Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 26



"Silahkan duduk Tuan Justin," ujar Paman Zigo mengulurkan tangan memberi isyarat agar pria muda itu duduk.


"Terima kasih."


"Ngomong-ngomong, di mana sekertarismu. Bukankah Elio memberikan sekretaris andalannya untuk mu selama proyeknya berlangsung?" Paman Zigo memperhatikan sekeliling mencari-cari ponakan tersayangnya itu.


"Ah... Maksud anda Nona Sophia?"


"Si."


"Dia akan menyusul sebentar lagi setelah tugasnya selesai."


"Tugas?" Zigo mengerutkan kening dengan wajah yang bingung. "Tugas apa? Dia tidak merepotkan mu bukan?"


Justin tersenyum dengan tipis. "Sedikit."


Ketika Paman Zigo ingin bertanya lagi, tiba-tiba pintu terbuka dan Sophia muncul di sana.


Justin yang sedari tadi sudah berada di dalam ruangan itu hanya menghela napas panjang. "Kau terlambat kali ini Nona Sophia."


"Maaf membuat kalian lama menunggu," ujar Sophia dengan nada tidak enak hati karena datang terlambat padahal berkas yang harus di serahkan Justin ada pada dirinya. Ini semua karena dia harus membereskan makanan-makanan itu sebelum kemari. Sophia lalu sedikit membungkuk menghadap ke arah Pamannya memberi salam secara formal kepada Pamannya itu.


"Tidak masalah jika harus menunggu wanita secantik dirimu," ujar Zigo menggoda keponakannya itu.


Sophia tersipu dengan pujian yang di katakan oleh Pamannya itu. Pria tua yang masih terlihat tampan itu berhasil menghilangkan mood tidak baiknya hari ini.


"Selamat siang Pak direktur."


"Selamat siang sayang. Wajah mu sedikit terlihat lelah. Apa kau sudah makan siang?"


"Aku baru saja menyelesaikan makan siang ku pak," jawab Sophia masih dengan tersenyum malu.


Justin sedikit risih dengan kedua orang di hadapannya. Apalagi sapaan sayang dari paman Zigo. Pria yang memakai setelan jas navi itu mengerutkan kening menatap kedua orang yang sepertinya sudah sangat akrab. Terlihat dari bagaimana cara Paman Zigo menatap Sophia.


Menyadari tatapan Justin itu, Zigo langsung buru-buru mengklarifikasi. "Sophia adalah keponakanku Tuan Justin, untuk itu aku memanggilnya seperti tadi."


Zigo tersenyum simpul. "Sophia adalah teman dekat Elio putraku, jadi dia sudah ku anggap keponakanku sendiri Tuan Justin. Mungkin sedikit risih bagimu dengan panggilan ku tadi. Tapi sejak kecil aku terbiasa menggodanya seperti itu. Maaf jika anda sedikit tidak nyaman."


Sophia membuang napas legah saat Pamannya selesai menjelaskan. Padahal ia sudah sangat tegang saat Paman Zigo mengatakan jika dia adalah keponakannya. ia takut jika Justin tiba-tiba mengingat akan dirinya.


"Sejak kecil?"


"Si. Sophia dan Elio berteman sejak kecil, mereka berdua tumbuh dan besar bersama-sama."


Justin sedikit tidak fokus. Ia memikirkan kembali kata-kata paman Zigo barusan. "Jadi itu yang membuat mereka terlihat begitu akrab," gumamnya dengan pelan.


"Apa kau punya teman masa kecil Tuan Justin?"


Mata Sophia membulat saat kedua kalinya mendengar pertanyaan pamannya itu. Entah apa yang sedang di rencakana pria tua ini. Dari tadi, pamannya seperti memancing Justin.


"Paman..."


Sophia meneriaki pamannya dengan nada yang begitu pelan nyaris tidak terdengar. Ia berdiri menyilangkan tangan memberi isyarat agar pamannya berhenti menanyakan hal-hal aneh kepada Justin.


"Apa yang kau lakukan?"


Sophia kaget dan menghentikan gerakan itu, sedangkan paman Zigo mala cekikikan di sana.


"Ti-tidak. Aku hanya meregangkan otot tanganku."


Justin mengabaikan tingkah aneh Sophia, ia mengulurkan tangan seperti ingin meminta sesuatu dari wanita itu. "Berikan itu padaku."


Dengan sigap Sophia memberikan map berisikan rancangan dari proyek yang sedang mereka kerjakan kepada Justin. Pria itu lalu menyodorkan-nya kepada Paman Zigo agar bisa di periksa.


"Ini adalah rancangan proyeknya Tuan Zigo, anda bisa melihatnya lalu katakan apa yang mungkin kurang dari rancangan ini."


Zigo menerima laporan itu namun, fokusnya hanya pada keponakannya Sophia. Entah kenapa senyumannya tidak bisa menutupi rasa lelah di wajah gadis yang selalu ceria itu. Mungkin saja keponakannya pasti sedikit tertekan dengan menjadi sekretarisnya Justin. Yah, bekerja di dekat orang yang begitu kita rindukan namun orang tersebut tidak mengingat tentang kita memang sangat menyiksa. Zigo berharap, Justin bisa segera mengingat keponakannya itu.