Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 10



Marisa sangat senang karena Demetrio akhirnya sudah melewati masa kritisnya. Namun, ada sedikit rasa gelisah yang mengganggunya. Hari sudah semakin malam, dan Justin belum juga kembali. Terakhir dia menghubungi anaknya untuk membatalkan tuntutan atas Sophia saat Malvin dan Zigo mengatakan jika Justin tetap tidak ingin menariknya. Tetapi ini sudah sangat larut dan anak laki-lakinya belum juga kembali.


"Apa dia pergi menemui Sophia dan Elio?" Marisa tampak sangat khawatir. Dia takut jika Justin melakukan hal-hal di luar kendali dan menyakiti orang sekitarnya. Sikap kerasnya sama seperti Demetrio dia tidak akan mengalah untuk sesuatu yang dia yakini.


Sesaat ketika Marisa hendak menghubungi lagi Justin datang dengan keadaan mabuk. Anak lelakinya berteriak hingga membuat keributan dan membangunkan beberapa pasien juga membuat para pegawai rumah sakit yang berjaga sedikit kesal.


"Apa sebenarnya yang ada di dalam pikiranmu, kau kembali dengan keadaan mabuk sementara Ayahmu sedang terbaring lemah karena terluka, seharusnya kau mencari orang yang sudah melakukan ini bukan malah mabuk seperti ini Justin Ruiz." Marisa begitu marah sampai-sampai ia lupa jika harus tetap tenang dan tidak harus terpancing emosi.


"Mencari?" Justin tertawa di depan ibunya. "Aku sudah menemukannya, tapi kalian malah memaksaku untuk melepaskannya," teriak Justin dengan tegas.


"Apa yang kau bicarakan Justin, mana mungkin Sophia. Anak itu sangat menyayangi ayahmu, menyakiti Demetrio sama saja dia menyakiti Malvin. Mereka sudah bersahabat cukup lama. Sophia menganggap Ayahmu sama seperti ayah kandungnya sendiri."


Justin berdecak dengan tawa kecewa. "Apa karena sudah lama bersahabat maka kita harus mengabaikan pelakunya?"


"Justin!" Marisa meneriaki anak semata wayangnya. Kedua tangannya gemetar menahan amarah. "Sophia adalah keponakanku, dan juga anak dari sahabat Ayahmu. Apa begitu caramu memperlakukannya. Kau mengatakan dia pelaku seakan-akan dia sudah membunuh Ayahmu."


Plak


Marisa memberikan tamparan kepada Justin dan menghentikan kalimat pria itu.


"Kau benar-benar sudah tidak waras! Di mana semua ajaran yang kami berikan padamu, kau sama sekali tidak menghargai aku dan Ayahmu."


"Ibu! Ini hal yang berbeda. Ajaran kalian akan selalu aku ingat, tetapi Sophia. Mungkin saja dia sengaja merencanakan ini agar Paman tidak jadi memberikan hak atas perusahaan dan Dio dela morte kepada Ayah."


"Hentikan omong kosongmu itu ...!" Marisa menahan tangannya agar tidak kembali menampar Putranya. "Kau masih terlalu mudah untuk memikirkan hal seserius itu Justin, bahkan Sophia dan Elio pun tidak. Buang semua pikiran itu dari kepalamu. Paman Malvin dan Zigo akan mencari tahu tentang siapa yang sudah menyerang Ayahmu, selama itu masih di selidiki, kau tidak boleh melakukan apapun kepada Sophia. Lagi pula Ayahmu belum sadar, jika sudah maka dia akan mengatakan yang sebenarnya pada kita. Jangan sampai kau menyesal."


"Tapi ibu-"


"Hentikan Justin! Jangan membuatku Malu dengan ketidak warasanmu ini. Kau seharusnya memikirkan kuliahmu, bukan hal-hal semacam itu. Dio dela morte adalah kalimat tabu yang tidak boleh kau ucapkan sembarangan. Ingat! Jangan pernah mengatakan tentang itu lagi, di depan ibu atau siapapun."