
Setelah Harry pergi. Brandon pun menuju gudang senjata yang tak jauh dari mansionnya.
Dua pucuk pistol biasa dan satu senapan revolver. pria itu mengenakan holster ganda di pinggang lalu ia menutupinya dengan jas. Joe mengambil senjata laras panjang dan juga pistol.
Kedua pria itu akan menghadiri sebuah rapat besar dengan para ketua klan mafia. Sebagai klan terkuat dan paling berkuasa. Brandon harus menggunakan rompi anti peluru. Karena dalam rapat bisa jadi adanya perkelahian dan baku tembak.
"Daddy aku ikut!" ujar Alexa lalu mengambil satu senjata dari dalam lemari kaca.
"Kau di rumah sayang. Jaga mommy dan tiga adikmu," pinta Brandon serius.
"Oh, c'mon Dad. Dulu kau juga sering melibatkan ku dalam semua aksi!" sahut Alexa.
"Ini berbeda sayang. Mereka tengah memperebutkan mu!" jelas Brandon lagi.
"Aku? Kenapa aku diperebutkan?" tanya gadis itu penasaran.
"Karena kau akan menikah dengan pria di luar klan mafia!" jawab Brandon frustasi.
Alexa terdiam. Brandon kembali membujuk anak gadisnya.
"Tetaplah di rumah, jaga semuanya. Oke!"
"Oke!" balas gadis itu lemah.
Brandon mengecup kening putrinya. Joe membungkuk hormat pada nona mudanya.
Alexa menatap punggung dua pria tampan yang masuk mobil anti peluru. Ia yakin keduanya akan selamat. Gadis itu mengangkat teleponnya menghubungi seseorang.
"Halo ... aku ingin kalian menjaga ayah dan pamanku!" titah sang gadis.
"Lindungi dengan cara attack and kill!" lanjutnya berkilat sadis.
Alexa menutup sambungan teleponnya. Gadis itu meletakkan kembali senjata ke lemari kaca. Ia pun keluar dari ruangan itu lalu menutupnya. Pintu baja setebal 100cm itu sangat berat dan anti bom. Belum lagi segala jebakan yang akan dilalui jika ingin menerobos tempat ini.
Sedang Brandon meminta Joe mempercepat laju mobilnya. Butuh waktu dua puluh menit. Kendaraan mewah anti peluru itu sudah sampai di sebuah aula besar.
Benar tebakan Brandon. Akan ada pertarungan besar terjadi. Keduanya keluar dari mobil.
"Tuan Pierce. Kenapa kau menikahkan putrimu dengan pria dari kalangan luar!"
Tidak ada penghormatan, sebuah teriakan malah didapatkan pria itu. Wajahnya yang memerah begitu marah. Ia tak pernah mencampuri ranah pribadi para ketua Klan.
"Dia putriku. Tentu aku harus memberikannya pada pria yang terbaik!" jawabnya tegas.
"Lagi pula, ini merupakan ranah pribadiku. Kalian tak memiliki hak untuk memaksaku!"
"Aku punya putra tak kalah tampan dengan putra Robinson yang lemah itu. Aku yakin jika dirinya tak mampu melihat darah!" ledek salah satu ketua klan.
Semua tertawa dan membenarkan ledekan untuk Harry Robinson.
"Cis ... siapa putramu?" tanya Brandon sinis.
"Brief Horton Xavier!" jawab pria itu jumawa.
Brandon terbahak mendengarnya. Joe ke tengah mimbar, ia memasang sebuah compac disc. Tak lama, pria yang baru saja disebut namanya terlihat di layar utama.
"Brief Horton Xavier, pemuda berusia dua puluh tiga tahun. Tak memiliki pendidikan formal. Tak memiliki usaha dan keahlian. Memiliki dua pasang kekasih, laki-laki dan perempuan!"
Semua terdiam mendengar informasi yang baru saja digaungkan. Pria bernama. Horton Xavier menelan saliva kasar. Ia sudah meminta putranya untuk menutupi diri dengan semua kelakuannya.
Horton marah.
"Ini adalah ranah pribadiku!"
Brandon tersenyum miring. Pria itu mencabut pistol dan mengacungkannya di kepala Horton.
"Bukankah tadi kau bicara terlalu banyak?" tanya Brandon dengan kilatan mata sadis.
Para anak buah mengokang senjata mereka. Tapi, satu persatu dari mereka jatuh dan mati dengan bersimbah darah.
Semua ketakutan. Mereka melempar senjata agar tak jadi incaran penembak jitu dari jarak jauh.
"Apa ada lagi yang ingin disampaikan?' tanya Brandon datar.
"Tuan, putraku Fransiskus Hold, masuk kriteria yang kau inginkan!"
Brandon menatap pria yang lebih tua usianya dari dirinya. Ia sangat kenal dengan Patrick Hold. Ketua klan Gambler. Kekuasaannya juga tak bisa dianggap main-main. Bahkan putranya juga memiliki tangan dingin dalam dunia bisnis. Sosok pria bermata biru datang. Sangat tampan dan bertubuh atletis. Usianya dua puluh tujuh tahun.
"Dia tampan, tapi putriku hanya mencintai Tuan muda Robinson!" tekan Brandon tegas.
"Putrimu belum bertemu denganku, Tuan!' sahut Frans cepat.
"Aku yakin, setelah bertemu. Nona Pierce akan jatuh cinta padaku," lanjutnya.
Joe membisikkan sesuatu pada Brandon. Frans menatap bisikan itu gusar. Ia bermain sangat licin. Ia sangat yakin jika apa yang ia lakukan selama ini adalah benar.
"Lalu bagaimana dengan istri simpananmu bernama Joana Hereira?" tanya Brandon tenang.
Patrick membelalak, ia menatap putranya tak percaya. Sedang Frans menelan saliva kasar. Ini lah yang ia rahasiakan.
"Bahkan kau telah memiliki dua orang putri cantik," sela Brandon lagi.
Frans menatap Joe yang datar. Tangannya mengepal erat. Ia tak percaya pernikahannya yang sangat tersembunyi mampu diendus oleh pria bermata gelap itu.
"Frans?" tanya Patrick gusar.
Brandon memilih pergi meninggalkan aula. Joe mengambil disk yang tadi diputarnya. Tak lama disk itu ditembaki oleh Joe. Maka seluruh perekam di dalamnya rusak dan tak bisa digunakan lagi.
Semua ketua klan membubarkan diri. Mereka takut ditembak di tempat oleh sang penguasa terkuat.
"Enak saja meminta putriku dengan paksa!" gerutu Brandon kesal.
"Tuan, sniper yang menembaki orang-orang tadi adalah suruhan dari Nona muda!" lapor Joe.
"Attack and kill!" sahut Brandon bangga.
"Sudah ... tidak apa-apa. Kita pulang dan makan enak Joe!" titah Brandon selanjutnya.
"Baik Tuan!"
Joe masuk dan mengendarai mobil mewah anti peluru itu.
bersambung.
next?