis menahan langkah gadis cantik nan seksi itu.


"Saya adalah kekasih dari atasanmu!" jawab gadis itu acuh.


Ia hendak kembali melangkahkan kakinya. Tapi dengan keras sang resepsionis menarik tangannya dan nyaris menghempaskan tubuh gadis itu ke lantai.


"Jangan kurang aja kamu!" teriaknya.


"Maaf nona. Atasan saya sudah berpesan tidak memperbolehkan siapa pun yang tidak berkepentingan naik ke ruangannya!" ujar resepsionis tegas.


"Kau ingin dipecat!" bentak gadis seksi itu.


"Atasan saya tidak akan memecat saya, nona!" sahut resepsionis yakin.


"Kau tak tahu siapa aku!" bentak sang gadis.


"Aku adalah Federica Thompson, putri dari pengusaha ternama Hendrik Thompson!" lanjutnya berteriak.


"Maaf Nona Thompson. Walau begitu, kami tetap melarang anda naik ke atas, karena anda tidak berkepentingan atau setidaknya memiliki janji dengan atasan kami!" seru resepsionis sangat tegas.


"Brengsek!" maki Federica marah.


"Aku pastikan kau akan dipecat sekarang juga!" serunya jumawa.


Resepsionis yang berjenis kelamin perempuan itu acuh. Ia sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Ia sangat jelas mendengar perintah atasannya, melarang masuk bagi yang tak berkepentingan atau mengatur janji.


Federica mengambil ponsel mahalnya. Ia mencoba menghubungi pria pemilik perusahaan. Sayangnya, nomornya sudah diblokir oleh pemilik nomor yang ia hubungi.


"Sial!" umpatnya kesal.


Merasa percuma jika menelepon pemilik gedung. Gadis cantik bermake-up tebal itu memilih meninggalkan lobby dengan anggun.


"Ck ... pria ini dari dulu susah untuk didekati. Bodohnya aku, ketika ia mulai membuka hati, aku malahan pergi," gumamnya sesal.


"Harry suka sekali dengan kesederhanaan," ujarnya mengingat.


Ia menatap dirinya dalam berbusana. Ia yakin jika pria yang dulu pernah menjalin kasih dengannya itu bakalan langsung melemparnya ke jalan raya.


"Aku harus merubah imageku!" ujarnya.


Gadis itu pun menuju mobil yang tak jauh terparkir di sana. Tak lama kendaraan senilai 1,8 M itu meluncur membelah jalan raya.


Kendaraan roda empat dengan list cat emas. Ia meminta para penjaga menjaga mobil itu dengan nyawanya sendiri.


"Jaga mobilku jangan sampai lecet!" titahnya sambil menyerahkan dua lembar uang seratus dolar.n


Tentu saja penjaga parkir akan menjaganya sepenuh hati. Gadis itu masuk sebuah butik ternama. Ia memilih baju sederhana. Pilihannya jatuh pada sebuah dress cantik berwarna shock pink. Sangat pas ditubuhnya. Lalu ia juga membeli Stiletto warna hitam dan juga mengganti tas tangan senada dengan sepatunya.


"Anda cantik sekali, nona," puji karyawan butik.


"Tentu saja!" sahutnya angkuh dan penuh percaya diri.


Rambut burgundynya ia urai begitu saja. Ia benar-benar sempurna. Image gadis baik-baik dan lemah lembut menempel pada dirinya saat ini.


"Kau benar-benar sempurna, Erica!" pujinya penuh percaya diri.


Setelah membayar dengan kartu unlimited-nya. Gadis itu pun kembali ke mobilnya. Sebelum ia naik. Erica mengelilingi kendaraannya. Setelah tak menemukan cacat. Gadis itu masuk dan menjalankan mobil itu untuk kembali menjalani rencana semula.


"Restauran ini, selalu Harry gunakan ketika makan siang tiba. Di sana aku bisa memesan menu diet, sambil pura-pura tak sengaja bertemu," ujarnya.


Ia terkikik geli ketika mengkhayalkan rencananya. Ia akan sukses dan akan menarik pria tampan dan kaya itu ke dalam pelukannya.


"Harry ... aku tak sabar untuk bertemu dan kembali memadu kasih bersamamu!" pekiknya senang.


