Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 39



"Kau mabuk Justin. Ayo pulanglah."


"No! El, aku tidak ingin pulang."


"Tapi kau mabuk, tidak baik jika ada yang melihat mu."


"Aku tidak akan ke mana-mana, Aku akan menunggu Sophia di sini." Justin duduk di lantai dengan menyilangkan kedua kakinya seakan sedang protes kepada ibunya karena tidak mendapatkan makanan.


Elio menarik napas berat, merasa geram dengan tingkah Justin. "Selama apapun kau menunggunya di sini, Sophia tidak akan datang."


"Kalau begitu, aku akan terus menunggunya."


"Ayo berdirilah Justin, jangan seperti anak kecil. Apa kau tidak merasa malu? Lihatlah, orang-orang menatap ke arah kita."


Justin menggelengkan kepalanya, bersedekap memeluk erat tubuhnya sendiri. Efek minuman sudah membuat rasa malunya benar-benar hilang dan membuat dia bertingkah seperti anak kecil.


"Bangunlah Senor, ini sudah larut. Apa kau ingin tidur di sini?"


Justin melirik ke arah sumber suara, seketika wajah sumringahnya mengembang. "Sophia, kau di sini?" ujar Justin dengan wajah polos dan senyum yang mengembang memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.


Sontak Elio dan Agrio saling menatap.


"Sophia?"


Kedua pria itu menyebut nama Sophia secara bersama dengan wajah bingung. Agrio yang tersadar tangannya sedang di genggam erat oleh Justin langsung buru-buru melepaskannya dengan paksa. Justin dalam keadaan tidak sadar mengira Agrio adalah Sophia.


"Aiehh...!"


Agrio melepas paksa genggaman itu karena merasa geli. Pria yang kedua tangannya di penuhi oleh tato singa itu mengibaskan tangannya lalu menyeka kasar ke bagian bajunya seperti ingin menghapus jejak tangan Justin.


"Hei! Kenapa kau melepaskan tangan ku?"


"A-aku bukan Nona Sophia, Senor."


Elio yang tadinya serius menjadi tertawa terbahak-bahak melihat wajah polos Agrio yang sedang geli dengan Justin yang terus mepet padanya.


"Sophia..."


"Berhenti menertawakan ku Senor, tolong aku," ujarnya dengan wajah memohon.


"Sophia... Kenapa kau pergi? Apa kau membenci ku? Aku salah, aku tahu sudah salah." Justin menarik tubuh Agrio untuk di peluk, meski pria kekar itu sudah menolak bahkan hampir menendangnya. Namun, Jutin masih terus memaksa untuk memeluk.


"Senor! Sadarlah aku ini Agrio, aku pengawalnya Nona Sophia."


Elio menatap Justin yang terus menerus memelas belas kasihan Agrio yang dia anggap sophia, lalu berbalik menatap Agrio dengan tertawa keras.


Tawa Elio itu membuat Agrio meliriknya dengan kesal. "Bukannya membantu dia malah terus tertawa, aku bahkan belum pernah di sentuh wanita lain selain Senorita Sophia," gumam Agrio meringis di dalam hati.


Melihat Agrio yang sudah sangat tidak nyaman, Elio lalu membantunya untuk melepaskannya dari dekapan sahabatnya itu.


"Anak ini, apa yang sedang dia lakukan. Hei sadarlah, kau sangat buruk jika sudah mabuk." Elio menepuk-nepuk lengan Justin agar dekapannya di lepaskan.


"Terus saja menertawai ku Senor."


"Maaf, tapi ini terlihat sangat romantis," ujar Elio, masih dengan sisa tawanya.


"Jangan bercanda atau aku akan melaporkan kepada Nona Sophia, jika kau yang sudah membuat Senor Justin mabuk."


Bibir Elio mengulas senyuman tipis. "Kau pandai membalas dendam."


"Lebih baik kita segera membawa Senor Justin pulang."


"Yah, sepertinya dia sudah tak sadarkan diri."


"Oke, kalau begitu angkatlah."


Elio mengerutkan keningnya. "Aku?


"Ya tentu saja, memangnya siapa lagi?"


Elio melirik kiti dan kanan." Kau ingin mati?"