Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 20



Sophia dan Justin tiba di kantor setelah sepanjang perjalanan Justin yang masih maluh merasa sesak hingga tak sepata katapun ia keluarkan tadi. Namun, tiba-tiba saj ia menemukan ide untuk memgerjai Sophia agar rasa malunya itu terbalaskan.


"Oh Tuhan! Sepertinya aku melupakan sesuatu." Justin melengkapinya dengan gerakan seperti mencari-cari sesuatu agar Sophia benar-benar percaya.


"Sesuatu? Apa?" Mata Sophia ikut mencari.


"Sepertinya aku lupa membawa pidatoku. Padahal aku sudah mempersiapkannya untuk rapat nanti."


"Lalu bagimana?"


Justin tersenyum miring? Di dalam hati ia bersorak karena Sophia memakan umpan darinya. "Bisakah kau kembali ke aparteman untuk mengambilnya. Aku benar-benar minta maaf untuk ini."


Sophoa terlihat sedikit gelisah. Ia memeriksa jam di tangannya, Sebentar lagi adalah rapat pemegang saham dan Justin harus berpidato. Namun, jika ia kembali ke aparteman sekarang akan terlmbat untuk kembali. Sekarang adalah jam macet, jam di orang-orang yang bekerja di kantoran sedang sibuk-subuknya berkendara di jalanan. Lalu bagimana bisa dia kembali tepat pada waktunya.


"Tapi butuh 1 jam perjalan untuk kembali. Jika macet maka harus lebih dari satu jam. Bolak balik akan memakan waktu 2 jam lebih hampir 3 jam."


"Tapi aku sangat membutuhkan pidatoku Nona Sophia."


Sophia kembali berfikir sejenak. Ia ia menolak maka Justin akan membuat maslh dengannya lagi. Ia adalah sekretaris pribadinya sudah seharusnya ia melakukan tugas ini. Maka dari itu dengn berat hati ia mengangguk. "Baiklah, aku akan kembali sebelum rapat di mulai."


"Terima kasih Nona Sophia. Aku minta maaf sudah merepotkanmu."


"Aku menunggumum," ujar Justin dengan senyum kemenangan yang merekah bagaikan bunga sakura.


Setelah mengatakan itu ia berlalu pergi meninggalkan Sophia dia emosinya yang hampir saja meluap. Senyuman kemenangn itu terus merekah sepanjang ia melangkah dari lobby menuju ruanganya.


Dan Sophia, gadis iru berlari dengn hils tingginya keluar mencari taxi untuk kembali ke aparteman Justin. Jika bukan karena dia adalah pimpinan dari proyek penting, jangan harap Sophia akan melakukan ini. Gadis itu berlari seperti orang panik apalagi sepagi ini semua kendaraan sedang sibuk, bahkan taxi pun sangat sudlsah ia dapatkan.


"Oh god! Cobaan apa ini, kenap tidak ada taxi uang lewat." Sophia melambaikan tangan pada taxi yang lalu lalang, mungkin saj ada yang kosong untuk ia tumpangi.


"Taxi!"


"Taxi!"


"Taxi...! Oh tuhan apa mereka tidak mendengarku berteria."


Akhirnya setelah begitu pasrah, ada taxi yang menghampirinya. Segera ia naik dan kembali ke aparteman. Sebentar lagi pukul 8.00 dan ia hrus segera kembali membawa pidato itu. Justin mengatakan jika ia menarunya di atas meja makan saat sarapan tadi. "Semoga ia tidak salah mengingat di mana ia menaruhnya. Karen jika tidak butuh waktu lagi untuk mencarinya dan pastinya akan terlmbat untukk kembali."


Sophia hampir menangis mengatakan itu, Supir taxi bahkan sampai terus menerus mencuri pandang di spionnya untuk melihat Sophia.


"Maaf, tapi bisakah ku abaikan aku yang panik ini dan lajukan saja kendaraanmu agar kita cepat sampai? Ini sangat darurat."