
"Di mana kau?"
"Aku? Memangnya ada apa Tuan Justin, apa ada sesuatu yang kau butuhkan?"
"Kau tidak melihat jam?" Justin menatap jam di tangannya. "Kau sudah terlambat Sophia."
"Maaf, tapi ini akhir pekan. Apa semua pegawaimu bekerja di akhir pekan juga?" jawab Sophia dengan suara yang sedikit keras. Gadis itu sedang berada di luar dan di sekitarnya cukup bising, untuk itu dia berbicara dengan sedikit keras agar Justin bisa mendengarnya.
"Tidak ada akhir pekan bagiku, apalagi untuk kau yang menjadi sekretarisku. Semua waktumu adalah milikku."
" Dasar penindas!"
"Kau bilang sesuatu Sophia?
"Tidak. Tidak ada."
"Kalau begitu cepatlah. Aku menunggu mu di aparteman ku sekarang juga!"
"Jika kau terus menekan pegawaimu seperti ini, semua orang akan melakukan pengunduran diri."
"Jika kau merasa tertekan, maka lakukanlah pengunduran diri."
"Baiklah. Hari senin nanti, aku akan ke perusahaan untuk melakukan prosedur pengunduran diriku sebagai sekretaris proyek. Dengan begitu aku bisa kembali menjadi sekretaris Elio, dan bebas melakukan apapun tanpa tekanan."
Justin tampak terkejut. "Sophia, apa kau yakin mau mengundurkan diri?"
"Kau sudah mendengarnya sendiri tadi Tuan Justin? Harap jangan mengganggu waktu pribadi ku lagi."
Tiiit tiitt
"Hallo! Hallo! Sophia...!"
Justin mendesah berat. Sophia ternyata sudah memutuskan panggilannya. Pria itu berjalan pelan munuju sofa lalu membanting kasar pantatnya di sana. Saat kesalnya sedang memuncak, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tanpa melihat lagi ia langsung menjawab dengan cepat.
"Sophia kau..." ucapan pria itu terhenti saat mendengar suara pria di balik sambungan teleponnya.
"Ada apa?" Jawaban Justin menunjukkan jika ia kenal dengan sang pemilik suara.
"Dari nada suara mu, sepertinya kau sedang kesal."
"Ada apa lagi? Apa kau sedang di khianati oleh bawahan mu di sana?"
"Tahu dari mana kau, apa sekarang kau sudah menjadi seorang paranormal?"
Enrico tertawa saat mendengar dirinya di katakan paranormal oleh Justin. Enrico memang selalu begitu, dia terlihat cuek namun dia adalah pria humoris. Keduanya menjadi Sahabat dekat semenjak keluarga Justin pindah ke Prancis.
Jadi sudah sejak lama kedua pria itu tahu tentang kepribadian masing-masing. Selain menjadi sahabat, Enrico, juga adalah rekan kerja dalam 1 perusahaan. Pria asal Prancis itu adalah sekretaris pribadi Justin. Dia yang akan menggantikan posisi Justin di perusahaan selama ia tidak ada. Seperti sekarang ini, pria bermata abu-abu itu menggantikan Posisi Justin selama dia berada di Verona untuk proyeknya bersama dio dela morte.
"Apa orang itu adalah Sophia?"
Justin merubah posisinya dari duduk menjadi berdiri tegak. Raut wajahnya pun berubah menjadi serius, kali ini benar-benar serius. "Dari mana kau tahu namanya adalah Sophia?"
"Tentu saja, kau pikir siapa aku. Enrico Samuel, aku bahkan tahu kau menyetujui untuk bekerja sama dengan Dio dela morte karena wanita itu."
"Apa ibuku yang memberitahu mu?"
"Tidak."
"Lalu, dari mana kau tahu," tanya Justin semakin serius.
"Kau ingat! Saat kau mengikuti sesi terapi terakhir sebelum ke Verona, Roxy menanyakan kenapa kau tidak bisa benar-benar mencintainnya. Jawabanmu adalah karena ada seorang wanita yang sedang menunggu mu, namun kau tidak tahu keberadaannya. Kau menyebut 1 nama dan itu adalah Sophia. Saat kau mengirimkan foto perjalanan saat baru tiba di Verona, aku sedang bersama Tante Marisa. Ibumu mengenal wanita yg ada di samping mu dan menyebutkan namanya. Sophia, itu adalah nama sekretaris mu bukan."
Justin mengerutkan dahinya. "Tapi kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali.
"Mungkin karena kau sedang berada di alam bawa sadar mu."
"Jadi ibuku tahu siapa Sophia?"
"Tentang itu aku tidak tahu jelas, kau bisa bertanya langsung kepada tante marisa. Oh iya, aku hampir lupa. Ada yang i--"
Tuttt tuttt.
Nada sambungan terdengar. Justin buru-buru mematikan sambungannya untuk segera menghubungi ibunya. Justin memang sering menceritakan Sophia kepada ibunya, dan entah kenapa ibunya selalu bersemangat saat ia bercerita tentang wanita itu. Ternyata, mereka saling mengenal.
"Mesteri ini, semoga ada yang bisa memberitahukan kepadaku ada apa sebenarnya. Apa hubungannya amnesia ku dengan Sophia."