Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 48



Sophia menatap Justin yang masih terbaring tidak sadarkan diri, entah sudah berapa jam ia tertidur seperti itu.


"Ayo sadarlah Justin. Kenapa kau terus tidur. Bangunlah, jangan membuat ku takut."


Dengan wajah penuh kesedihan, kembali gadis bermanik hitam itu mengingat apa yang di katakan Elio tentang apa yang di sampaikan oleh dokter. Terngiang-ngiang di kepalanya tentang keracunan dan kehilangan nyawa. Tak sadar air mata gadis itu membasahi pipi mulusnya.


"Apa yang membuatmu menjadi seperti ini? Bukankah kita sudah saling memaafkan, lalu kenapa harus seperti ini." Sophia terus menangis, bertanya-tanya sendiri di depan tubuh yang masih tidak sadarkan diri itu.


Sekejap ia mengingat lagi hari-hari bahagianya dulu bersama Justin dan Elio. Ketiganya sering melakukan hal-hal konyol bersama-sama. Saling bercanda, menjaili satu sama lain, bahkan tak jarang jika ada yang bersedih ketiganya akan sama-sama bersedih.


Sophia ingat, saat ia bersedih karena tidak di ijinkan Daddy Malvin untuk ikut mendaki, Justin menghiburnya setiap hari. Bahkan saat itu ia memeluk dan menciumnya dengan keadaan yang tidak mandi berhari-hari. Bayangan itu membuat Sophia tertawa. Sejak kecil Sophia sangat menyukai Justin. Apapun yang di lakukan pria itu selalu membuat ia tersenyum-senyum sendiri. Bahkan sampai dengan sekarang, rasa sukanya pada Justin sama sekali tidak hilang. Namun, pria itu selalu dingin dengan semua wanita. Banyak yang patah hati kaeena di tolak oleh Justin. Dan ternyata iru karena dirinya.


"Ah.. Jika aku tahu dulu kau juga suka, harusnya dulu aku akui saja perasaan ku," sungut Sophia sambil tertawa geli.


Sophia mengelus lembut pada puncak kepala Justin, lalu dengan hati-hati mencium kening pria itu. Namun, sepertinya ciuman Sophia membuat Justin terbangun. Mata Sophia melebar. "Oh tidak. Bagaimana kalau Justin sadar dan tahu jika aku baru saja menciumnya."


Buru-buru Sophia mengambil tasnya dan berlari kecil hendak keluar. Namun, tak di sangka. Sebelum ia membuka pintu, seseorang dari luar sudah lebih duluh membukanya. Kaget, dengan itu membuat langkah kaki gadis bermanik hitam itu terhenti dan berdiri kaku menatap wanita dengan pakaian begitu rapi berdiri di hadapannya.


Mendengar nama Justin, Sophia langsung mengerutkan dahinya. "Apa kau datang untuk menjenguk Justin?


"Si. Namaku Roxy, aku tunangannya Justin."


Mata Sophia kembali membulat, mengetahui siapa orang di hadapannya membuat jantung sophia berdebar dua kali lebih kencang dari biasanya. "Jadi namanya adalah Roxy," gumam Sophia di dalam hati.


"Hei! Apa kau baik-baik saja?" tanya Roxy karena Sophia yang hanya terdiam menatapnya tanpa berkedip sama sekali.


"Ah.. Maaf. Aku hanya begitu terpanah dengan kecantik mu," ujar Sophia memberi alasan. "Aku Sophia, Asisten pribadi Tuan Justin."


Sophia dengan sedikit gugup menjulurkan tangan untuk berkenalan. Tetapi sepertinya Roxy tidak menginginkan perkenalan dari Sophia. Uluran tangan gadis itu tidak di sambut. Roxy tersenyum tipis lalu melangkah melewati Sophia begitu saja.


Dengan raut wajah datar, Sophia tersenyum di ujung bibirnya sambil menarik tangannya. Di luar dugaannya, ternyata kekasih Justin lebih tidak punya kepribadian yang baik.


"Apa itu sikap seorang dokter?" gumam Sophia di dalam hati. Sophia menyunggingkan senyum kebencian d ujung bibirnya, lalu tanpa menoleh lagi, gadis itu melangkah pergi dari kamar di mana Justin di rawat tanpa menutup pintunya.