
Harry memantaskan diri. Pria itu mengenakan setelan termahalnya. Hari ini adalah meeting antar pebisnis. Ia mengetahui kedatangan Brandon Pierce. Banyak pengusaha terkejut akibat kepulangan pria itu. Selama di bawah kepemimpinan Alexa, pada pengusaha sulit bergerak, bahkan kemarin tanah yang dicaplok oleh beberapa perusahaan menjadi santapan empuk gadis itu membantai harga saham mereka jatuh. Brandon bukan tidak tahu, tapi apa yang dilakukan putrinya ia setuju sekali.
"Selamat pagi semuanya!" sapa pria itu.
Aura arogansi mulai menguar. Para pebisnis yang tadinya mau menguliti pria itu dengan sejuta pertanyaan jadi terdiam. Wajah-wajah menunduk tampak terlihat.
"Baik lah sebelum, saya mulai. Saya akan meminta maaf pada semuanya atas hilangnya saya selama enam tahun kemarin. Walau seratus persen kehadiran saya tidak ada. Tapi saya pastikan semua terpantau jelas!" sahut pria itu.
Semua diam mendengar kan. Tak ada lagi rasa penasaran. Keputusan Alexa kemarin juga sangat memuaskan bahkan ada beberapa perusahaan baru yang langsung melejit karena bekerjasama dengan perusahaan Pierce ini.
Sebuah kesepakatan terjalin. Banyak peluang bisnis muncul dan beberapa proyek langsung dikerjakan. Alexa datang setelah semua kesepakatan telah ditandatangani.
"Nona!" sambut semuanya.
Gadis itu mengangguk. Lalu melihat semua berkas. Harry menatapnya penuh arti. Gadis itu curi-curi pandang. Brandon menatap pria yang ia kenal dari kecil. Dua orang tuanya juga sangat dikenali oleh Pierce.
"Harry," panggil pria itu.
"Saya Tuan!" sahut Harry.
"Apa kau menyukai Putriku?" tanya Brandon penasaran.
"Iya Tuan. Saya malah ingin menagih perjodohan masa kecil saya dengan Alexa," jawab Harry tegas.
Brandon sangat ingat ketika mendiang Tuan Robinson datang bersama istri dan putranya. Mereka menjodohkan Harry yang usianya sembilan tahun pada Alexa yang baru berusia dua minggu.
"Dia masih terlalu muda!" elak Brandon.
Tentu pria itu akan menolak para pria yang menginginkan putrinya. Ia baru saja berkumpul.
"Tapi, aku mau menikah muda, Daddy!" sahut Alexa cepat.
"Sayang," tegur pria itu.
"Aku mau menikah dengan Harry, Daddy!" tukas gadis itu tegas.
"Sayang, Daddy baru kembali. Tunggu satu tahun lagi, ya," pinta pria itu.
"Kalau begitu aku ingin bertunangan dengan Harry," putus Alexa.
"Sayang ...," pinta Brandon memohon.
"Tak ada yang menyuruhmu meninggalkan ku selama enam tahun Tuan Pierce!" ketus gadis itu nyinyir.
Brandon terdiam. Pria itu belum ingin putrinya cepat menikah. Ia baru saja berkumpul dengan Alexa dan tiga anak kembar lainnya. Ia masih ingin memanjakan putri dengan kedua tangannya.
Harry menghela napas panjang. Ia tak mau membuat hubungan ayah dan putrinya rusak.
"Aku akan melamarmu lain waktu, Alexandra!" sahutnya tegas.
Alexa kesal bukan main. Ia menatap ayahnya dengan marah. Sedangkan Brandon menatap putrinya nanar.
"Sayang, Daddy mohon. Kau pasti menikah, tapi tak secepat ini, ya ...," ujar pria itu meminta pengertian putrinya.
Alexa melempar berkas dari atas meja dan memilih pergi dari ruangan.
"Alexa, tunggu!" teriak Brandon.
Alexa menulikan telinganya. Gadis itu kesal bukan main. Ia berlari menuju lift. Brandon meminta semua pengawal menghentikan gadis itu.
"Hentikan Nona kalian!" teriaknya.
Harry juga ikut menahan gadis itu. Brandon lalu memeluk anak gadisnya dan membawanya ke ruangan kerjanya.
Alexa memberontak. Ia memukuli ayahnya. Hingga Brandon marah luar biasa.
"Cukup Alexa ini sudah tak lucu lagi!" bentaknya.
Alexa terdiam. Ia menatap ayahnya. Kemarahan ada di mata pria itu. Alexa sangat takut jika ayahnya sudah marah seperti itu.
"Daddy jahat!" teriaknya.
"Iya, aku jahat!" bentak Brandon.
"Aku meninggalkan mu selama enam tahun. Aku minta maaf untuk itu!" lanjutnya.
Alexa menangis. Ia masih ingin menghukum ayahnya. Dengan menerima pinangan Harry maka ia lepas dari pengawasan pria itu.
"Aku tau kau marah. Tapi, dengan menikah kau tidak hanya menghukumku. Tapi, kau juga menghukum Harry," ujar pria itu lalu memeluk putrinya.
"Jangan hukum Daddy dengan menikah secepat ini," pinta pria itu.
"Kau akan menikah. Tapi, nanti ... tunggu, satu tahun lagi."
Alexa menangis dalam pelukan ayahnya. Ia memang masih begitu belia. Walau usianya sudah dua puluh tahun. Tapi pikirannya masih anak-anak.
"Tapi, aku hanya mau menikah dengan Harry!" rengek Alexa.
"Iya sayang. Hanya Harry yang akan menikah denganmu," ujar Brandon mengiyakan permintaan putrinya.
"Sekarang, belajarlah memasak dan mengurus rumah tangga. Mommy mu mengerjakannya sendirian walau banyak maid yang membantu," ujar Brandon.
"Aku sudah bisa masak," cebik Alexa kesal.
"Ah, sayang. Aku mengenalmu ketika lahir. Kau tak akan secepat itu bisa masak," kekeh Brandon.
Alexa merengek. Ia memang tak bisa masak terlebih mengurus rumah tangga. Gadis itu masih terlalu manja.
"Ayo, kita pulang," ajak pria itu.
Alexa mengangguk. Mereka pun pulang ke mansion. Di sana, keduanya di sambut dengan hidangan lezat buatan ibunya.
"Ajari dia masak sayang. Dia mau menikah," ujar Brandon.
"Pria mana yang menginginkan putriku?" tanya Margarita ingin tahu.
"Harry Robinson," jawab pria itu.
Margarita tersenyum lebar. Ia akan mengajari putrinya banyak hal tentang rumah tangga.
"Jadi, kapan dia akan melamarmu?" tanya Margarita.
"Aku menyuruhnya tahun depan melamar Alexa lagi," jawab Brandon.
"Kenapa tahun depan? Kenapa tidak tiga bulan lagi?" tanya wanita itu.
"Sayang, kita baru bersama dengannya. Aku masih ingin memanjakannya," sahut pria itu tegas.
Margarita juga belum mau berpisah dengan cepat dengan putrinya. Ia akan mengajari dulu Alexa sebagai wanita yang tangguh di dapur juga di ranjang.
bersambung.