Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 31



"Apa kalian bertengkar?"


Sophia menatap Elio dengan tajam. "Dari mana saja kau beberapa hari ini, kenapa kau tiba-tiba menghilang?"


"Ada beberapa pekerjaan di luar Verona yang harus segera di selesaikan. Memangnya kenapa? Kau merindukan ku?" Elio mengedipkan satu matanya untuk Sophia seperti sedang menggodanya. Dari ayahnya Elio tahu jika adik kesayangannya ini sedikit tertekan berada di dekat Justin. Untuk itu Elio mempercepat kepulangannya ke Verona agar bisa menghibur Sophia.


Sophia tertawa geli melihat kelakuan Elio. "Hentikan itu. Aku ingin muntah," ujar Sophia memecah tawa.


Elio merentangkan kedua tangannya. "Kemarilah. Biar ku peluk adik ku yang cantik ini."


"Aku tidak mau," gerutu Sophia. Dia memang sedikit marah kepada Elio karena meninggalkannya tanpa kabar.


"Maafkan aku." Elio menarik tubuh Sophia untuk di peluk. Namun, gadis itu menolak dan terus menghindar.


Elio yang sangat merindukan adiknya itu merasa aneh karena baru kali ini Sophia sama sekali tidak ingin di peluk. Padahal, biasanya wanita berambut panjang itu suka mengintil di sekitar tubuhnya hanya untuk di peluk.


"Apa kau dan Justin sudah..." Elio menjedah ucapannya lalu melanjutkan dengan gerakan kedua tangan sambil menepuk.


"Sudah apa?" tanya Sophia tidak mengerti.


"Dasar gila! Apa yang kau pikirkan huh? Sahabat menyebalkan mu itu, dia bukannya melakukan hal-hal yang bisa mengingatkannya tentang diriku, malah agresif karena kedekatanmu dengan ku."


"Kita?" Elio mengeryitkan dahinya. "Maksudmu Justin mengira kau dan aku adalah sepasang kekasih?"


Sophia mengangguk pelan.


"Dasar pria kuno." Elio tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Sophia. Dia tidak mengira kalau kelakuan Justin masih sama seperti dulu. Selalu cemburu dengan siapa pun yang dekat dengan Sophia. Namun, tidak berani menyatakan perasaannya kepada Sophia.


Elio tahu betul bagaimana perasaan Justin pada Sophia. Sejak dulu, pria itu sudah sangat menyukai Sophia. Namun selalu sungkan untuk mengatakannya. Justin takut jika Sophia tidak menyukainya dan hanya menganggapnya sebagai kakak. Elio yang jelas tahu bagaimana perasaan keduanya selalu memberi saran agar keduanya saling terbuka. Namun, keduanya saja yang terlalu bodoh. Selalu menghindar dan salah paham.


Pernah sekali, saat ketiganya berada di bangku Menengah, Elio memberi saran kepada Justin untuk menyatakan cintanya kepada Sophia. Pria itu melakukannya, ia menaruh bunga dan cokelat di atas meja untuk Sophia saat kelas sedang sunyi karena semua pelajar sedang mengikuti olahraga. Namun naasnya, dia di pergoki oleh sahabat dekat Sophia yang kebetulan cokelat dan bunga itu berada tepat di atas mejanya. Gadis belia itu berfikir Justin ingin memberikan itu padanya, dan terjadilah apa yang tidak di harapkan.


Sahabat Sophia pun sangat bahagia dengan kesalahpahaman itu karena siapa yang tidak menyukai Justin. Ia langsung memeluk Justin dan mengambil bunga dan coklat itu lalu berlari keluar dengan sumringah memamerkan kepada semua orang terutama Sophia.


Sophia yang melihat kejadian itu langsung syok. Gadis itu langsung tidak ingin lagi ke sekolah, bahkan sampai tidak ingin melihat Justin dan sahabat dekatnya itu.


Jika mengingatnya, Elio selalu tertawa tiada henti. Namun, meskipun sudah sejauh itu kisah mereka, Elio tetap tidak ingin memberitahu kepada keduanya jika mereka sama-sama saling menyukai. Karena saat itu, Justin adalah pria berengsek menurut versi Elio. Dia memiliki banyak wanita. Setiap hari, Justin selalu bergonta ganti pasangan. Kadang, dia malah sengaja agar Sophia melihatnya dengan wanita lain dengan tujuan agar Sophia cemburu. Itulah sebabnya Elio tetap tidak memberitahu, karena dia berfikir jika Justin benar-benar menyukai Sophia, harusnya ia hanya fokus pada Sophia bukam asik bergonta ganti pasangan. Dan lagi Elio juga tidak mau adik perempuannya tersakiti apalagi orang itu adalah Justin. Karena dia tahu betul, seberapa besar rasa suka Sophia pada sahabatnya itu.