MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
TRIO DAFTAR SEKOLAH



"Apa itu selingkuh?" tanya gadis itu.


Harry melongo mendengar pertanyaan calon istrinya itu. Kemudian ia pun terkekeh lalu berubah terkikik geli.


"Harry!" panggil Alexa kesal.


"Oke ... oke ... maaf sayang, aku hanya terkejut mendengar pertanyaan mu," sahut pria itu sambil menahan geli.


"Apa selingkuh itu lucu?" tanya Alexa polos.


Gadis itu benar-benar tak tahu apa arti selingkuh. Bahkan pembantunya diam dan mengalihkan percakapan. Tapi, mengingat betapa Rosana menangis ketika bercerita pada sesama rekannya. Ratapannya membuat Alexa ingin membunuh mantan suami pembantu baiknya itu.


"Tapi, melihat Rosana menangis sangat menyakitkan," lanjutnya sedih.


Harry terdiam. Kini ia tahu, dari mana kekasihnya itu mendengar kata selingkuh.


"Maaf, sayang. Tapi memang itu tidak lucu sama sekali. Selingkuh artinya pria atau wanita yang memiliki pasangan menduakan atau mempunyai kekasih lain secara sembunyi-sembunyi," jawab Harry panjang lebar.


"Apa!" seru Alexa tak percaya.


Gadis cantik itu mengepal kedua tangannya. Wajahnya memerah menahan amarah luar biasa.


Cup!


Sebuah kecupan mengejutkan gadis itu. Netranya menatap wajah tampan yang menatapnya lekat. Harry kembali mengulum bibir manis itu.


Keduanya berciuman dengan panas. Hanya terdengar suara decapan tercipta ketika dua bibir saling beradu.


"Aku heran. Kau begitu polos, tapi kau sangat mahir berciuman," ujar pria itu dengan napas menderu.


Alexa mengingat dari mana ia mahir berciuman.


"Sebelumnya aku punya kekasih, bernama Andrew Smith," jawab gadis itu.


Harry baru teringat jika Alexa pernah berpacaran. Pria itu mengangguk. Padahal, gadis itu bisa berciuman dengan Joe, adik angkat ayahnya. Hanya saja, Alexa memilih tak membicarakannya.


"Ayo makan," ajak Harry.


Pria itu menarik kursi untuk tunangannya. Alexa duduk dengan anggun. Kemudian Harry pun duduk di sebelah gadis itu.


Usai makan. Harry mengantarkan sang gadis pulang. Kurang pukul 22.00 mereka sudah sampai mansion mewah itu.


Harry kembali mendaratkan ciuman di bibir sang kekasih. Keduanya saling memagut hingga pintu terbuka.


"Ehem!"


Keduanya melepas ciuman mereka. Joe menunduk hormat, lalu ia membungkuk dengan hormat.


"Aku pulang, terima kasih untuk malam ini," ujar Harry.


"Sama-sama, sayang," balas Alexa dengan senyum indah.


"I love you," ujar Harry.


"I love you too," balas sang gadis.


Harry kembali ke mobilnya lalu kendaraan itu berlalu dari sana. Joe masih setia di sana. Alexa menatapnya.


"Nona," panggilnya dengan suara lirih.


"Selamat malam Uncle Joe," ujar Alexa.


"Selamat malam, Nona," ujar pria itu penuh sesal.


Alexa berlalu dari hadapannya. Pria itu meraba dadanya yang tiba-tiba ngilu. Ia sesak. Tatapan Alexa yang menghakiminya membuat ia menyesal.


"Maaf jika aku juga mencintaimu, Nona," gumamnya lirih.


Pria itu menutup pintu dari luar. Kemudian ekspresi sesalnya tadi berubah normal dan sangat dingin.


Hari berganti pagi. Tunangan Alexa sudah menunggu di ruang tamu mengobrol dengan Brandon. Pria itu kemarin berjanji akan menemani tiga kembar Pierce untuk melihat-lihat sekolah negeri. Yang berarti Axel, Ariana dan Aaron sekolah di kalangan biasa. Alexa ikut bersama mereka.


"Jadi kau tahu sekolah mana yang baik?" Harry mengangguk.


"Dulu aku juga sekolah di sana. Sekolah itu rekomendasi banget dan kurikulumnya juga yang terbaik. Fasilitas lengkap, bahkan banyak murid yang dibimbing untuk berprestasi di luar pendidikan formal," jelas Harry panjang lebar.


Brandon sangat tertarik. Ia juga akan ikut dengan calon menantunya. Margarita juga sudah siap.


