Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 16



Pagi ini, entah angin segar apa yang merasuki Sophia. Ia mengunjungi beberapa jasa tempat penyediaan aparteman terbaik di Italia. Ia akan membeli sebuah apartemen, keberhasilannya kemarin menarik Justin bergabung bersama perusahan mereka mendapat apresiasi dari paman Zigo dan akhirnya menghadiainya sebuah apartemen mewah.


Ia boleh memilih di manapun ia suka. Sedikit kaget Elio sempat tidak percaya dengan keputusan Sophia menerima hadia itu. Karena biasanya ia selalu menolak apapun yang di berikan Ayahnya kalau bukan karena usahanya sendiri. Sepertinya kemunculan Justin membawa dampak baik umtuk saudara manisnya itu.


Sophia sangat antusias melihat beberapa unit aparteman, senyumnnya tidak berhenti mengembang sepanjang pagi ini. Namun, sentumnya terhenti ketika ponselnya berbunyi dan melihat nama yang muncul pada layar pinselnya. Dengan wajah bingung ia menekan tompol hijau dan terdengar suara yang sangat ia kenal.


"Hallo Nona Alexander."


"Iya! Hallo Tuan Ruiz."


"Apa kau tidak berniat untuk bekerja?"


Dahi gadis itu sedikit berkerut. "Apa maksudmu? Bukankah ini akhir pekan. Lagi pula, aku sedang cuti dan kau juga bukan atasanku. Lalu bagaimana bisa kau bertanya seperti itu padaku."


"Benarkah?"


"Yah tentu saja. Apa ada yang salah dengan ucapanku?"


"Sebaiknya kau hubungi Bos mu dan kemudian hubungi aku kembali."


"Tidak perlu, untuk apa aku menghubungi Elio sedangkan dia--" Nada suara Sophia tercegat seketika.


Tuut tutt ...


Nada panggilan terdengar dan Sophia belum menyelesaikan ucapannya. Ia mendengus kesal dengan mulut masih terbuka. Ia seperti tidak percaya jika seorang Justin bisa semenjengkelkan ini. Ia tahu Justin adalah pria yang sangat dingin. Namun, menutup telepon sebelum orang lain selesai itu sangatlah tidak sopan. Dan itu bukanlah kebiasaan Justin.


"Benar-benar pria yang sangat berbeda. Dia pikir siapa dia," gumam Sophia penuh kekesalan.


Sambil mengoceh, Sophia menekan panggilan yang di atasnya tertulis nama Elio. Entah apa yang sudah di lakukan pria gila itu hingga Justin bisa bertingkah aneh di pagi yang cerah ini.


"Hallo Elio." Sophia menyapa setelah nada panggilannya di terima.


"Hmm."


"Di mana kau?"


"Di mana lagi Baby, yah apartemenku," jawab Elio dengan suara khas bangun tidornya. "Ada apa, ini masih pagi dan kau sudah membangunkanku. Apa kau tidak tahu aku baru saja tertidur pukul 5 tadi."


"Aku sedikit mabuk dan tidak sadar jika sudah di sana."


"Dasar Pedovil"


"Hahahahaha."


Suara tawa itu terdengar begitu kerasa hingga Sophia menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga. Ia tahu Elio adalah maniak club malam. Tiada hari tanpa berada d tempat itu dan menghabiskan waktunya dengn wanita-wanita bayaran di sana. Bahkan ia bisa tertidur pulas di dalam club hingga pagi. Yah tentu saja bisa, karena pemiliknya adalah keluarganya. Dia bebas melakukan apa saja di tempat itu.


"Ada apa? Kenapa kau menelpon ku sepagi ini?" Elio memperbaiki posisi tubuhnya dan sedikit memijat di bagian jidatnya karena terasa pusing.


"Apa yang kau katakan pada Justin. Kenapa dia menghubungiku dan menyuruhku untuk ke kantor?"


"Oh astagah! Baby, maaf aku lupa memberitahu jika aku menugaskanmu sementara untuk menjadi asisten pribadinya justin."


"Apa?"


"Tenanglah, ini hanya sementara. Jika proyek kita selesai dan dia kembali ke prancis. Maka kau juga sudah bisa kembali menjadi asistenku."


"Apa kau sudah gila?" teriak Sophia kaget. Beberapa pengunjung bahkan sempat melirik kearahnya karena suara teriakan wanita itu sedikit kencang. Bahkan Elio di sana pun sedikit merasa pendengarannya akan di hancurkan oleh teriakan saudara perempuannya.


"Baby!"


"No Elio aku tidak mau. Proyek itu rentan pekerjaannya cukup lama. Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku tanpa bertanya terlebih dahulu padaku."


"Sophia, please! Jangan membuat semua orang menatapmu di situ karena ku terus meneriakiku. Tenanglah, dengarkan penjelasanku dulu." Seakan tahu amarah Sophia hampir memuncak pria penyuka dunia malam itu berbicara dengan sangat lembut mengambil hati saudaranya agar bisa tenang.


"No Elio. Keputusannku tetap tidak," ucapnya penuh penekanan. Kali ini, ia tidak akan mengikuti permainan Elio. Berat untuk tetap harus tenang di samping orang yang sangat dia sukai sementara orang itu sudah melupakannya.


"Kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini. Aku mohon jangan membuatku semakin tertekan." Sophia menatap sekeliling sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku takut Justin akan mengenaliku." Sophia tidak dapat menahan ketakutannya tangannya gemetar dengan wajah yang gugup.


"No Baby! ini tidak benar, kau berfikir terlalu jauh. Tenanglah. Its okey Baby."


Perempuan bermanik hitam itu menundukkan kepalanya, mentap jemari tangan kanannya. Membayangkan bagaimana tangan ini mencabut pisau pada tubuh pamananya.


"Elio! Kau akan tetap bersamaku bukan?"