MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
DILAMAR LAGI



Papan pintar ciptaan Alexa mulai diproduksi. Banyak kalangan menunggu peluncuran produk yang berhubungan dengan anak itu. Kebanyakan pengusaha telah berkeluarga. Mereka menginginkan papan pintar itu untuk anak-anak mereka. Selain itu pihak pendidikan juga menunggu.


Alexa pun mengembangkan konsep papan pintar untuk kalangan pelajar berusia sepuluh hingga tiga belas tahun, lalu untuk remaja. Gadis itu membuat konsep keresahannya selama ini. Papan pintar bertujuan untuk ia menuang seluruh apresiasinya terhadap masalah. Bahkan papan itu bisa menahan pukulan sebesar 1.300 hingga 1.600 joule. Papan pintar itu benar-benar dibuat kuat dan hanya hancur jika pemiliknya menghancurkan benda itu dengan palu atau melindasnya dengan mobil.


"Jadi kau membuat benda yang mampu menahan benturan dan melampiaskan kekesalan pada benda mati?" tanya Harry ketika di sebuah pertemuan antar penanam modal dan suku cadang.


"Benar. Terkadang, kita memang ketika tengah menulis atau tengah meluapkan ekspresi kita. Kita akan memukul benda apa pun," jawab Alexa.


Semua mengangguk membenarkan. Mereka juga terkadang kesal dengan sesuatu dan melampiaskan pada berkas-berkas dan membuat mereka harus mengulang membuat berkas-berkas itu.


"Jadi dengan papan itu. Ketika sedang kesal. Kita pukul saja, tidak ada masalah sama sekali. Anak-anak juga ketika sedang menulis suka melempar apapun bukan?" sahut gadis itu mengemukakan pendapat.


Semua mengangguk tanda setuju. Akhirnya kesepakatan ditandatangani.


Harry mendekati kekasihnya. Menggenggam tangan lalu mencium buku-buku tangan gadis itu.


Rona merah langsung menjalar di wajah hingga kuping dan leher gadis itu. Harry begitu lama mengecup buku tangan Alexa.


"Aku mencintaimu," ungkap Harry jujur.


Alexa menatap netra amber milik pria di hadapannya. Harry mendekati wajah sang gadis lalu mengecup lembut bibir sang gadis. Tak ada pagutan napsu di sana. Harry hanya mengecup saja lalu melepasnya.


Deru napas saling terdengar. Alexa benar-benar dibuat mabuk kepayang oleh Harry. Pria itu benar-benar menghormatinya. Brendon yang melihat kemesraan itu hendak mendatangi mereka tapi langsung dicegah oleh Joe.


"Tuan!" tegurnya lalu ia menarik pria itu menjauh.


"Jangan membuat Nona Alexa membenci anda!" peringat Joe lagi.


"Tapi dia masih terlalu kecil!" sergah Brandon tak terima.


"Tuan, Nona muda sudah berusia dua puluh tahun!" sentak Joe mengingatkan pria itu. "Dia bukan anak kecil yang berusia empat belas tahun ketika anda tinggal dulu!"


Brandon terdiam mendengar perkataan Joe. Tubuhnya kaku seketika ketika teringat jika enam tahun ia meninggalkan putrinya, dan ia banyak melewatkan momen bersama anak gadisnya.


"Tuan!" panggil Joe dengan perasaan tak enak hati.


Brandon bersandar pada dinding dengan tatapan menerawang. Pria itu melakukan kesalahan besar karena keegoisannya.


"Aku hanya menjadi bayangannya saja tanpa tau bagaimana perasaannya selama ini," ujar Brandon sendu.


Joe menghela napas panjang. Ia bukannya tak memperingati tuannya itu. Tapi, apa lah daya. Joe bukan siapa-siapa yang mampu melarang Brandon melakukan apa yang ia mau.


Flashback.


"Tuan, jangan meninggalkan Nona seperti itu. Apa Tuan tak kasihan, Nona masih terlalu kecil!" ujar Joe mengingatkan kakak angkatnya.


"Jika aku meneruskan. Aku semakin gila dan akan kehilangan semuanya!" lanjutnya.


Memang pekerjaan yang begitu banyak, hingga membuat Brandon stress. Begitu menumpuk hingga ia tak bisa tidur walau hanya lima menit saja.


"Bagaimana jika Tuan cuti saja selama satu atau dua bulan?" Joe memberi saran.


"Jika hanya cuti. Para kolegaku akan tetap merongrong dan terus menggangguku. Aku bisa gila!" teriak Brandon.


"Tapi jangan meninggalkan Nona. Dia masih terlalu kecil untuk mengemban tugas sebegitu besar. Terlebih, dia masih butuh kasih sayang Tuan!"


"Aku tak meninggalkannya begitu saja, Joe. Aku tetap di sisinya menghabisi siapa pun yang menyakitinya. Tapi, aku tak menunjukkan diriku!" ujar Brandon memberi keputusan.


Maka terciptalah kisah menghilangnya suami istri itu.


Flashback end.


Harry mencium lagi bibir kekasihnya kali ini pria itu memagutnya, Alexa membalas pagutan itu. Ciuman itu makin dalam hingga ketika pasokan oksigen menipis, keduanya baru berhenti dengan napas menderu.


"Mau kah kau menjadi istriku?" pinta Harry.


"Aku mau," jawab Alexa.


"Lusa aku akan mendatangi ayahmu dan meminta dirimu aku persunting," ujar Harry lalu kembali mencium bibir sang gadis.


Alexa menikmati ciuman itu. Hanya lima menit saja ciuman itu pun berakhir. Harry menjauhi wajahnya dari Alexandra. Pria itu tak akan mampu menahan diri jika berada dekat dengan gadis itu.


"Ehem!"


Keduanya menoleh pada orang yang berdehem. Brandon dan Joe ada di sana. Sebisa mungkin, Brandon tak mengeluarkan aura membunuh pada Harry. Tapi, pria itu sadar jika akan membuat putrinya malah membenci dirinya.


"Kita pulang?" ajak Brandon.


"Daddy. Lusa Harry akan melamarku," ujar Alexa memberitahu.


Brandon menatap pria di sebelah putrinya itu dongkol. Tapi, ia mengangguk. Alexa tersenyum bahagia melihat anggukan ayahnya.


Alexa pun pergi bersama dua orang penting dalam hidup gadis itu. Harry menatap punggung ketiganya yang menjauh.


"Sepertinya akan sulit menembus tembok Tuan Pierce," gumamnya dengan napas panjang.


bersambung.


iya susah