Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 8



Melihat putrinya yang sudah begitu lemas Andrea segera mendekati suaminya. "Sayang, tolong jangan meneriakinya lagi, kau membuat putri kita ketakutan."


"Bibi benar, Sophia juga termasuk korban. Dia sama sekali tidak melakukan apapun Paman, aku berani bertaruh demi nyawaku," ujar Elio dengan sangat tegas. Ia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Sophia atau membuatnya menjadi bersalah. Karena dia tahu Sophia tidak mungkin melakukan itu.


Malvin menyapu wajah kasar, wajah yang sudah mulai menua itu terlihat sangat frustasi. Ia menatap dalam-dalam wajah Sophia yang sedang ketakutan.


"Putriku yang malang. Apa yang sudah kau lakukan Sophia, seharusnya kau tidak keluar Mansion, apa yang harus Daddy lakukan jika sudah seperti ini."


Malvin menangis, ia menarik tubuh mungil putrinya dan memeluknya dengan erat. "Bahkan jika dengan kekuasaan yang aku miliki tidak bisa menolongmu, aku tidak bisa mengabaikan keadaan sahabatku."


"Apa maksudmu!" Andrea mulai terisak. "Dia putri kita Malvin, dara daging kita. Mana mungkin kau mengabaikannya, apa kau ingin melihat putri kita di penjara!" Andrea mengusap kembali air matanya, wanita itu mulai tidak terkontrol mengingat apa yang akan terjadi kepada putrinya. Ia menarik Sophia dari pelukan Malvin. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh putriku. Dia tidak bersalah, putriku tidak bersalah."


"Mom ...."


"Tidak Sayang, jangan mengatakan apapun. Aku tahu kau adalah anak yang baik, kau tidak mungkin mencelakai Pamanmu sendiri."


"Mom." Sophia mulai menangis di pelukan ibunya. Ini sama sekali di luar rencana. Dan bahkan dia sama sekali tidak melakukan kejahatan apapun.


"Bibi, tenanglah. Kami juga percaya Sophia tidak mungkin melakukannya tetapi..." Nada suara Elio mulai melemah. "Di pisau itu hanya ada sidik jari Sophia. Cctv di sana juga tidak berfungsi. Dan Justin sudah terlanjur menganggap itu benar, dia sudah ke kantor polisi untuk mengurusi semuanya," ujarnya dengan sangat pelan.


Malvin dan Andrea terkejut mendengar penjelasan Elio, begitupun dengan Marisa, Zigo dan Paris yang baru saja datang setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit.


"Apa yang kau katakan Elio." Marisa mendekati Elio menarik tubuh anaknya berdiri dan menatapnya dengan tajam. "Apa maksudmu tadi. Apa Justin di kantor polisi untuk melaporkan Sophia? Apa yang dipikirkan anak itu. Bagaimana bisa dia menganggap saudara perempuannya adalah penjahat." Marisa merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel miliknya. Segera ia menekan beberapa tombol dan memulai panggilan untuk Justin.


Semua yang ada di situ tampak panik dengan raut wajah tidak menentu menunggu panggilan tersambung.


"Bagaimana?" tanya Malvin sesaat setelah tidak ada jawaban dari panggilan Marisa.


"Dia tidak menjawabnya," Jawab Marisa. "Elio, Zigo, Malvin. Kalian harus ke kantor polisi. Katakan pada Justin jika ayahnya baik-baik saja. Cepat! Anak itu sangat keras kepala, dia selalu bertindak sesuai yang dia lihat. Jika dia menuntut Sophia ini akan buruk."


"Si," jawab Zigo.


"Sayang, bagaimana ini." Andrea tampak gelisah dan Malvin pun sama. "Tenanglah, kami akan mengurusnya." Malvin menoleh pada Elio. "Bawah Sophia ke kamarnya. Jaga dia."


"Si Paman."


Seteleh mengatakan itu, Malvi dan Zigo menyusul Justin ke kantor polisi sedangkan Elio membawa Sophia ke kamarnya untuk menenangkan saudaranya itu. Sedangkan Paris dan Andrea menuju rumah sakit untuk menemani Marisa. Kejadian ini benar-benar tiba-tiba dan membuat semua anggota keluarga terpukul. Terlebih Sophia. Gadis itu benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi. Semua kejadian yang begitu cepat membuat dia tidak sadar telah melukai semua orang.