
Karena kesehatan Alexa yang belum membaik. Gadis itu masih terbaring lemah di ranjangnya. Para pelayan selalu merawat dan memandikan gadis itu.
"Nona, Tuan muda Andrew Smith datang!" sahut salah satu maid memberitahu.
Aaron, Axel dan Ariana berada di ranjang yang sama dengan kakaknya.
"Suruh dia masuk!'
"Baik, Nona!' sahut maid.
Tak lama Andrew datang, ia menatap kekasihnya tidur dengan tiga anak yang sama persis. Andrew tak menyukai anak-anak.
"Alexa!" panggilnya.
"Mereka siapa?" lanjutnya bertanya.
Alexa mengerutkan kening. Ia mendengar ada nada tak suka di sana.
"Ini adalah ketiga anak kembarku," jawabnya berbohong.
Andrew terdiam. Pria itu mengangguk lalu pergi meninggalkan gadis itu.
"Maaf, kita tak bisa melanjutkan hubungan lagi," ujarnya sebelum pergi.
"Oke, bye!" sahut Alexa enteng.
Andrew pergi. Para bayi heran kenapa ada orang datang malah pergi.
"Pistel ipu polan penata?" tanya Axel bingung.
"Orang itu stress Dek," jawab Alexa santai.
"Oh .. betles!' sahut Axel sok tahu.
Joe datang dengan muka sedikit kesal. Ia tadi bertemu dengan Andrew dan pria itu mengatai Alexa dengan sebutan tak baik, hingga dihadiahi bogem mentah darinya.
"Apa yang Nona katakan, Anda punya anak di luar nikah?" tanyanya gusar.
Alexa hanya menyahut dengan mengendikkan bahu. Gadis itu acuh, ia bosan dengan Andrew yang selalu menanyakan kemana pun dan di manapun. Terlalu mengatur.
"Nona, sudah waktunya pergi meeting!" ujar Joe memberitahu.
"Oke ... oh ya, apa perusahaan Smith memiliki peluang yang bagus?" tanya Alexa.
"Tidak, Nona!" ujar Joe.
"Kalau begitu, coret perusahaan Smith dalam pertemuan ini!" titah gadis itu.
"Baik, Nona!" sahut Joe..
"Bistel, mawu penana?" tanya Ariana..
"Mau kerja, sayang," jawab gadis itu.
"Ambilkan aku baju formal!" titahnya..
"Baik, Nona," sahut salah satu maid.
"Pita poweh ipup?" pinta Aaron memohon.
Alexa berpikir agak lama. Lalu, ia pun tersenyum dan mengangguk. Ketiga bayi itu pun n
"Uncle. Minta lipat ganda pengawalan. Kalian ikut tiga orang menjaga adik-adik ku!" titah nya.
"Baik, Nona!" sahut Joe dan maid bersamaan.
Mereka menyiapkan baju, popok sekali pakai untuk ketiga bayi dan susu mereka dalam satu tas sedang.
Joe melapis penjagaan. Mereka pun berangkat ke perusahaan. Alexa datang bersama tiga bayi lucu dalam kereta mereka. Semua orang menatap gemas pada bayi-bayi itu. Hary Robinson juga hadir di sana. Setelah dua tahun kerjasama, penampilan pria itu berubah perlahan. Tak lagi memakai pakaian bekas ayahnya. Bahkan, pria itu makin tampan, walau kacamata masih menghias di wajahnya.
"Hi ... botel!" sapa Ariana centil pada Harry.
Pria itu tersenyum, ia melambaikan tangan pada bayi cantik itu. Ia menahan diri untuk tidak langsung menciuminya. Alexa heran, tadi bayi itu tak mau melihat Andrew, padahal menurut penilaian gadis itu. Andrew jauh lebih tampan dari Harry.
"Nona!" panggil Joe.
Alexa menoleh, lift khususnya sudah terbuka, pria itu juga sudah di dalam. Para maid mendorong kereta bayi.
Ariana, Aaron dan Axel melambaikan tangan pada Harry. Pria itu pun melambaikan tangannya.
Tak lama, Alexa sudah berada di ruang rapat. Harry juga ada di sana. Tiba-tiba, terdengar keributan di luar.
"Biar kan aku masuk!" teriak Andrew.
"Alexa, jangan seperti ini. Kita putus tapi, jangan sangkut pautkan dengan pekerjaan!" teriak pria itu.
Alexa kesal bukan main.
"Suruh dia masuk!" titahnya.
Andrew masuk dengan penampilan acak-acakan. Pria tampan itu menatap kesal pada mantan kekasihnya.
"Apa yang kau tawarkan, Tuan?" tanya Alexa dingin.
Andrew terdiam. Memang perusahaannya bukanlah perusahaan yang menunjang proyek ini. Andrew hanya memiliki usaha properti. Pria itu pun kebingungan.
"Jika kau tak memiliki alat untuk menunjang proyek yang kami bangun. Sebaiknya anda keluar dari ruangan!" seru gadis itu.
Muka Andrew memerah. Pria itu begitu kesal dan malu pada gadis yang berdiri begitu arogan. Ia tak berkutik. Dengan wajah memerah menahan amarah. Ia pun keluar ruangan.
"Baik lah. Rapat kita mulai!" ujar Alexa.
Dua jam, berlalu. Rapat usai, semua puas dengan hasil akhir. Alexa langsung menyambangi ruang kerjanya, ketiga adik kembarnya ada di ruang itu bersama para pengawal.
"Babies!' panggil Alexa.
"Bistel!" sambut ketiganya dengan senyum lebar.
"Uncle. Aku lapar," ujar Alexa.
Joe meminta Celia, sekretaris membeli makanan untuk atasannya.
"Apa jadwalku setelah rapat?" tanya Alexa.
"Hanya tanda tangan beberapa berkas dan nanti malam hadir kembali meet and great di hotel internasional di kota M!" jawab Joe sambil melihat jadwal Nona nya.
Alexa mengangguk. Tak lama makanan datang. Gadis itu pun memakan makanan itu lahap.
bersambung.
next