"Kita naik mobil Van!" ujar Brandon.


Joe membungkuk hormat. Dia menjadi supir mereka saat ini. Semuanya masuk ke mobil. Tiga anak duduk di kursi khusus mereka. Brandon di sisi Harry dan Margarita di tengah bersama anak gadisnya.


"Ah bukankah ini jalan menuju kota G?" tanya wanita itu antusias.


"Benar, Mom," jawab Harry menatap wanita itu dari kaca spion tengah.


"Wah ... lihat! Banyak kedai dan toko makanan!" teriak Axel.


"Ada permen kapas!" teriak Aaron.


Ariana sangat kesal karena ia duduk di tengah dan tak bisa melihat apa-apa.


"Ma ... kapan kamu tak memakai kursi khusus ini?" keluhnya bertanya.


Margarita tersenyum lebar. Wanita itu menatap ke belakang. Ketiganya masih terlalu kecil untuk duduk di kursi biasa.


"Nanti jika usia kalian tujuh tahun," jawab wanita itu.


"Lama sekali!" protes Ariana mencebik.


"Ini sekolah yang aku ceritakan, dad!" tunjuk Harry pada bangunan yang sangat luas.


Mobil van masuk berikut mobil para pengawal. Sebenarnya Harry sudah memberitahu tak perlu ada penjagaan. Dunia mafia begitu tertutup. Karena tak ada yang tau siapa Brandon Pierce.


Mereka semua turun, kepala sekolah menyambutnya. Seorang wanita bertubuh sintal berkacamata.


"Selamat datang Tuan Pierce. Selamat datang di sekolah kami!" sambutnya.


"Saya adalah Miss Elena Gilbert B.E." ujarnya memperkenalkan diri.


Margarita yang menyambut tangannya. Brandon mengabaikan sodoran tangan wanita yang cukup cantik itu. Elena menelan saliva kasar.


Sepanjang menjelaskan, Margarita lah yang paling antusias mendengarkan dan banyak bertanya.


"Boleh saya lihat daftar guru yang mengajar secara aktif maupun secara non aktif alias honorer?" pinta Margarita.


"Tentu nyonya, Anda bisa melihat buku guru kami," ujar Elena.


Kepala sekolah cantik itu memperkenalkan salah satu guru yang ada di sana. Margarita hanya menyerahkan buku pada Joe.


"Kenapa bukan anda yang membacanya, nyonya?" tanya kepala sekolah itu bingung.


Margarita hanya tersenyum. Ia akan memasukkan ketiga muridnya ke sekolah yang sangat bagus ini jika memang semua gurunya berkompeten.


"Ini, nyonya. Laporan akan sampai dua menit lagi!" ujar Joe menyerahkan buku itu.


Brandon menatap struktur organisasi sekolah baik guru maupun murid.


Brandon menatap satu persatu foto yang dipandang di sana. Berharap mengenali semuanya. Tapi, satu pun memang tak ada yang ia kenal.


"Ah, beda dunia," gumamnya.


Semua mata wanita hendak menelanjangi Brandon yang memang sangat tampan. Joe juga tak luput dari perhatian para wanita yang bekerja di sini sebagai pendidik.


"Daddy, aku suka sekolah ini," ujar Axel semangat.


"Nanti dulu sayang," ujar Brandon lembut pada putranya.


"Bagaimana sistem pelajarannya?" tanya Brandon kemudian.


Elena terhipnotis dengan suara berat itu. Ia sampai sesak karena menahan gejolak yang tiba-tiba menyerangnya.


"Kami mulai jam belajar pukul 08.00 dan berakhir di pukul 14.00 dengan dua kali istirahat selama lima belas menit," jelas Elena sedikit serak.


Margarita menatap wanita itu jijik. Ia sangat yakin jika Elena sudah basah karena mendengar suara suaminya yang memang sangat seksi itu.


"Cis ... menjijikan!" dumalnya pelan tapi terdengar di telinga Elena.


Sungguh wanita yang sangat tinggi menjaga martabatnya sebagai kepala sekolah, jatuh saat ini di depan sosok pria tampan dan kini tengah ia dipergoki sang istri pria itu.


Elena malu setengah mati. Ia padahal sudah berusaha menenangkan diri. Tapi memang pesona Brandon dan Joe tak bisa ia tahan sama sekali.


'Andai semua tak ada. Aku mau mengerang nikmat di bawah dua laki-laki tampan ini' khayalnya mesum.


bersambung.


weleh ...


next?