Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 38



Justin mengesap minumannya terus hingga tetes terakhir. Entah sudah berapa gelas yang ia minum, bahkan ia sampai tidak menyadari sudah berapa botol berjejer di atas meja bartender.


"Sejak kapan dia di sini?"


"Sejak tadi pagi Senor."


Elio tercengang melihat botol yang berjejer di atas meja bartender. "Sebanyak ini?"


"Si."


"Oh God!" Sang pemilik bar menarik napas berat. Pantas saja ia yang sedang sibuk membantu Sophia pindahan di suru untuk segerah datang ke bar, ternyata karena pria bodoh ini.


"Apa harus ku bangunkan Senor?"


"Siram dia!"


"Tapi senor?" Luke, si bartender berbadan kekar itu memekik bingung.


"Lakukan saja, dia tidak tahu kalau kau yang menyiramnya. Pria ini kalau sudah mabuk, dia bahkan lupa siapa dirinya," celetuk Elio sambil mengesap minuman yang di siapkan Luke padanya.


"Kau butuh bantuanku Senor." Agrio yang baru saja tiba langsung melapor kepada Anak dari saudara majikannya itu.


Elio melirik Agrio yang belum menyadari kehadiran Justin. Pria itu memang hanya di hubungi Elio untuk datang ke bar, dia tidak menyebutkan detail kenapa ia harus ke menyusul. Dengan gerakan kepala, Elio memberi kode kepada Agrio untuk melihat ke sampingnya.


"Senor Justin? Apa dia mabuk?"


"Hmm."


Pria yang menjadi ajudan pribadi Sophia itu menatap dengan ekspresi kaget luar biasa. Pasalnya, Jutin terkenal sangat jarang mabuk-mabukkan. Alasannya, seperti kata Elio tadi. Dia sering lupa dengan dirinya jika sudah mabuk. Untuk itu ia sangat menghindari minuman keras.


"Kita apakan dia, apa perlu lu hajar?"


Elio menaikkan pelipisnya. "Kau bilang apa?"


"Dia sudah menyakiti hati Senorita, ini adalah kesempatan untuk membalaskam dendam itu."


Agrio tidak menjawab, ia hanya tersenyum sambil mengharuk-garuk kepalanya yang jelas saja tidak gatal.


"Apa Shopia tahu kau kemari," perlahan ia menarik kembali gelas yang sudah isi kembali oleh Luke.


"No Senor."


"Apa kau bertemu dengan seseorang yang memakai masker tadi di lobi apartemen?" Elio kembali bertanya. Sempat, saat hendak masuk ke dalam mobil, seorang wanita masuk dengan lagak yang sedikit mencurigakan. Elio takut, jika mereka mengincar Sophia atau mungkin sedang dalam misi mencari tahu sesuatu.


"Tidak Senor. Apa kau melihat sesuatu yang mencurigakan? Ku mohon saat ini jangan. Senor Malvin akan membunuh ku jika terjadi sesuatu dengan Nona Sophia."


Sontak, nama Sophia langsung membuat pria yang sedang mabuk berat itu mengerjab.


"Sophia! Sophia!"


Agrio dan Elio sontak saling menatap.


"Justin! Hei! Apa kau mengenal ku?" tanya Elio menangkup wajah sahabat lamanya itu.


"El."


Elio menatap kaget. "Ka--Kau mengenalku?"


"Tentu saja Elio."


"Kau sudah ingat?" Elio menatap dengan kegirangan.


Justin pun mengangguk dengan mata yang hampir tidak bisa terbuka. "Kalian berdua membodohi ku. Kau dan Sophia. Oaaaaak." Justin mulai merasa mual. "Sophia, di mama kau menyembunyikan-nya," ujarnya dengan lemah. Meski mual membuat ia untuk berhenti berbicara, ia terus saja menyebutkan nama Sophia tanpa henti.


"Justin, kau mabuk berat. Sebaiknya kau ku antar pulang."


"No!" Tangan Justin bermain ke kiri dan kanan, tubuhnya pun juga ikut bermain mengikuti arah tangannya. Gerakan khas orang mabuk. "Aku tidak akan pulang, sebelum kau mengatakan di mana ke menyembunyikan Sophia."