
Sophia mengalihkan tatapan dari pria yang ada di depannya. Detak jantungnya berdegup semakin kencang, saking kencangnya sampai ia takut jika Justin mungkin bisa mendengarnya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" sekali lagi Justin bertanya karena pertanyaannya belum di jawab oleh Sophia.
"Tidak, tidak pernah."
"Kau yakin Sophia?"
"Sangat yakin," jawab Sophia singkat.
"Tapi aku merasa seperti sangat dekat denganmu. Setiap kali aku berusaha mengingat masa lalu ku, wajah mu langsung terlintas."
"Masa lalu? Apa kau pernah mengalami hal yang tiba-tiba terlupakan?" Gadis bermanik hitam itu mencoba untuk memancing ingatan Justin lagi.
"Sepertinya."
"Apa kau mengingatnya," tanya Sophia dengan hati-hati. Jangan sampai ia mengingatnya tepat di saat kejadian itu. Jika tidak harapannya untuk berdamai dengan pria itu bisa langsung pupus.
"Aku hanya mengingat, ada seorang gadis yang menangis. Tapi wajahnya terlihat samar-samar, Namun, sepertinya dia mirip denganmu. ."
Sophia kembali terkejut dengan jawaban Justin. Namun, dia berusaha menormalkan wajahnya agar tidak terlihat sedang ketakutan.
"Mu--mungkin karena kita yang sering bertemu," ujar Sophia mengalihkan ingatan Justin agar menjauh dari kejadian naas itu.
"Maaf, tapi bisakah anda sedikit menjauh Tuan Justin? Aku merasa sedikit tidak nyaman."
"Tapi kau belum menjawab pertanyaanku."
"Aku takut ada yang salah paham dengan ini."
Dan benar saja, tiba-tiba ada suara yang mengejutkan kedua orang itu.
"Oh Astaga! Apa yang kalian lakukan" Elio memekik kaget melihat posisi Justin yang sangat dekat dengan Sophia. Pria itu seakan ingin mencium adik kesayangannya itu.
Kaget dengan suara itu, Sophia dengan cepat berdiri hingga otomatis menepis tubuh Justin hingga pria dengan postur tubuh kekar itu hampir tersungkur jatuh ke lantai.
Sophia mengerjabkan matanya saat melihat si pemilik suara itu.
"E-Elio? Ku pikir kau sudah pergi." Ia sangat kaget melihat saudara lelakinya itu masih berada di perusahaan. Padahal, sebelum kembali ke ruangannya, Elio sudah berpamitan untuk pergi.
"Tentu saja belum, aku masih ingin melihat mu Baby," ujar Elio dengan menampilkan senyum termanisnya hingga ketampanan yang ia miliki berkali lipat meningkat dari biasanya.
"Elio sialan," gumam Justin mendesiskan nama pria itu di dalam hati. Lalu dengan senyum termanisnya ia menyapa calon pewaris Dio dela morte itu.
"Apa kabar mu Tuan Elio."
"Aku sangat baik Tuan Justin. Ku harap hari mu juga baik," jawab Elio dengan begitu santai. Namun, dari tatapannya, ia sangat penasaran dengan adegan uang baru saja ia lihat.
Sebenarnya Elio sejak tadi sudah berada di situ. Saat di kantin tadi, ia tidak sengaja melihat Justin dengan wajah kesal berlalu keluar sambil mengumpat. Karena penasaran, ia berpamitan membohongi Sophia bahwa ia harus segera pergi. Lalu dengan buru-buru ia mengikuti Justin dan naik ke ruangan pria itu.
Elio melihat semuanya, bagaimana Justin marah-marah karena kedekatan-nya dengan Sophia hingga sophia yang tiba-tiba di pergoki oleh Justin hingga terjadinya adegan barusan.
Dia sudah janji bahwa hanya akan melihat dan sama sekali tidak mengganggu. Namun, saat mendengar percakapan Justin dan Sophia, pria itu tidak bisa menahan untuk keluar dan mengejutkan mereka. Bisa di bilang, ini adalah salah satu triknya untuk melihat bagaimana reaksi Justin saat melihat Sophia yang di dekati pria lain. Elio berharap, dengan cara ini sahabatnya itu bisa kembali mengingat tentang dia dan Sophia.