Mobil mewah itu berhenti di depan loby, seorang petugas valet membukakan pintu untuknya. Gadis itu keluar dengan anggun dan membiarkan petugas membawakan mobil itu ke tempat parkir.


Erica berjalan dengan anggun. Ia pura-pura melihat benda melingkar di lengan kirinya.


Gadis itu sangat mengingat, kapan dan bagaimana gerak-gerik pria yang pernah ia kecewakan dulu. Ia hapal di luar kepala dengan semua tindak tanduk mantan kekasihnya itu.


Ia duduk di depan meja di mana dulu ia dan Harry selalu duduk di sana setiap makan siang. Meja menghadap jendela dan taman terbuka.


"Kau menggenggam tanganku dengan pandangan memujamu ke arahku," gumamnya dengan hati berbunga.


Perlahan ingatannya kembali ketika ia meninggalkan pria itu. Sebuah kontrak sebagai model. Cita-citanya sejak lama berada di depan mata. Ia memutuskan hubungan dengan Harry.


"Aku bisa menunggumu, kita tak usah putus," pinta pria itu dengan tatapan memohon.


"Tapi, aku mau fokus dengan karirku!" tolak Erica. "Aku tak mau dibebani dengan perihal asmara!"


"Lagi pula, selama kita pacaran, kau begitu kaku. Aku tak suka!" lanjutnya mengaku.


Federica berdecak kecewa. Ia memang menjalin kasih seperti orang tak memiliki hasrat. Bahkan ciuman Harry sangat minim ekspresi, benar-benar membosankan.


"Nona, ini pesanannya," ujar salah satu pelayan membuyarkan lamunan gadis itu.


Sebuah menu diet dihidangkan. Ia menatap kembali jam di pergelangannya. Ini sudah sepuluh menit. Ia pun menghela napas panjang.


Dengan perlahan, ia memakan makanannya. Walau selama mungkin ia mengunyah makanan. Ternyata, makanan itu sudah habis sebelum dua puluh menit.


Gadis itu sudah berwajah frustrasi. Ia terus memandang pintu utama restauran. Nampak pria itu belum ada tanda-tanda menampakkan diri.


Sedang di tempat lain. Harry tengah makan siang di ruangannya bersama Alexa dan tiga adik kembarnya. Pria itu menikmati masakan olahan calon istrinya.


"Ini enak sekali, sayang," pujinya sungguh-sungguh.


Alexa merona mendengar pujian dari calon suaminya. Pernikahannya hanya tinggal hitungan minggu. Mereka tadi baru saja kembali dari kantor catatan sipil untuk menetapkan kembali hari pernikahan mereka.


Makanan habis. Alexa membenahi peralatan makan dibantu oleh Harry. Pria itu tak berhenti menatap wajah cantik gadisnya.


Sebuah kecupan pria itu berikan di kening sang gadis. Ketiga adiknya langsung menghela napas protes.


"Brother!"


Alexa dan Harry terkekeh. Pria itu mengantar keempat orang beda usia itu ke lobby sambil membawa rantang tempat makan mereka tadi.


"Aku akan mengantarmu," ujarnya.


Sampai lobby, sosok pria menghampiri dan mengambil rantang yang dipegang Harry.


"Terima kasih Hans!" ujar Harry pada supir Alexa.


"Kami pulang," pamit Axel.


Harry mencium pipi ketiga adik gadisnya. Lalu dengan cepat ia mencium bibir sang gadis.


"Ck ... genit sekali kau," cicitnya malu.


Harry terkekeh. Ia benar-benar sangat menginginkan Alexa menjadi miliknya penuh.


"I love you!" ujarnya ketika gadis itu menaiki mobil setelah ketiga adiknya.


"I love you too!" balas Alexa, lalu melambaikan tangan seiring bergeraknya mobil.


Harry juga membalas lambaian tangan kekasihnya. Wajahnya tak luput dari senyum bahagia.


Sedang di restauran. Federica melangkah keluar dan menaiki mobil nya. Gadis itu kecewa. Pria yang ia harapkan tak muncul nyaris dua jam ia menunggu di sana.


"Kau jahat Harry!"


bersambung


lah ... kok?


next?