Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 47



"Sophia?" Elio yang baru saja menutup matanya mengerjab kaget menatap wajah adiknya.


"Dasar bodoh!" Sophia hendak memukuli Elio namun pria itu dengan cepat menahan tangan adiknya.


"Bukan aku yang salah, dia sendiri yang datang mengajak ku untuk minum," sela Elio dengan cepat.


"Dan kau mengiayakannya? Kau tahu apa akibat dari ini? Perusahaan Dio dela morte hampir kehilangan investor. Dan proyek kita nyaris di batalkan."


"A-apa?"


"Santai saja, kenapa kau terkejut. Bukankah itu yang kalian mau. Melihat perusahaan keluarga kita bangkrut,"


"Oh Baby sepertinya kau terlalu Emosi. Tidak ada yang menginginkan itu Sayang. Ini hanya insiden, kau dengar insiden."


"Da- uhmm..."


Perkataan Sophia terhenti karena Elio sudah membungkam mulutnya.


"Sudahlah, berhenti memarahiku. Lihatlah Justin, dia sedang tidak sadarkan diri. Sejak semalam dia terus tertidur seperti ini. Aku takut, jangan-jangan dia sudah mati."


Kedua mata Sophia memlototi saudaranya itu dengan sekali pukulan di kepalanya.


"Ough. Sakit!" keluh Elio sambil mengelus kepalanya yang baru saja di pukuli Sophia.


"Berapa banyak yang ia minum."


"Cukup banyak," jawab Elio dengan gaya yang di buat-buat agar terkesan Cool.


Sophia mengabaikan gaya saudaranya itu, menggelengkan kepala merasa aneh dengan kelakuannya.


"Apa yang di katakan oleh dokter. Apa ini berpengaruh dengan amnesianya waktu itu? Jangan sampai ketika sadar nanti, dia hilang ingatan lagi."


Shopia sudah cukup tersiksa beberapa tahun ini, karena Justin yang hilang ingatan membuat gadis itu mengira jika Justin benar-benar menganggap ia adalah pembunuh dan membencinya. Jika bukan karena proyek ini, dan keduanya tidak lagi saling bertemu, mungkin zekarang salah paham itu masih terus berlanjut.


Kedua kening Sophia berkerut. "Apa maksudmu?"


"Justin mengalami meracunan alkohol. Dan itu lebih berbahaya dari pada amnesia. Dokter mengatakan jika dia terus meneguk minuman keras dia bisa kehilangan nyawanya."


Sophia mulai gugup sesudah mendengar penjelasan Elio. Pikirannya mulai mengarah kesana, pada kalimat yang Elio katakan tadi. Gadis bermanik hitam itu melangkah maju untuk memeriksa jika pria yang sedang terbaring ini benar-benar masih hidup. "Thangs God!" gumam Sophia pelan. Kekhawatirannya pun langsung hilang.


"Apa Mommy Marisa tahu?"


Elio menggeleng kecil. "Hanya aku dan Agrio yang tahu, lalu si bodoh itu mengatakan semuanya kepada mu."


"Benar-benar kekompakan yang luar biasa."


"Bukan kekompakan Baby, tapi kerja sama tim. Hanya saja, boddyguard hello kitty mu itu memang tidak bisa menjaga rahasia. Huh... Apa aku harus menembaknya?"


Sophia memutar kedua bola matanya jengah. Ke tiga pria ini sungguh membuat kepalanya sakit. "Kembalilah ke kantor, kau harus menggantikan Justin. Banyak masalah yang terjadi hari ini."


"Baiklah Nona mafia. Brother mafia mu ini akan segera membereskan semua masalahmu."


"Oh God! Berhenti bertingkah aneh dan cepat pergilah."


Elio tertawa melihat wajah ketus saudara perempuannya. Jika sedang serius Sophia memang tidak suka di jaili olehnya. "Oh ya, jangan katakan ini pada siapapun, termasuk ayahku. Kau tahu siapa pamam mu itu kan."


Sophia menganggukan kepalanya lalu berkata. "Paman hanya tahu dia menghilang, tidak dengan keadaannya sekarang."


Elio menatap saudaranya dengan ekspresi tidak percaya. "Kau yang memberitahu Ayah?"


"Aku hanya tidak tahu harus menghubungi siapa tadi."


Elio mendesah dengan kasar. "Sepertinya aku harus bersiap untuk di bunuh."