
Justin terkapar lemas setelah selesai bicara dengan ibunya. Ternyata dugaannya selama ini benar, dia dan Sophia memiliki hubungan sejak lama. Lalu kenapa Sophia bertingkah seakan tidak mengenalnya, padahal bukan sekali ia bertanya kepada gadis itu. Bahkan hampir setiap hari ia menanyakan hal yang sama, yaitu apa mereka pernah kenal sebelumnya.
Bergegas, ia merapikan kembali pakaian yang ia kenakan dan langsung melangkah cepat ingin menemui Sophia dan bertanya langsung padanya.
"Sophia ayo angkatlah."
Justin terus menghubungi Sophia, tetapi panggilannya selalu di terabaikan. Gadis bermanik hitam pekat itu ternyata sedang sibuk mengemasi barang-barangnya untuk pindah ke apartemen yang baru.
Tidak sabar dengan panggilanya yang terus di abaikan, Justin menarik pedal gas mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi menuju apartemen Sophia. Alamat ia dapatkan dari salah satu pegawai yang kebetulan dekat dengan Sophia.
Sepanjang perjalanan Justin terus berdoa agar gadis itu ada di apartemannya, entah kenapa merasa ketakutan dengan perasaannya sendiri, dia takut jika Sophia sengaja tidak mengingatnya lagi sengaja melupakannya. Sekelebat kata-kata Sophia tentang pria yang ia cintai lewat di pikirannya. Sophia pernah mengatakan jika dia pernah sangat mencintai seseorang tetapi pria itu ternyata tidak mengingatnya.
Rasa bersalah menyelimuti Justin saat ini. Kejadian 10 tahun lalu membuat dia membenci Sophia, bahkan melupakan segalanya tentang gadis itu. Padahal dia sama sekali tidak bersalah, keegoisan dan rasa tidak rela membuat Justin menghancurkan kebahagiaan gadis itu. Dia bahkan membuat Sophia keluar daei rumah karena berselisih dengan paman Malvin.
"Agh..." Justin mendesah sambil memegang kepalanya yang sedikit terasa sakit. Ia memegang kendali mobilnya berusaha tetap fokus agar segera tiba di apartemen milik Sophia.
Baru saja sampai, Justin langsung melangkah panjang. Namun, belum lagi membunyikan bel, seorang satpam yang sedang berkeliling menghampirinya.
"Maaf apa ada yang ingin anda temui?" tanya satpam tersebut kepada Justin.
"Ah maaf. Aku ingin menemui orang yang tinggal di unit ini."
"Maksdumu Nona Sophia?"
"Si. Apa kau mengenal dia?" Justin menunjukan foto Sophia pada satpam tersebut agar tidak di kira berbohong.
"Tentu saja, dia adalah nona Sophia kami yang baik hati. Tetapi, dia baru saja pindah," jawab satpam itu dengan raut wajah sedih.
"Ya. Apa kau kerabatnya?"
"I-iya... Aku temannya." Justin ragu-ragu menjawab. "Kau tau kemana dia pindah?"
"Nona Sophia menempati apartemen milik keluarga Alexsander."
"Apartemen keluarga Alexander?"
"Tidak jauh dari sini Tuan, anda akan bertemu tugu berlambang cinta. Itu adalah tanda cinta sang pemilik untuk istrinya, tapi ingat kau harus lapor sebelum masuk ke sana. Itu karena Apartemen Alexander tidak boleh sembarangan menerima tamu. Hanya orang-orang penting saja hanv bisa tinggal di Sana."
Justin menjadi bingung dengan penjelasan satpam tersebut. Tetapi, jika benar ada lambang cinta, depan gerbang masuk, bukankah itu adalah Apartemen tempat Elio tinggal. Itu bersebelahan dengan Apartemen yang Justin tempati.
"Jadi Sophia pindah ke sana, kenapa dia tidak bilang apa-apa."
"Aku tidak tahu Tuan?" Satpam itu menjawab karena berfikir kalau Justin sedang berbicara dengannya.
Justin tersenyum kecil pada Satpam yang sudah membantunya itu. "Maaf, aku sedang berbicara sendiri."
"Oh begitu, ku pikir kau sedang bertanya padaku."
"Baiklah, sampai nanti. Terima kasih sudah membantuku."
"Sama-sama Tuan."