
Doa Margarita terkabul. Sepulangnya Alexa dan Harry berbulan madu. Tak lama anak perempuan dari Brandon Pierce dan Margarita Bowell, hamil.
"Ma ... kok aku nggak dapat siklusku bulan ini ya?" tanya Alexa sedikit heran.
Margarita terdiam. Memang Alexa masih tinggal di mansion orang tuanya. Harry beralasan agar sang istri tak kesepian tinggal di rumahnya. Ia akan datang menjemput istrinya ketika pulang kantor.
"Memang mestinya kamu dapat tanggal berapa, sayang?" tanya Margarita.
"Biasanya minggu ke dua bulan ini. Ini bulan sudah mau habis," jawab Alexa.
"Tidak apa-apa sayang, besok kita periksa ya," Alexa pun mengangguk.
Ketiga adik kembarnya sudah kelas satu sekolah dasar. Mereka bersekolah di sekolah umum.
"Axel, Ariana dan Aaron belum pulang, ma?"
"Belum, mungkin sebentar lagi!" jawab Margarita.
benar saja, tak lama ketiga anak kembar itu pun pulang. Mansion kembali ramai dengan dengan suara ketiganya.
"Sister ... tadi kami berhasil melawan anak-anak yang hendak membully kami!" seru Aaron memberitahu.
"Apa! Kalian di-bully?" tanya Alexa marah. "Siapa yang berani bully adik-adik ku!"
"Tenanglah sis. Kami tak selemah itu," sela Ariana tak mau diremehkan.
Alexa mengerucutkan bibirnya. Ia sangat tahu jika ketiga adiknya ini memang tak bisa dianggap remeh. Mereka telah dilatih dengan tangannya sendiri semenjak usia dua tahun.
"Jadi kenapa kalian di-bully?" tanya Margarita.
Para maid membuka sepatu dan kaus kaki anak majikan mereka, lalu membawa tasnya ke kamar. Alexa memperhatikan semuanya.
"Kami tak tahu, tiba-tiba Paul dan Johan datang mengatai kami," jawab Axel.
"Apa katanya?" tanya Alexa pemasaran.
"Dia bilang ... hei kamu anak orang kaya ... kamu itu dilarang memamerkan kekayaan kamu di sini. Di sini itu harus sama semua ... begitu," jawab Axel menceritakan kejadian di sekolah.
"Lalu kamu bilang apa?"
"Aaron yang balas ... eum apa katamu tadi?" tanya Axel.
"Memangnya kenapa kalau kamu kaya?" sahut Aaron.
"Nah itu ... eh malah dia marah dan mengusir kami," sahut Axel lagi.
Alexa hanya manggut-manggut. Ia sendiri bingung kenapa ada orang seperti itu.
"Apa mereka dihukum?" Aaron menggeleng.
"Ibu guru suruh kami berdamai," Margarita setuju dengan tindakan guru itu.
"Mama setuju kalian berdamai. Sebaiknya kita harus menghargai satu dan lainnya," ujarnya.
"Sayang, besok kalian lepas sepatu dan kaus kaki sendiri ya?" pinta Alexa.
"Kenapa?" tanya ketiganya polos.
"Kalian kan sudah besar. Masa mau maid yang buka sepatu dan kaus kaki kalian. Malu dong," jawab Alexa.
Ketiganya mengangguk. Lalu mereka masuk kamar dan mengganti pakaian.
Hari pun beranjak malam..Harry menjemput istrinya. Margarita memberinya sebuah alat.
"Apa ini ma?" tanya Alexa tak mengerti.
"Ini adalah test pack untuk memeriksa mandiri apa kita hamil atau tidak," jawab Margarita.
"Loh, memang aku bisa hamil?" tanya Alexa polos.
"Sayang, kau sudah menikah, ya pastinya kau pasti bisa hamil," jawab Harry gemas.
"Ini pakainya bagaimana?" tanya Alexa lagi-lagi polos.
Margarita menjelaskan cara pakainya. Alexa pun mengerti. Sepasang suami istri itu pun pulang ke rumah.
Pagi harinya. Alexa melaksanakan apa yang diperintahkan ibunya. Ia memeriksakan diri secara mandiri.
"Wah ... garis dua?"
Alexa terdiam sesaat. Ia meraba perutnya yang masih rata. Ia tak yakin dengan apa yang terjadi. Wanita itu pun keluar dari kamar mandi.
"Sayang!" panggilnya pada sang suami.
Harry mendekat dan melihat benda di tangan istrinya. Ia langsung melihat benda pipih itu.
"Alexa kamu hamil!" serunya dengan binaran bahagia.
"Nanti kita langsung periksa ke dokter ya," ajak Harry.
Pria itu membawa istrinya untuk cek up. Apa benar jika Alexa mengandung.
