Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 9



Marisa ...." Andrea mendekati saudaranya, merentangkan tangn untuk memberi pelukan.


"Sudahlah. Aku tahu apa yang terjadi. Jangan menyalahkan dirimu dan juga Sophia. Ini murni kecelakaan. Gadis kecil itu tidak mungkin melakukan kejahatan kepada Pamannya sendiri." Marksa mencoba menenangan Andrea krena dia cukup tau jika saudara tirinya itu akan lebih terpukul di banding dirinya.


"Aku benar-benar minta maaf atas nama putriku," ujar Andrea dengan mata yang sudah berkaca. Ini benar-benar hari yang buruk untuknya.


Kedua saudara itu saling berpelukan, saling memberi kekuatan atas musibah yang baru saja terjadi. Sungguh, Marisa bahkan sama sekali tidak menyalahkan Sophia atas kejadian ini. Dia dan Demetrio sangat menyayangi Sophia layaknya anak sendiri, mustahil jika Sophia menjahati paman yang menyanyanginya. Namun, Justin. Keras kepalanya sedikiit membuat dia lepas kontrol ketika berhadapan dengan masalah seperti ini. Dia hanya akan percaya dengan apa yang dia lihat dan tidak akan mudah percaya dengan apa yang orang katakan.


Sementara itu di kantor polisi.


"Justin!" sapa Malvin lalu melangkah mendekati Justin di ikuti oleh Zigo. "Justin, paman ingin kau mencabut tuntutanmu terhadap Sophia, dia tidak bersalah."


"Tapi sidik jari itu miliknya Paman."


"Apa kau benar-benar melihat anak ku ingin membunuh Ayahmu?"


Justin terdiam, dia tidak bisa menjawab karena memang tidak melihat langsung kejadian yang menimpah ayahnya. Hanya sidik jari itu yang membuatnya yakin jika Sophia adalah pelaku penikaman itu. Cctv bahkan tidak berfungsi, orang-orang yang menjadi saksi juga tidak ada yang berani mengatakan apapun.


"Jangan gegabah Justin, jangan sampai kau menyesal," ujar Zigo membuka suara.


"Tapi paman."


Justin berbalik menatap Zigo. "Benarkah? Ayah sudah melewati masa kritisnya. Apa kau tidak berbohong Paman."


"Tentu saja tidak Justin, untuk apa aku berbohong. Pergilah, kami akan mengurus semuanya. Kau segeralah kembali. Ibumu membutuhknmu."


Wajah Justin seketika berubah. "Tidak Paman, aku akan mengurusnya sendiri."


"Tapi Justin Sophia bukan pelakunya," sanggah Zigo, meyakinkan keponakannya agar tidak melakukan hal-hal yang akan di sesalinya.


Namun , Justin mengabaikan ucapan kedua pamannya dan berlalu pergi meninggalkan mereka tanpa berkata apa-apa lagi. Dia sudah memutuskan untuk menyelidiki kasus ini. Ayahnya harus mendapatkan keadilan meskipun dengan cara memenjarakan Sophia sekalipun.


Zigo dan Malvin juga hanya bisa ebuang napas panjang karena sepertinya sagat susah meyakinkan Justin. Anak itu sungguh keras kepala sama seperti ayahnya. Jika dia sudah yakin dengan keputusannya maka tidak akan ada yang bisa membuatnya untuk merubahnya lagi. Percuma jika mereka terus memaksa, akan membuat keadaan semakin tidak baik.


"Biarlah, anak buahku sedang menyelidiki siapa pria yang menyerang mereka, kita tunggu saja perkembangannya. Jika Sophia terbukti tidak bersalah, dia pasti akan di bebaskan," ucap Malvin menahan langkah saudaranya agar tidak mengikuti Justin.


"Tapi Malvin, jika ini berlarut Sophia akan sangat tertekan. Ku lihat sendiri bukan, bagaimana keadaannya tadi. Anak itu benar-benar takut."


Malvin membuang napas berat dengan snyapu kasar rabutnya. Dia bahkan lebih takut jika anak gadisnya itu mengalami trauma berat karena kejadian ini. Namun, apa yang harus ia lakukan selain menunggu anak buahnya melakukan penyelidikan.


"Kita tunggu saja. Aku yakin semua akan baik-baik saja."