"Selamat tuan, nyonya ... ini ada dua kantung janin. Di pastikan nyonya mendapat bayi kembar," ujar dokter ramah.
Betapa bahagianya pasangan yang baru menikah ini. Harry langsung ke mansion mertuanya.
Brandon menangis haru begitu juga Margarita. Keduanya memeluk anak dan menantunya.
"Kita akan jadi grandpa dan grandma!" pekik Margarita senang.
"Jadi kami akan jadi paman dan bibi?" tanya Axel tak percaya.
"Benar sayang ... kalian akan jadi paman dan bibi," jawab Alexa.
"Dan di sini ada dua!"
"Kembar?" tanya Brandon semakin senang.
Alexa dan Harry mengangguk dengan senyum lebar.
Semua larut dalam kebahagiaan. Brandon meminta para maid memasak masakan yang enak. Ia akan membuat pesta sederhana untuk menyambut cucunya.
Bulan demi bulan berganti. Alexa juga mengalami morning sick ketika trimester pertama kehamilan dirinya. Harry terus memberi kekuatan pada sang istri hingga melewati awal kehamilannya.
Semakin lama perut Alexa semakin besar. Bahkan tubuhnya pun semakin lebar. Harry suka dengan beberapa bagian tubuh istrinya yang montok.
"Sayang kok dadaku begini ya?" tanya Alexa ketika melihat benda bulat di dadanya yang kini makin sakit dan sensitif.
Harry gemas dengan apa yang diperlihatkan sang istri. Pria itu menatap bagian areola melebar dengan warna gelap, dan tonjolan kecil di atasnya membulat serta lebih besar. Ada titik-titik putih di sana.
"Ini artinya dadamu itu tengah memproduksi air susu," jawab pria itu dengan meremas benda kenyal favoritnya.
Alexa mendes.ah ketika suaminya melakukan remasan di dadanya. Wanita itu tak tahan jika Harry memberi rangsangan pada dada, terlebih telinganya yang kini dikulum oleh mulut pria yang menikahinya itu.
Harry benar-benar memanjakan Alexa. Ia membuktikan pada Brandon jika putrinya tak akan kekurangan atau menderita.
Hingga bulan berlalu. Usia Alexa kini sudah berada di bulan lahirannya. Ia merasakan kontraksi palsunya.
"Ini namanya kontraksi palsu nyonya jadi tak masalah, itu biasa ketika menjelang hari melahirkan," jelas dokter ketika Alexa mengira dia akan melahirkan.
"Jadi kalau hendak melahirkan bagaimana membedakannya dok?" tanyanya ingin tahu.
"Kontraksinya berulang-ulang dan intens nya bertambah, hingga pecah ketuban," jawab sang dokter.
Alexa mengangguk tanda mengerti. Usia kandungannya sudah delapan bulan. Ia hanya tinggal menghitung minggu untuk dapat melihat kedua anaknya nanti.
"Oh ya ... apa anda ingin melahirkan normal atau cecar ... jika dilihat dari posisi, sebaiknya anda cecar," usul sang dokter.
Alexa dan Harry mengangguk. Mereka pun telah menentukan kapan bayi akan lahir.
Manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan jalan cerita manusia.
Hingga suatu pagi Alexa mengalami kontraksi hebat. Wanita itu mengerang kesakitan. Harry menangis melihat istrinya begitu kepayahan.
"Tidak apa-apa ... sakit hendak melahirkan itu biasa dan normal," ujar Margarita menenangkan.
Bukan hanya Harry yang menangis tapi Brandon juga. Ia ingin sekali menggantikan posisi agar hanya dia yang sakit.
"Sayang, kamu yang kuat ya ... hiks!"
Alexa dilarikan ke rumah sakit. Joe juga menangis melihat nona mudanya kesakitan seperti itu.
"Tolong ... istri saya mau melahirkan!" teriak Harry ketika sampai.
Semua petugas medis berlarian. Alexa dibaringkan di atas brankar.
Alexa berdiri ketika hendak memakai baju OK. Tiba-tiba ia mengejan dan pecah ketuban. Perawat yang membantunya langsung bertindak. Bayi pertama lahir ketika Alexa berdiri. Hanya butuh lima menit lahir bayi kedua Alexa tak sempat membaringkan dirinya ke tempat tidur.
"Dua-duanya laki-laki!" teriak suster.
Semua bahagia. Alexa tak perlu dioperasi cecar. Kini dua wajah tampan berbaring dalam boks mereka.
"Mereka tampan sekali," puji Margarita bahagia.
Ketiga anak kembar juga senang luar biasa.
"Siapa nama mereka?" Tanya Brandon ketika mencium putrinya.
"Namanya Abraham Alexander Robinson dan Logan Alexander Robinson!" jawab Harry.
TAMAT
selamat Alexa sudah menjadi ibu. makasih Readers ❤️